Chapter 2

83.2K 6.9K 234
                                        

Vote sebelum baca 🌟

Sepasang insan manusia itu menari begitu indahnya di tengah ruangan pesta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sepasang insan manusia itu menari begitu indahnya di tengah ruangan pesta.

Meski gelisah, Iris tetap berusaha menari sebaik mungkin agar tidak terlihat memalukan.

Nama baiknya dan Sylvia sedang menjadi taruhan. Andai kata dirinya salah gerakan, sudah pasti hinaan tertuju kepadanya dan Sylvia.

Orang-orang yang membenci Sylvia pasti akan memanfaatkannya untuk menjatuhkan Sylvia.

"Kenapa dari tadi kau enggan menatap mataku?"

Iris tersentak mendengar pertanyaan dingin pria di hadapannya.

"Apakah aku serendah itu sampai kau tidak sudi menatapku?" Bisik Dylan dengan nada rendah. Mampu membuat bulu kuduk Iris merinding.

Iris memberanikan dirinya menatap Dylan. Gadis berambut merah muda itu diam-diam menelan saliva kasar melihat tatapan mengintimidasi Dylan. "Maaf, Yang Mulia. Mana mungkin aku berani menatap pria terhormat seperti Yang Mulia."

Dylan tersenyum miring. "Ku pikir kau tidak sudi berdansa denganku karena aku anak haram kaisar, layaknya gadis bangsawan lain," ujarnya terdengar sarkas.

"Bukankah seharusnya Yang Mulia lah yang tidak sudi berdansa denganku? Aku hanya seorang bangsawan jatuh. Aku tidak punya apapun selain gelar." Kekeh Iris.

Dylan mengangkat tangan kanannya sedangkan Iris berputar. "Aku bisa memberimu apapun yang kau inginkan jika kau menjadi orangku."

"Maaf, Yang Mulia. Aku dayang Nona Sylvia dan selamanya akan begitu. Aku tidak bisa bekerja di bawah Yang Mulia." Jawab Iris sepolos mungkin.

Dylan merengkuh pinggang Iris seraya tersenyum manis. "Bukan sebagai bawahanku tapi sebagai istriku."

Iris melongo kaget. Bukankah ini baru pertemuan pertama mereka?

Kenapa Dylan melamarnya di pertemuan pertama?

Bukankah di dalam novel, Dylan berpura-pura menerima cinta Sylvia dan memanfaatkan Sylvia sampai tujuannya menjadi seorang kaisar tercapai?

Oh tidak! Apakah target Dylan sudah berubah? Apakah Dylan menjadikannya salah satu pion balas dendam?

Ini tidak bisa dibiarkan! Iris tidak akan masuk ke dalam jebakan Dylan.

Ayolah! Iris ingin hidup tenang di kehidupan keduanya, bukannya malah dipusingkan oleh perebutan tahta.

Sebenarnya Iris tidak peduli apa yang dilakukan Dylan. Berperang, memberontak, merebut tahta, maupun membunuh. Lakukan saja! Iris tidak akan ikut campur. Asalkan jangan menganggu kehidupannya dan kehidupan Sylvia.

"Maaf, Yang Mulia. Posisi istri Grand Duke terlalu tinggi bagiku. Lagipula Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri pasti menentangnya." Ungkap Iris sok khawatir. Padahal bukan itu alasannya menolak.

"Menentangnya?" Dylan tertawa geli. "Mana mungkin mereka menentangnya. Mereka pasti akan mendukung pernikahan ini karena dari dulu, mereka sangat takut aku menjadi penganggu bagi pangeran mahkota."

Ah, Iris lupa kenyataan Kaisar dan permaisuri mewaspadai Dylan. Taktik berperang, kemampuan berpedang, dan kecerdasan Dylan mampu membuat kaisar dan permaisuri khawatir.

Mereka memberi Dylan posisi Grand Duke supaya Dylan tidak menuntut posisi pewaris.

"Ah, Nonaku sudah berhenti berdansa. Aku harus segera menghampiri Nona. Terima kasih atas ajakan dansanya, Yang Mulia." Iris buru-buru kabur melihat ada kesempatan melarikan diri sedangkan Dylan tersenyum miring melihat kepergiannya. Entah apa yang terpikirkan di otak licik pria tersebut.

"Siapa pria yang berdansa denganmu, Iris?" Tanya Sylvia penasaran. Bola mata birunya tampak berbinar sehingga Iris was-was seketika.

"Beliau Grand Duke Dylan." Iris berbisik di telinga Sylvia. "Aku menyukainya." Imbuhnya pelan. Mengatakan perasaannya lebih dulu supaya Sylvia menyerah.

Sorot mata Sylvia meredup. Bibir tipisnya menyunggingkan senyuman paksa. Terlihat jelas sedang bersedih mendengar ucapan Iris.

Rupanya Sylvia tetap jatuh hati ke Dylan di pandangan pertama, baik di dalam novel maupun di kehidupan sekarang.

Di dalam novel, Sylvia selalu mengejar-ngejar Dylan.

Sylvia tidak pernah menyerah memperjuangkan perasaannya meskipun Dylan selalu dingin dan kasar kepadanya.

Di saat Sylvia hampir menyerah, Dylan mulai menerima kehadiran Sylvia. Dylan mulai memperlakukan Sylvia dengan manis dan lembut sehingga Sylvia merasa menjadi gadis paling bahagia di dunia.

Sayangnya, Dylan hanya memanfaatkannya. Dylan memanfaatkan Keluarga Duke Enfield untuk melakukan sebuah pemberontakan.

Lalu, di akhir kisah Dylan menjadikan mereka kambing hitam sehingga semua anggota keluarga Enfield dihukum mati atas pemberontakan yang tidak pernah mereka lakukan.

'Sylvia ku yang malang. Kau tidak boleh mencintainya karena dia sangat manipulatif. Sebagai pembaca saja aku sempat tertipu dan percaya bahwa dia benar-benar mencintaimu.' bisik batin Iris.

"Ini adalah pertama kalinya aku menyukai seorang pria. Kau pasti akan mendukungku 'kan, Vi?" Iris mengenggam tangan Sylvia ceria sedangkan Sylvia tak kuasa menolaknya.

"Iya. Aku pasti akan mendukungmu." Jawabnya tulus karena bagi Sylvia, Iris sangatlah berharga di dalam hidupnya. Sylvia ingin Iris hidup bahagia meski itu berarti cinta pertamanya lenyap begitu saja tanpa sempat berjuang.

"Terima kasih, Vi. Aku menyayangimu." Jerit Iris tertahan sambil memeluk manja lengan Sylvia sehingga gadis itu tertawa geli.

"Aku juga menyayangimu, Iris."

'Sial! Aku memasang jebakan untuk diriku sendiri. Tapi-- ah, sudahlah. Lagipula hanya ini yang bisa ku lakukan untuk menjauhkanmu darinya.' Renggut Iris dalam hati.

' Renggut Iris dalam hati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

26/8/23

Makin banyak komen, makin cepat updatee😎

firza532

The Tyrant's WifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang