Chapter 7

64.1K 6K 413
                                        

Vote sebelum baca 🌟

Iris mengepang rambut pirang Sylvia dengan pikiran bercabang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Iris mengepang rambut pirang Sylvia dengan pikiran bercabang.

Pikirannya tertuju ke kejadian aneh di pagi hari ini. Dimana ratusan bunga mawar berwarna pink memenuhi isi kamarnya. Tanpa pengirim dan surat pengenal.

Para pekerja di sekitarnya juga tidak tahu menahu tentang hal tersebut saat ditanyai.

Sebenarnya Iris mencurigai seseorang sebagai pelakunya. Siapa lagi kalau bukan Dylan.

Pria aneh yang mengaku mencintainya dan mengajaknya menikah di pertemuan pertama.

Hanya pria itu lah yang berusaha mendekatinya dan menyatakan suka secara blak-blakan.

Akan tetapi, bagaimana cara Dylan memindahkan ratusan bunga mawar ke dalam kamarnya?

Apakah pria itu menyusup masuk ke dalam kamarnya di malam hari?

Tubuh Iris bergidik ngeri membayangkan hal tersebut.

Jangan bilang selama ini Dylan sering menyusup ke dalam kamarnya?!

"Iris. Kau terlihat memikirkan sesuatu. Apa yang kau pikirkan?"

Iris membalas tatapan Sylvia lewat pantulan cermin. Gadis itu tersenyum kecil. "Aku berpikir kenapa kau sangat cantik dan imut. Apa rahasianya, Vi? Maukah kau memberitahukannya kepadaku?"

Sylvia terkikik geli mendengar godaan Iris. "Tanpa aku beritahu pun, kau sudah cantik dan imut, Iris. Kau bahkan lebih cantik dan imut daripada diriku. Di saat bersamaan kau juga terlihat sangat sexy." Ia melirik tubuh bagian atas Iris, lalu melirik tubuhnya sendiri dan menghela nafas sedih. "Aku bahkan sangat iri melihat dada besarmu. Lihatlah punyaku. Datar." Rengeknya sambil menutupi tubuh bagian atasnya.

Iris tersenyum miring. "Mau ku beritahu cara membesarkannya?" Bisiknya tepat di telinga Sylvia.

"Bagaimana caranya?" Sahut Sylvia antusias.

"Setelah menikah, suruh Yang Mulia Putra Mahkota meremasnya setiap hari."

Wajah Sylvia merah padam. "IRIS NAKAL!!!" jeritnya malu sedangkan Iris tertawa puas.

****

Gadis cantik itu celingak celinguk ke sana ke mari. Kebingungan mencari tempat pesta diadakan.

Tadi, dia izin sebentar ke kamar mandi bermodalkan bertanya ke para pelayan di istana tapi sekarang dia sudah lupa jalan kembali ke tempat pesta. Di sekitarnya juga tidak ada orang lain yang bisa ditanyai.

Iris memijit pangkal hidungnya kesal. Merutuki ingatan buruknya. "Baik di kehidupan sebelumnya, maupun di kehidupan sekarang. Kenapa sangat sulit menghafal jalan bagiku?" Keluhnya.

Iris bukanlah gadis jenius yang bisa mengingat semua hal dengan mudah.

Di kehidupan sebelumnya pun, otaknya juga biasa-biasa saja.

Saking biasanya, Iris kesulitan dalam membuat skripsi karena salah mengambil judul. Ia mengambil judul yang tidak dipahaminya karena ikut-ikutan teman. Alhasil, dia susah tidur, gelisah, takut, susah makan, dan depresi. Berakhir sakit-sakitan dan meninggal dunia.

Mengerikan! Untung saja di dunia ini ia tidak menjadi siswa lagi. Dia bisa terbebas dari pelajaran nan memusingkan.

"Huh, kenapa tuhan tidak memberiku otak jenius setelah terlahir kembali?" Protesnya pelan.

Iris melanjutkan jalannya. Mengikuti instingnya saja. Namun, lama kelamaan dia pun lelah menyusuri bangunan istana yang sangat luas.

Iris berhenti di bawah sebuah pohon dan menyandarkan kepalanya ke batang pohon.

Jantungnya berdegup kencang seketika melihat Dylan muncul secara mendadak di hadapannya.

"Kita bertemu lagi."

Senyuman ramah dan ceria Dylan membuat Iris menelan saliva kasar.

'kenapa dia selalu muncul di dekatku? Apakah dia mengirim mata-mata untuk mengawasiku?' pikirnya.

"Apa yang kau lakukan di sini, Iris?"

Dylan duduk di samping Iris tanpa meminta persetujuan gadis itu.

"Menemani Sylvia, Yang Mulia."

Dylan menyisipkan rambut Iris ke belakang telinga. "Lalu, kenapa kau tidak berada di ruang pesta? Mereka mengusirmu?" Nada bicaranya terdengar sedikit mengancam. Seolah siap menghancurkan siapapun yang menyakiti Iris.

"Tidak, Yang Mulia."

Dylan menatap Iris penuh selidik, membuat Iris tersenyum canggung.

"Oh iya, Yang Mulia. Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Tanya Iris mengalihkan pembicaraan.

Dylan mengangguk.

"Bukannya aku terlalu percaya diri tapi ... Apakah Yang Mulia pengirim bunga mawar di dalam kamarku?"

Dylan menyengir manis. "Iya." Jawabnya tanpa beban sedangkan Iris ketar-ketir tak karuan.

"Kapan Yang Mulia mengirim bunga kepadaku? Kenapa aku tidak melihat Yang Mulia?" Tandasnya penasaran.

"Aku mengirimnya di subuh hari. Tepat setelah memetik seluruh bunga itu. Maaf, aku tidak membangunkanmu karena kau terlihat sangat mengantuk."

Iris terdiam seribu bahasa mendengar kegilaan Dylan secara langsung.

Mana ada pria yang menyusup masuk ke dalam kamar seorang gadis dan menceritakannya tanpa merasa bersalah sedikitpun.

'DASAR DYLAN GILA!' jerit Iris dalam hati.

'DASAR DYLAN GILA!' jerit Iris dalam hati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

27 Agustus 2023

firza532

The Tyrant's WifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang