Chapter 17

55.7K 5.2K 686
                                        

Vote sebelum baca 🌟

Seorang pria tampan berambut hitam bertopang dagu, menatap lurus wajah polos Iris yang sedang tertidur pulas di sampingnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Seorang pria tampan berambut hitam bertopang dagu, menatap lurus wajah polos Iris yang sedang tertidur pulas di sampingnya.

Tangan besarnya perlahan terangkat, mengusap pipi tirus Iris. Terasa begitu lembut dan halus hingga takut tangan kasarnya melukai pipi Iris.

Dylan kembali menarik tangannya dari wajah Iris. Memilih mengagumi Iris dalam diam.

Terkadang, Dylan merasa semuanya seakan mimpi. Tidak nyata dan bisa hilang kapan saja setelah terbangun.

"Ughh, Yang Mulia?" Lirih Iris serak. Khas suara orang bangun tidur.

Gadis cantik itu mengusap matanya dan menguap pelan, membuat Dylan tersenyum gemas.

"Kenapa Yang Mulia masih di sini?" Tanya Iris bingung. Biasanya Dylan sudah menghilang dari kamarnya di pagi hari.

"Karena aku masih merindukanmu."

Iris terkekeh pelan sedangkan Dylan memicingkan mata kesal.

Pria itu menindih tubuh Iris. Alhasil, Iris terdiam seribu bahasa sambil menelan saliva kasar.

Iris bahkan mengalihkan tatapannya ke arah lain lantaran tak sanggup membalas tatapan menusuk Dylan.

"Aku serius, Iris." Tekan Dylan.

"Kau tahu? Berpisah darimu terasa sangat sulit bagiku. Aku selalu merindukanmu setiap detiknya. Apapun yang kulakukan, aku selalu teringat dirimu."

Kata-kata manis Dylan begitu persis seperti kata-kata para playboy di kehidupannya lampau. Membuat Iris meragukan ucapan Dylan.

"Maka dari itu, ayo kita menikah!"

Iris sontak menatap Dylan.

Enteng sekali Dylan mengajaknya menikah. Layaknya mengajak jajan permen.

"Ah, lebih baik Yang Mulia segera kembali. Aku harus bekerja, Yang Mulia."

Dylan mencengkram dagu Iris pelan. "Jangan mengalihkan pembicaraan, Iris."

"Bukannya mengalihkan pembicaraan tapi aku memang harus segera bekerja, Yang Mulia. Aku harus membangunkan Sylvia dan membantunya bersiap-siap."

Dylan berdecak pelan. Kemudian, menggigit leher Iris gemas.

"Yang Mulia! Apa Yang Mulia lakukan?!" Jerit Iris protes seraya berusaha mendorong bahu Dylan.

"Diamlah. Biarkan aku meninggalkan tanda di lehermu supaya pria lain tahu bahwa kau sudah memiliki pemilik." Seringai Dylan menyebalkan.

Iris berusaha menghindar dan memberontak, tapi percuma saja. Dylan mengunci seluruh pergerakannya.

Dylan mendekapnya erat dan memerangkapnya bak hewan buas yang tak akan melepaskan mangsanya.

****

Wajah cantik Iris tertekuk kesal melihat jejak merah di lehernya. Begitu jelas dan mencolok.

Sudah ditutupi bedak pun masih terlihat. Ia tetap tidak bisa menyembunyikan bekas kiss Mark Dylan.

"Dylan sialan. Bajingan mesum." Umpatnya pelan seraya mengacak rambut frustasi.

"Kau benar-benar menyebalkan!" Jeritnya tertahan.

Puas melampiaskan amarahnya dengan mengumpat, Iris berusaha menata perasaannya lagi. Meskipun dirinya kesal dan marah, pekerjaannya tetap menantinya di depan mata.

Dia harus membangunkan Sylvia dan membantu Sylvia bersiap-siap. Terlebih lagi, Sylvia memiliki agenda penting hari ini, yaitu bertemu pangeran mahkota di istana.

Sebenarnya Iris merasa Samuel terlalu memanfaatkan statusnya untuk bertemu Sylvia.

Samuel selalu mengirimkan undangan ke Sylvia agar Sylvia mendatangi istana. Terkadang, Samuel juga datang ke Kediaman Enfield maupun bertemu di luar.

Samuel sudah terlanjur tergila-gila ke Sylvia hingga tak sanggup berpisah lama dari gadis itu. Ada-ada saja triknya agar bisa bertemu Sylvia.

Iris memukul kepalanya pelan. Bukan waktunya dia memikirkan hal tersebut. Ia harus segera mendatangi kamar Sylvia.

Gadis itu mengambil syal di dalam lemari dan melilitkan ke lehernya. Menutupi jejak buatan Dylan di lehernya daripada menjadi bahan gosip para pekerja. Setelah itu, Ia berlari kecil ke kamar Sylvia.

Di tikungan, Iris hampir saja terjatuh ke lantai akibat tak sengaja menabrak tubuh kekar seseorang.

"Maaf, tuan." Ringis Iris melihat Frederick lah orang yang ditabraknya.

Dari sekian banyaknya penghuni Kediaman Enfield, kenapa harus pria satu itu yang ditabraknya?!

Rasanya dari kemarin ... Hal yang dialaminya selalu saja bersinggungan dengan Frederick.

Iris membungkuk sedikit. "Sekali lagi maafkan aku, tuan."

"Lain kali berhati-hatilah."

Iris mengangguk cepat. "Baik, tuan." Gadis cantik itu menjilat bibir bawahnya gugup kala menyadari tatapan intens Frederick.

"Kenapa memakai syal? Kau sakit?"

Sungguh pertanyaan tak terduga mengingat selama ini Frederick selalu bersikap cuek terhadapnya.

"Entah kenapa pagi ini aku merasa sangat kedinginan, tuan. Makanya aku memakai syal." Jawab Iris senatural mungkin.

"Kalau sakit, beristirahatlah di kamar. Jangan memaksakan diri."

Iris mengerjap kaget mendengar ucapan penuh perhatian Frederick.  "Terima kasih, tapi aku baik-baik saja tuan."

Frederick berdehem pelan, lalu berlalu begitu saja. Meninggalkan Iris yang mengerutkan kening heran.

 Meninggalkan Iris yang mengerutkan kening heran

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

4/9/23

firza532

The Tyrant's WifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang