entah bagaimana mengatakannya. aku bingung. aku kecewa, namun juga lega. entahlah. kecewa dengan kenyataan yang aku hadapi, namun lega karena semuanya jujur padaku, walau masih kelabu.
aku hanya terus bertanya tanya pada diriku sendiri. apakah ini benar? atau justru salah? bagaimana seharusnya aku bertindak?
entahlah, kepala ku benar benar berisik sekarang. aku ingin kembali ke rumah kakek dan nenek. Di sana, sepertinya aku selalu merasa tenang, merasa aman, tak pernah merasa khawatir.
apa harus aku kembali kesana? aku benar-benar merindukan suasananya
tapi, bagaimana dengan papi dan mami? bagaimana aku membicarakannya?
bagaimana dengan mas yang lain? apakah aku harus meninggalkan mereka lagi?
tapi kami masih bisa bertemu bukan? apa mereka akan kecewa padaku?
entahlah.....
aku benar-benar bingung, bimbang, tak tau harus bagaimana, tidak tau harus kemana. aku merasa sendiri, walau kenyataan aku tidak sendiri.
aku takut... benar-benar takut, bagaimana jika aku tersesat karena salah memilih.
aku takut semua kecewa padaku.
tapi aku tak bisa diam saja?
apa aku harus mengorbankan diriku sendiri?dan akhirnya merasa sedih dan kecewa, terus merasa bimbang, agar mereka tidak kecewa dan tersakiti.
"El?? " suara itu membuyarkan lemunan el.
"kamu kenapa? dari tadi mas perhatiin kamu bengong" tanya nya.
hah el lupa, saat ia berada di kamar seungcheol. membicarakan hal yang terjadi tadi siang, bagaimana ia bisa lupa.
"gak papa kok mas" ucapnya dengan senyuman tipis.
"yasudah kalo begitu"
"jadi, eumm mas minta tolong ya el. tolong jangan sebarin dulu hal tadi" pintanya
"tapi mas, bukannya lebih baik jujur? " tanya el
"mas juga mikir gitu kok dek, tapi mas rasa ini bukan waktu yang pas" ucapnya
"tapi mas, kalo semakin lama, apa gak semakin kecewa? el takut" ucapnya
"dek, jangan takut. mas akan cari waktu yang pas, biar gak ada yang kecewa"
"kecewa gak akan biaa dihindari mas, el cuman gak mau ngeliat mas sama abang yang lain kecewa sama mas seungcheol dan mami."
"kadang hal sepele aja bisa jadi masalah besar. apalagi ini mas" tegas el, entah keberanian dari mana ia bisa berkata begitu tegas di hadapan seungcheol.
seungcheol mendudukkan dirinya di pinggir kasur miliknya. menundukkan kepalanya.
"mas tau dek, mas pun kecewa sama diri mas sendiri. kenapa mas selalu nunda untuk kasih tau mereka? kenapa mas nurut banget sama mami" ucapnya. suaranya sudah mulai bergetar.
"mas, el tau kok mas pasti masih mendam banyak hal sendirian. walau el gak tau apa itu" ia sedikit terkekeh.
"mas bener-bener kecewa sama diri mas sendiri. kadang bertanya-tanya sama diri mas sendiri. mas udah jadi mas yang baik belum ya buat adek adek mas? mas udah memenuhi kebutuhan mereka belum ya? mas ngasih perhatian yang cukup gak ya buat mereka? " seungcheol memperhatikan langit-langit kamarnya sekarang. membayangkan dirinya, apakah ia benar-benar sudah melakukan semuanya dengan maksimal.
"mas kadang bertanya-tanya, mereka pernah kecewa atau bahkan menyesal gak ya punya abang kaya mas. mas juga takut el, takut sendirian, takut kalo semuanya ninggalin mas, lagi" ucapnya, ia menjeda kalimat terakhirnya.
"mas, gak ada yang bakal ninggalin mas, gak ada yang kecewa sama mas. mungkin abang yang lain pernah marah sama mas, tapi el rasa, gak ada yang menyesal karena punya mas sebagai abang mereka"
"el, mas gak mau kelihatan lemah di hadapan el dan adek mas yang lainnya" ucapnya
"mas, mas juga manusia. kenapa gak mau kelihatan lemah si hadapan yang lain? mas gak perlu selalu pura-pura kuat kok mas"
"kalo mas lemah, siapa yang bakal lindungin adek adek mas? mas lebih suka mereka bergantung sama mas, daripada mereka harus terluka diatas kaki mereka sendiri"
"mas rela kok, kalo harus mas yang nanggung sedihnya, kecewa, dan marahnya mereka, asal mereka terus bahagia, di samping mas, sama mas"
"bahkan saat masalah hoshi kemarin, mas juga sakit liatnya. mas juga mau lindungin hoshi, tapi... mas gak bisa ngelakuinnya. mas kecewa, kenapa harus hoshi, kenapa gak mas aja? kenapa-"
"mas, udah yaa, gak semua yang terjadi karena mas, gak semua masalah bisa mas tanggung sendirian"
"dek" seungcheol menatapnya dengan lirih.
el hanya mengangguk, ia tersenyum dengan manis. hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.
"el balik ke kamar el ya mas" ucapnya. ia beranjak dari duduknya
sebelum el sepenuhnya keluar darj kamar seungcheol, seungcheol kembali
"el, tolong jangan sembunyiin apapaun dari mas"
"iyaa mas, el akan cerita semuanya, semuanya sama mas" el segera keluar dari kamar seungcheol.
"kalo waktunya udah pas ya mas" gumamnya.
>>>>>>>>>>>>>
el merebahkan dirinya di atas kasur empuk miliknya. "laper, mau bikin mie kuah deh"
el selalu membuat mie kuah ketika kepalanya berisik. entahlah, ia hanya merasa lebih lega ketika ia menyeruput kuah mie sembari menonton film.
el berjalan, membuka laci tersembunyi miliknya. mengambil 1 bungkus mie kuah instan yang ada. "rasa apa yaa hari ini" ia tampak memilih rasa dari mie instan.
"dek! " suara yang sangat tiba-tiba itu membuat el panik. ia segera menutup lacinya.
"i-iya bang gyu, kenapa? "
"kok kamu panik sih" mingyu terkekeh saat melihat tingkah panik el.
"lagian abang tiba-tiba banget masuk, kan el kaget" ucapnya. ia sebisa mungkin tak membuat mingyu curiga.
"makan gak?"
"tidaaak! kenapa harus sekarang. kan aku lagi mau mie" batin el sedikit kecewa.
"iya bang, duluan aja. nanti el nyusul"
"tapi udah di tungguin mas cheol sama dino tuh" ucapnya yang enggan untuk keluar dari kamar el.
"iyaa abang mingyuuuuu, aku gak lama kok"
"yaudah, 5 menit. abang tunggu di depan pintu kamar kamu"
KAMU SEDANG MEMBACA
Seventeen // Brothers
FanfictionTau grup seventeen? Bayangin gimana kamu jadi adek perempuan satu-satunya diantara laki-laki yang sukanya bercanda gak masuk akal itu. Kehidupan penuh teka teki yang dirasakan leona di hidupnya bersama para abangnya yang gak ada warasnya.
