Chapter 9

61.2K 6.2K 298
                                        

Berhubung aku sedang flu parah, ini update-an terakhirku hari ini ya. Gak sanggup lagi uyy🤧

Btw, tandai aja klw ada typo📌

Vote sebelum baca 🌟

Semilir angin berhembus

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Semilir angin berhembus. Memainkan rambut merah muda Iris yang dibiarkan tergerai.

Iris menyisipkan helaian rambutnya ke belakang telinga sambil mendumel di dalam hati. Menyesal menggerai rambutnya karena sangat menganggu.

Sayang sekali ikat rambutnya di kamar dan Iris sangat malas bolak balik ke kamarnya hanya untuk mengambil barang satu itu.

Sylvia yang melihat Iris kesulitan lantas membuka pita di rambutnya. Gadis itu memberikan pitanya seraya tersenyum cerah. "Ikatlah rambut Iris dengan ini."

Iris menggeleng pelan. "Bagaimana mungkin aku memakai hadiah dari kakakmu, Vi? Duke muda pasti tidak akan menyukainya."

Sylvia beringsut ke belakang Iris dan mengikat rambut Iris tanpa banyak kata.

"Astaga! Sekarang kau mengikat rambutku? Memangnya kau bisa?" Kikik Iris. Merasa sangat terhibur oleh tingkah lucu Sylvia.

"Diamlah, Iris. Biarkan aku mengikat rambutmu."

"Baiklah." Sahut Iris patuh. Berusaha menahan tawa merasakan gerakan kaku Sylvia dalam mengikat rambutnya.

Iris yakin Sylvia tidak bisa mengikat rambutnya karena selama ini Sylvia selalu dilayani pelayan. Selalu ada yang menyisir dan menghias rambut Sylvia.

Layaknya putri bangsawan berpengaruh, Sylvia selalu dilayani orang lain. Termasuk untuk hal-hal remeh seperti mandi maupun mengupas apel.

"Huaaa!! Aku tidak bisa mengikatnya!" Rengek Sylvia menyerah.

Iris tertawa kencang melihat wajah merenggut Sylvia. "Sudah ku duga."

Iris mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Sylvia. Lalu, mengambil alih pita di tangan Sylvia dan memakaikan kembali pita itu di rambut Sylvia.

"Ternyata aku sangat tidak berguna."

Iris melotot kaget mendengar gumaman Sylvia. "Apa yang kau katakan?"

"Mengikat rambutmu saja aku tidak bisa, apalagi melakukan hal lain." Sylvia menutup wajahnya frustasi.

Iris menghela nafas panjang. "Tidak biasanya kau seperti ini. Jangan bilang ada orang yang mengatakan hal buruk tentangmu?"

Melihat Sylvia terdiam seribu bahasa, Iris akhirnya mengerti. "Siapa pelakunya?"

"Nona Ingrid. Dia bilang aku akan menjadi putri mahkota yang tidak berguna bagi kekaisaran. Dia bilang aku terpilih hanya karena status keluargaku dan kecantikanku yang memikat putra mahkota." Adu Sylvia hampir menangis.

"Abaikan saja ucapannya. Dia mengatakan itu karena iri kepadamu."

"Tapi, perkataannya benar. Aku memang tidak berguna."

"Jangan rendah diri, Vi. Kau tinggal membuktikannya di masa depan. Buktikan kepadanya bahwa kau sangat berguna di kekaisaran. Tampar mulut sampahnya dengan prestasimu."

"Kau benar. Terima kasih sarannya, Iris."

Lihatlah betapa lugunya Sylvia. Mudah bersedih sekaligus mudah bangkit. Tipe-tipe gadis polos tapi sangat pemberani dan bersemangat.

Iris tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengusap kepala Sylvia. "Bagaimana pertemuanmu dengan putra mahkota hari ini?"

"Menyenangkan. Aku sangat menyukai pertemuan kami meskipun sangat mendadak."

"Sam sangat tampan, baik, perhatian, lembut, bijaksana, dan menyenangkan."

Iris tersenyum senang melihat wajah ceria Sylvia.

"Aku pasti bahagia jika menikah dengannya 'kan, Iris?" Jauh di lubuk hati terdalamnya, Sylvia masih meragukan kehidupan pernikahannya meski sudah bertemu langsung dengan calon suaminya.

Iris mengangguk pasti. "Ya. Kau pasti  bahagia, Vi."

Di dalam novel pun, putra mahkota sangat baik dan lurus. Putra mahkota tidak pernah melakukan kejahatan. Hatinya sangat bersih dan murni. Bahkan di saat Dylan memberontak pun, ia memahami alasan Dylan memulai sebuah pemberontakan.

Makanya Iris bisa tenang melepaskan Sylvia ke tangan Putra Mahkota, Samuel.

Putra Mahkota jauh lebih baik dan dapat dipercaya dibandingkan Dylan yang sangat manipulatif. Sebagai pembaca saja dia tertipu, apalagi mengalami langsung.

"Ekhemm."

Iris ataupun Sylvia refleks mengalihkan pandangan mereka ke asal suara.

Sylvia tersenyum cerah melihat kakak tertuanya sedangkan Iris segera berdiri dan memberi salam.

Frederick duduk di samping Sylvia sedangkan Iris segera menyingkir. Memberi ruang untuk kakak beradik itu.

Sialnya, Iris terpeleset dan terjatuh di atas pangkuan Frederick.

Wajah Iris seketika pucat pasi melihat wajah datar calon Duke Enfield di masa depan. Ia segera bangkit dari pangkuan Frederick. Mengucapkan maaf berkali-kali sampai Frederick mengusirnya jengkel.

Iris melarikan diri ke kamarnya. Merasa sangat malu untuk bertemu Frederick lagi.

"Sialan! Kenapa belakangan ini aku selalu mudah terjatuh di dekat laki-laki?!" Geramnya frustasi.

Untung saja Frederick sangat menyayangi Sylvia. Jadi, Frederick tidak akan menjatuhinya hukuman.

Iris menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Keningnya mengernyit melihat keberadaan secarik kertas di samping bantalnya. Seingatnya dia sudah membersihkan kasurnya sesaat setelah bangun tidur.

Iris mengambil kertas tersebut dan sedikit terkejut melihat ada tulisan di sana. Gadis itu mulai membacanya. Semakin terkejut lagi setiap membaca deretan kata yang tertulis di atas kertas.

"Aku memang jauh darimu, tapi bukan berarti aku tidak bisa memantaumu, Iris. Perhatikan setiap perbuatanmu. Jangan membuatku marah atau kau akan menyesalinya."

27 Agustus 2023

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

27 Agustus 2023.

18.21

Terima kasih udah dukung sampai part 9 ini.

Semoga selalu suka <3

2 hari. 9 part. 4,79K Views (Lumayan lah🐣)

firza532

The Tyrant's WifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang