Skripsi. Alasan Levia meninggal dunia. Alasan menyedihkan sekaligus paling konyol disepanjang sejarah.
Lebih menyedihkannya lagi, jiwa Levia masuk ke dalam novel sebagai Iris. Tokoh utama wanita tersembunyi di dalam novel. Wanita yang sebenarnya sa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jantung Iris berasa naik roller coaster. Selalu berdebar kencang di setiap saat akibat ulah Dylan. Bukan debaran bahagia, melainkan debaran ketakutan.
Menurutnya Dylan sangatlah menakutkan meski bersikap konyol, polos, ceria, dan seakan sangat mencintainya.
Iris takut Dylan berpura-pura seperti halnya yang dilakukan pria itu di dalam novel terhadap Sylvia.
Iris takut Dylan menyimpan niat terselubung. Takut dirinya menjadi salah satu alat untuk meraih posisi kaisar. Misalnya dirinya dijadikan alat supaya Kaisar dan pihak kekaisaran tidak menaruh waspada lagi ke Dylan.
Astaga! Iris tidak bisa membayangkan dirinya dibuang setelah tidak berarti lagi. Apalagi sampai dibunuh.
Iris masih ingin hidup meskipun dirinya tidak terlahir sebagai bangsawan kaya raya.
Iris cukup bahagia dengan kehidupannya sekarang. Sederhana tapi bisa mendapatkan semua hal yang diinginkannya. Tidak ada yang mengatur-ngaturnya. Tidak ada yang menyakitinya. Tidak ada yang mengusiknya. Tidak ada yang menargetkannya. Kehadirannya antara ada dan tiada. Samar, layaknya bayang-bayang.
Iris juga yakin bisa hidup baik saat keluar dari Kediaman Enfield karena sudah terbiasa bertahan hidup di perantauan. Ia bisa mencari uang, bisa memasak, bisa bersosialisasi, bisa bekerja, dan bisa mengatur keuangan.
"Iris." Panggil Dylan lembut.
Semenjak tadi, grand Duke satu itu memang masih berada di sisi Iris. Menahan Iris di sisinya.
"Ya, Yang Mulia?"
"Besok aku akan kembali ke grand duchy."
Iris berusaha menahan senyum. Hatinya sangat berbunga-bunga mendengar Dylan akan pergi jauh dari kehidupannya. Dylan tidak akan muncul lagi di hadapannya sesuka hati karena wilayah kekuasaan Dylan lumayan jauh dari ibu kota.
"Urusan Yang Mulia sudah selesai di sini?"
"Sudah." Dylan mendesah gusar seraya menyandarkan kepalanya di bahu Iris. "Aku tidak sanggup berpisah darimu. Bagaimana jika kau langsung ikut denganku?" Tawarnya.
"Tidak bisa, Yang Mulia."
Penolakan tegas Iris membuat Dylan menghela nafas sedih. "Kau selalu saja menolakku."
Iris terdiam. Enggan menyahut ucapan Dylan.
"Ikutlah denganku ke wilayah selatan. Di sana sangat indah. Terutama pantainya. Matamu akan selalu dimanjakan oleh indahnya pemandangan. Kau bahkan bisa menikmati matahari terbenam dari kamarmu."
Bujukan Dylan menghadirkan tawa Iris. "Terima kasih tawarannya, Yang Mulia. Sayangnya, aku tetap tidak bisa mengikuti Yang Mulia. Aku masih ingin di sini, melihat pesta pernikahan Sylvia."
Dylan menegakkan tubuhnya, lalu menatap Iris lurus. "Aku tidak peduli. Bersiaplah. Aku akan mengirimkan surat lamaran resmi kepadamu."
Iris mendesah gusar melihat tingkah keras kepala Dylan. "Jangan, Yang Mulia. Apakah Yang Mulia ingin menciptakan sebuah kehebohan di kekaisaran ini?"
Dylan menyeringai menyebalkan seraya mencium rambut Iris. "Aku tidak peduli."
Iris mengangkat tangannya menyerah. "Baiklah. Aku akan memikirkan ulang tawaran Yang Mulia setelah pernikahan Sylvia. Sebelum pernikahan Sylvia berlangsung, jangan lakukan apapun itu." Negonya.
'Aku hanya perlu bertahan sampai Sylvia aman.' bisik batinnya.
"Bukan memikirkan ulang tapi menerima tawaranku!" Bantah Dylan.
"Iris!!" Teriak Sylvia dari kejauhan. Mengalihkan perhatian Iris dan Dylan.
Satu terlihat kesal dan satunya lagi terlihat lega.
Iris buru-buru berdiri, berniat menghampiri Sylvia tapi Dylan malah menarik tangan Iris hingga gadis itu terduduk di atas pangkuannya. "Jangan pergi. Aku masih ingin bersamamu sebelum aku pergi."
"Lepaskan aku, Yang Mulia."
"Tidak mau!"
Iris menggigit bibir bawahnya kesal. Tingkah menyebalkan Dylan membuatnya ingin menghantukkan kepala pria itu ke batang pohon supaya kembali normal.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.