Skripsi. Alasan Levia meninggal dunia. Alasan menyedihkan sekaligus paling konyol disepanjang sejarah.
Lebih menyedihkannya lagi, jiwa Levia masuk ke dalam novel sebagai Iris. Tokoh utama wanita tersembunyi di dalam novel. Wanita yang sebenarnya sa...
Puas melampiaskan amarahnya dengan mengumpat, Iris berusaha menata perasaannya lagi. Meskipun dirinya kesal dan marah, pekerjaannya tetap menantinya di depan mata.
Dia harus membangunkan Sylvia dan membantu Sylvia bersiap-siap. Terlebih lagi, Sylvia memiliki agenda penting hari ini, yaitu bertemu pangeran mahkota di istana.
Sebenarnya Iris merasa Samuel terlalu memanfaatkan statusnya untuk bertemu Sylvia.
Samuel selalu mengirimkan undangan ke Sylvia agar Sylvia mendatangi istana. Terkadang, Samuel juga datang ke Kediaman Enfield maupun bertemu di luar.
Samuel sudah terlanjur tergila-gila ke Sylvia hingga tak sanggup berpisah lama dari gadis itu. Ada-ada saja triknya agar bisa bertemu Sylvia.
Iris memukul kepalanya pelan. Bukan waktunya dia memikirkan hal tersebut. Ia harus segera mendatangi kamar Sylvia.
Gadis itu mengambil syal di dalam lemari dan melilitkan ke lehernya. Menutupi jejak buatan Dylan di lehernya daripada menjadi bahan gosip para pekerja. Setelah itu, Ia berlari kecil ke kamar Sylvia.
Di tikungan, Iris hampir saja terjatuh ke lantai akibat tak sengaja menabrak tubuh kekar seseorang.
"Maaf, tuan." Ringis Iris melihat Frederick lah orang yang ditabraknya.
Dari sekian banyaknya penghuni Kediaman Enfield, kenapa harus pria satu itu yang ditabraknya?!
Rasanya dari kemarin ... Hal yang dialaminya selalu saja bersinggungan dengan Frederick.
Iris membungkuk sedikit. "Sekali lagi maafkan aku, tuan."
"Lain kali berhati-hatilah."
Iris mengangguk cepat. "Baik, tuan." Gadis cantik itu menjilat bibir bawahnya gugup kala menyadari tatapan intens Frederick.
"Kenapa memakai syal? Kau sakit?"
Sungguh pertanyaan tak terduga mengingat selama ini Frederick selalu bersikap cuek terhadapnya.
"Entah kenapa pagi ini aku merasa sangat kedinginan, tuan. Makanya aku memakai syal." Jawab Iris senatural mungkin.
"Kalau sakit, beristirahatlah di kamar. Jangan memaksakan diri."
Iris mengerjap kaget mendengar ucapan penuh perhatian Frederick. "Terima kasih, tapi aku baik-baik saja tuan."
Frederick berdehem pelan, lalu berlalu begitu saja. Meninggalkan Iris yang mengerutkan kening heran.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.