Chapter 20

51K 4.6K 360
                                        

Vote sebelum baca 🌟

Frederick telah berpikir panjang selama beberapa Minggu belakangan ini bagaimana cara menghadapi perasaannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Frederick telah berpikir panjang selama beberapa Minggu belakangan ini bagaimana cara menghadapi perasaannya. Tentang memperjuangkan perasaannya atau tetap diam seperti biasa. Dan, Frederick menguatkan tekadnya untuk mengambil keputusan berjuang.

Frederick tidak sanggup membayangkan hidup tanpa Iris. Frederick tidak sanggup membayangkan Iris bersama pria lain. Frederick tidak sanggup membayangkan Iris menikah dengan Dylan.

Selama ini, dia diam saja karena berpikir Iris akan selalu berada di kediamannya sampai Sylvia menikah. Namun, siapa sangka ada variabel tak diinginkan dalam prosesnya. Kemunculan Dylan.

Frederick tidak pernah menyangka ada pria lain yang juga menaruh perasaan terhadap Iris. Bahkan mengejar Iris secara terang-terangan serta merampas banyak waktu Iris. Mungkin selama ini dirinya terlalu percaya diri Iris tetap akan sendiri. Mungkin dia begitu santai karena Iris tidak pernah keluar dari kediaman sehingga tak memiliki kesempatan bertemu pria lain.

Frederick terkesiap melihat gadis penganggu pikirannya. Muncul dari arah berlawanan sambil membawa setumpuk buku. Lantas, ia pun segera mendekat melihat ada kesempatan berduaan dengan gadis pencuri hatinya tersebut.

"Ah, tuan. Selamat siang, tuan." Sapa Iris sopan melihat kemunculan Frederick di depannya.

"Siang, Iris." Frederick berdehem pelan. "Buku apa yang kau bawa?"

"Buku yang harus dipelajari Nona Sylvia, tuan."

Frederick mengambil alih semua buku di tangan Iris tanpa basa basi, mengejutkan gadis cantik itu. "Ke mana buku ini harus di antar? Kamar Sylvia?"

"Iya, tuan." Sahut Iris setengah bingung.

Frederick mengangguk mengerti dan berjalan lebih dulu. Tentu saja Iris langsung mengejarnya. "Aku bisa membawanya sendiri, tuan. Jadi, tolong berikan kepadaku, tuan."

Frederick menatap Iris dengan tatapan menilai. "Tangan kecilmu membawa semua buku ini? Kau tidak takut tanganmu patah?"

Iris tercengang. "Aku tidak selemah itu, tuan."

Frederick tertawa kecil melihat ekspresi protes Iris. Terlihat sangat menggemaskan di matanya.

"Aku tahu, tapi aku tetap ingin membantumu."

Iris mengerjap polos. "Kenapa tuan mendadak baik kepadaku? Bukankah selama ini tuan selalu cuek terhadapku?" Ceplosnya dan buru-buru menutup mulutnya kala sadar kata itu terucap dari mulutnya.

Frederick menghela nafas panjang. "Karena aku ingin mendapatkan hatimu, Iris." Sahutnya terus terang. Mengejutkan Iris.

Gadis cantik itu sama sekali tak pernah memikirkan kemungkinan Frederick menyukainya karena pria tersebut selalu bersikap dingin dan cuek kepadanya.

"Sejujurnya aku mencintaimu. Sejak pertama kali bertemu hingga detik ini. Maaf, aku tidak bisa mengekspresikan perasaanku dengan baik karena ini pertama kalinya untukku." Ungkap Frederick pelan.

The Tyrant's WifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang