Chapter 12

62.5K 5.9K 235
                                        

Vote sebelum baca 🌟

Berada di dekat Dylan selalu berhasil membuatnya mati kutu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Berada di dekat Dylan selalu berhasil membuatnya mati kutu. Keberaniannya menjadi ciut entah kemana. Padahal Iris bukanlah gadis penakut di kehidupan sebelumnya.

Iris selalu berani melawan orang lain. Selalu berani membela dirinya sendiri. Selalu berani mempertahankan pendapatnya. Selalu berani mendapatkan keinginannya.

Namun, itu semua tidak ada artinya di hadapan Dylan karena pria tersebut terlampau menakutkan, sulit ditebak, dan mengerikan.

Gadis cantik itu takut salah langkah hingga berakhir mengenaskan di tangan Dylan.

"Santai saja. Aku tidak akan melakukan apapun kepadamu."

Iris berdehem pelan mendengar kekehan Dylan. Berusaha menghilangkan rasa takut dan gugupnya. "Sampai kapan Yang Mulia akan memelukku?"

"Sampai aku puas."

Jawaban menyebalkan Dylan memunculkan delikan sinis Iris. Lalu, berusaha melepaskan diri dari pelukan Dylan.

Usaha yang percuma saja karena Dylan memeluknya begitu erat.

"Ayolah. Lepaskan aku, Yang Mulia."

Dylan tertawa kecil mendengar nada merajuk Iris. "Balas pelukanku dan aku akan melepaskanmu." Godanya sedangkan Iris membalas pelukan Dylan tanpa ragu.

"Sudah, Yang Mulia."

Dylan terbahak mendapati tingkah polos Iris. Ia pun melepaskan pelukannya sesuai ucapannya sedangkan Iris segera menjauh.

"Yang Mulia menyebalkan. Tidak hanya menyusup masuk ke sini tapi juga mengirim pesan dengan anak panah. Apakah Yang Mulia tahu? Aku bisa saja mati jika terkena anak panah." Protes Iris lantaran terlampau geram mengingat semua tindakan impulsif pria itu.

"Aku? Memanahmu?" Tanya Dylan tercengang.

"Iya!" Balas Iris ngegas.

"Aku tidak pernah menyuruh bawahanku memberikan pesan menggunakan cara jahat seperti itu. Aku hanya menyuruhnya memberikan pesan itu kepadamu secara langsung."

"Jadi, bukan Yang Mulia pelakunya?"

"Bukan. Mana mungkin aku tega melakukannya." Jawab Dylan lembut seraya mengelus kepala Iris. "Kau tidak terluka 'kan?" Imbuhnya memastikan.

"Untungnya tidak."

Dylan menggeram pelan memikirkan kemungkinan Iris bisa saja terluka akibat perbuatan bawahannya. "Aku pasti akan menjatuhkannya hukuman berat karena membuat nyawamu terancam." Seringainya mengerikan.

"Jangan. Mungkin Yang Mulia kurang lengkap memberi perintah kepadanya. Makanya dia bisa salah paham." Cegah Iris.

"Tapi ... Perbuatannya hampir menyakitimu."

"Bukankah intinya aku baik-baik saja sekarang?" Tandas Iris.

Dylan menghela nafas panjang. "Baiklah. Aku akan mengampuninya karena kau sangat membelanya."

Di mulutnya saja mengucapkan demikian, padahal aslinya Dylan berniat membunuh bawahannya akibat cemburu melihat Iris mengkhawatirkan dan melindungi pria lain. Ia tidak suka Iris menaruh perhatian kepada pria lain!

"Ah, kenapa Yang Mulia datang ke sini?" Tanya Iris mengalihkan pembicaraan.

Dylan mendekatkan wajahnya hingga Iris refleks menjauh. "Karena aku merindukanmu." Tuturnya seraya mengamati ekspresi terkejut Iris.

"Yang Mulia lucu. Kita baru bertemu kemarin, tapi kenapa Yang Mulia sudah merindukanku?" Kikiknya geli.

"Jawabannya sederhana. Kau adalah gadis yang sangat spesial bagiku." Suara Dylan terdengar begitu lembut, sungguh-sungguh, dan menyentuh hati siapapun pendengarnya.

Andaikan saja pria lain yang mengucapkan kata manis itu ke Iris, gadis itu pasti langsung baper dan salah tingkah.

Sayang sekali, Dylan yang mengucapkan kata manis itu. Jadi, Iris tidak akan mempercayainya.

Sampai detik ini, Iris masih belum mempercayai ucapan Dylan. Menurutnya sangat mustahil Dylan jatuh cinta kepadanya di saat Dylan belum mendapatkan tahta kaisar.

Gadis cantik itu sedikit was-was kala Dylan merogoh saku celananya. Siapa tahu pria itu mengambil senjata untuk mengancamnya.

"Aku membeli kalung ini karena teringat warna rambutmu. Kau menyukainya, 'kan?" Dylan menunjukkan kalung permata berwarna pink dari sakunya ke Iris. Terlihat sangat antusias hingga Iris merasa bersalah telah berpikiran buruk.

"Ya. Aku menyukainya, Yang Mulia."

Dylan mengusap tengkuknya canggung. "Maafkan aku karena membawanya tanpa kotak. Aku begitu buru-buru datang ke sini."

Iris tertawa geli melihat sisi manis Dylan.

"Tidak perlu meminta maaf, Yang Mulia."

Dylan menyengir. "Bolehkah aku mengalungkannya di lehermu?"

Iris sontak menggeleng.

"Kenapa?" Raut wajah Dylan menggelap hingga Iris meringis takut.

"Mustahil seorang dayang sepertiku memakai barang berharga pemberian Yang Mulia. Aku akan menyimpannya di kotak hartaku dan menjaganya sepenuh hati supaya tidak tergores sedikitpun."

"Aku memberikannya kepadamu untuk dipakai, bukan untuk dikoleksi." Bantah Dylan.

"Kalau begitu, aku tidak bisa menerimanya, Yang Mulia. Aku tidak berani memakainya."

"Pakailah atau aku akan marah." Ancam Dylan begitu mengintimidasi sehingga Iris tidak punya pilihan selain menuruti perintah Dylan.

Pria itu memasangkan kalung ke leher Iris dan tersenyum puas setelahnya. "Sudah ku duga. Kau terlihat sangat cantik saat memakainya."

Iris melongo kaget kala Dylan memeluk pinggangnya lalu mencium lehernya begitu saja. 'Wtf?!' umpat batinnya.

 'Wtf?!' umpat batinnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

29/8/23

Btw ges, ada yang ngambil jurusan Bahasa Indonesia dan sedang PL di SMA?

Atau ada yang sedang PL semester ini?

Kalau ada, sharing yok🤩

Gimana perasaan kalian pas PL? Capek gak sih? Kerepotan menghadapi tingkah anak murid gak sih? Merasa jadi guru itu rumit gak sih?🥺

Sesekali curhat Gpp lah ya xixi

firza532

The Tyrant's WifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang