Skripsi. Alasan Levia meninggal dunia. Alasan menyedihkan sekaligus paling konyol disepanjang sejarah.
Lebih menyedihkannya lagi, jiwa Levia masuk ke dalam novel sebagai Iris. Tokoh utama wanita tersembunyi di dalam novel. Wanita yang sebenarnya sa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gelisah. Iris selalu gelisah memikirkan ucapan Dylan beberapa hari lalu. Ucapan yang dipenuhi ancaman dan keseriusan.
Iris menjadi sedikit takut untuk menjalankan rencana pelariannya. Takut sewaktu-waktu Dylan berhasil menangkapnya, lalu merantai dan mengurungnya seperti yang pria tersebut katakan. Ughh, mengerikan! Membayangkannya saja, ia tak sanggup.
Gadis cantik itu menggigit ujung kukunya gelisah. Ragu antara melanjutkan rencana atau pasrah begitu saja menerima keadaan. Akan tetapi, rasanya dia tidak sanggup hidup bersama Dylan yang manipulatif.
Pada akhirnya, Iris tetap membulatkan tekadnya untuk kabur. Iris tidak ingin berpasrah diri menunggu hari kehancuran menghampirinya.
Selama dirinya tidak tertangkap, maka tidak akan ada masalah, bukan?
"Iris."
Baru saja memikirkan tentang Dylan, pria itu langsung muncul di hadapannya dan memanggilnya penuh semangat. Raut wajah pria tersebut tampak begitu berseri-seri.
Sudah bukan hal asing lagi Dylan mendadak muncul di sekitarnya tapi tetap saja Iris terkejut. Iris masih belum terbiasa dengan kemunculan tiba-tiba Dylan.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Dylan duduk di samping Iris yang bersantai di bawah pohon besar.
Iris meletakkan kedua tangannya di atas paha sambil tersenyum sopan. "Menunggu Sylvia dan pangeran mahkota, Yang Mulia."
Dylan menatap Iris intens. "Lagi-lagi mereka membuatmu menunggu. Menyebalkan." Desisnya pelan sedangkan Iris meringis melihat ekspresi geram Dylan. Seperti hendak menghajar seseorang.
"Tentu saja sudah seharusnya aku menunggu mereka, Yang Mulia. Apakah Yang Mulia lupa? Aku dayang Sylvia."
Dylan menyugar rambutnya gusar mendengar ucapan gadis itu. "Aku tidak suka. Segeralah berhenti menjadi dayangnya."
Iris hanya tersenyum sebagai jawaban karena lelah mendebat Dylan.
"Daripada menunggu mereka, ikutlah denganku. Aku akan membawamu bersenang-senang." Ajak Dylan sambil menyodorkan telapak tangannya. Disambut gelengan oleh Iris.
"Terima kasih atas niat baik Yang Mulia, tapi aku tidak bisa menerimanya. Aku takut Sylvia mencariku." Tolaknya halus.
"Tenang saja. Aku akan menyuruh seseorang memberitahu Sylvia." Dylan menggendong Iris dalam sekejap mata dan langsung berdiri sehingga gadis itu refleks memeluk leher Dylan agar tak terjatuh.
Mata hijau cerahnya melototi Dylan. Ia berusaha turun tapi seluruh pergerakannya dikunci. "Turunkan aku, Yang Mulia!" Menggerakkan kakinya bar-bar supaya Dylan kewalahan dan menurunkannya. Namun, sayangnya Dylan tidak merasa kewalahan sedikitpun.
"Diamlah atau aku akan mengikat kedua kakimu."
Ancaman Dylan membuat nyali Iris ciut. Bibirnya tertekuk kesal sedangkan sorot matanya tampak protes. "Yang Mulia jahat." Ambeknya.