Skripsi. Alasan Levia meninggal dunia. Alasan menyedihkan sekaligus paling konyol disepanjang sejarah.
Lebih menyedihkannya lagi, jiwa Levia masuk ke dalam novel sebagai Iris. Tokoh utama wanita tersembunyi di dalam novel. Wanita yang sebenarnya sa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Wajah semua orang tampak berseri. Tersenyum, tertawa, dan terus menggerakkan tubuh mengikuti irama musik. Berdansa tanpa memikirkan hari esok. Terutama para rakyat yang sangat jarang menghadiri pesta.
Di antara tamu undangan, hanya satu orang yang tidak menikmati pesta tersebut. Siapa lagi kalau bukan Iris.
Gadis cantik itu merasa menari di pinggir jurang nan curam. Salah langkah sedikit saja, bisa terjatuh ke dalam jurang. Dimana tak ada satu orangpun yang tahu apa yang menunggunya di dasar jurang.
Ini semua salah Dylan!
Dylan lah yang menaruhnya dalam situasi rumit saat ini.
Andaikan saja Dylan tidak menciumnya di hadapan semua orang, Iris pasti bisa menikmati pesta.
Andaikan saja Dylan tidak menciumnya, Iris tak akan menjadi objek perhatian orang lain.
Andaikan saja Dylan tidak menciumnya, Iris tak akan menerima tatapan sinis dan mendengar bisik-bisik tentangnya.
Namun, percuma saja berandai-andai karena semuanya sudah terlanjur terjadi. Waktu pun tidak bisa diputar kembali. Jadi, gadis itu terpaksa menebalkan wajah dan menulikan telinga.
Tanpa sadar, Iris terus menerus menghela nafas kasar akibat merasa tertekan.
Dylan yang sudah tidak tahan mendengar helaan nafas kasarnya sontak berhenti berdansa. Otomatis, Iris juga berhenti berdansa. Gadis cantik itu menatap Dylan bingung. "Kenapa, Yang Mulia?" Tanyanya pelan.
"Dari tadi kau selalu menghela nafas kasar. Apakah ada yang menganggu pikiranmu?"
Iris meringis pelan melihat tatapan tak bersahabat Dylan. "Tidak ada, Yang Mulia. Aku hanya lelah berdansa." Cicitnya di akhir ucapan.
Dylan menggendong tubuh Iris begitu saja. Lagi-lagi tindakannya itu membuat Iris malu dan tertekan. Saking malunya, Iris menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambutnya yang dibiarkan terurai bebas.
"Kenapa baru mengatakannya sekarang? Seharusnya kau mengatakannya kepadaku sejak tadi." Omel Dylan.
"Yang Mulia terlihat senang saat berdansa tadi. Mana mungkin aku berani menghancurkan kebahagiaan, Yang Mulia." Alibinya.
"Lain kali jangan diulangi. Kalau lelah, langsung katakan saja kepadaku. Jangan menahannya karena aku tidak ingin kau jatuh sakit." Tutur Dylan melembut.
"Baik, Yang Mulia. Aku akan mengingatnya."
Dylan tersenyum puas. Lantas, menurunkan Iris di salah satu kursi. Ia mengelus pelan puncak kepala Iris. "Tunggulah aku di sini. Aku akan mengambilkan makanan dan minuman untukmu."
Iris mengangguk patuh.
"Bagus. Selama aku pergi ... Jangan menerima tawaran dansa pria lain, jangan berbicara ke pria lain, dan jangan pergi bersama pria lain."