Aku, Dara, Kale, Irgi dan Alya -pacar Irgi- akhirnya pergi nonton konser bersama hari ini. Konsernya di garap oleh Dream Comes True jadi kami bisa menontonnya di barisan depan. Ini privilege saudara mas Huki kita boleh masuk duluan padahal gak punya fast pass. Hahaha. Biarin lah sekali-kali, lagian kita bantu beli tiketnya. Bukan kita, tapi Tian. Harusnya dia yang pergi sama Dara, Kale dan Nana -pacar Tian-. Tapi karena adikku itu sibuk terbang jadi ya, aku gantiin. Itung-itung bikin tiketnya gak mubazir.
"Teteh sama Mbak, majuan" Ini suara Kale.
Badannya yang tinggi menjulang menutupi tubuhku dan Dara yang ada di depannya, di konser seperti ini, wajar kalau ada banyak orang yang desak-desakan. Kadang diantara mereka ada aja yang abil kesempatan buat bisa pegang-pegang. Sepertinya Kale melihat orang yang ingin ambil kesempatan itu pada kami jadi dia maju melindungi aku dan Dara.
Gak usah nanya Irgi dimana. Dia sibuk sama ayangnya! Dikira dunia cuma punya mereka doang kali ya? Yang lain nngontrak.
Ketika sampai di headliner yang ternyata adalah Crush, penyanyi indie yang sedang naik daun aku meminta izin untuk mundur ke belakang. Sejak tadi aku tidak bisa menikmati konser karena kerumunannya terlalu banyak, juga karena handphone ku terasa terus-terusan bergetar. Aku takut ayah menghubungiku karena aku belum bertemu Ayah sejak sampai rumah.
"Aku mau mundur ke belakang." Kataku pada Kale yang nampaknya enggan mengizinkanku menjauh darinya.
Kale si paling protektif! Gak heran tingkahnya suka bikin Dara marah-marah.
Melihat aku yang keras kepala, Kale melirik ke Irgi yang masih bernyanyi sambil berpelukan dengan Alya. Dari tatapannya terlihat sekali dia berharap Irgi memandangnya dan mau mundur bersamaku. Namun sayangnya Irgi tidak bergeming sama sekali, asik bernyanyi bersama kekasihnya.
Aku berjinjit mendekatkan bibirku dengan wajah Kale, percuma teriak-teriak di tempat seperti ini. Aku cuma ingin mundur dan aku bisa menjaga diriku sendiri.
"Teteh bisa sendiri. Handphone ku bunyi terus!"
Kale memandangku serius sebelum membiarkan aku mundur ke barisan paling belakang dengan susah payah.
Sampai pada barisan paling belakang, aku membuka tasku untuk melihat kenapa handphone ku tidak berhenti berdering sejak tadi.
Dia lagi.
Si kontak dengan nama 'Jangan Diangkat!'
Harusnya aku gak lupa kalau punya nomor penggemar yang selalu bisa menghubungiku kalau nomorku aktif.
Jangan tanya kenapa aku tidak berganti nomor saja. Sudah pernah. Dan percuma saja rasanya. Mas Arim akan terus menemukanku sekeras apapun aku berusaha menghilang dari dia. Entah kenapa manusia ini, padahal selama kami berhubungan dia yang paling sering menyia-nyiakan hubungan kami. Membuat hubungan kami kaya gak ada harganya dimatanya.
Teman-teman ku bilang itu karena dia tidak mau harga dirinya jatuh. Tiga bulan lagi harusnya kami menikah. Sudah ada WOnya, dia buat sendiri untuk bisa menikahiku. Namun karena kejadian pemukulan tiga bulan lalu, semua rencananya bubar seperti dihantam batu didepan matanya. Berhamburan. Hancur. Dan sebenarnya itu karena dia sendiri yang tidak pernah menghargai hubungan kami.
Bukan karena aku!
Teman-teman ku di Jogja pasti tau betapa sabarnya aku menghadapi Mas Arim. Kami satu tempat kerja. Mas Arim adalah anak dari direktur rumah sakit swasta yang aku kenal di tempat internship dulu , dia juga senior ku di universitas. Orang yang dirancang orang tuanya untuk meneruskan rumah sakit milik keluarga mereka.
Aku pikir bertemu dan menjalin hubungan dengan laki-laki seperti mas Arim akan membuat masa depanku terang benderang seperti matahari. Tidak akan aku pungkiri, aku memang amat sangat matrealistis waktu itu. Mas Arim datang di saat yang tepat. Saat Bunda mulai ingin mengatur kembali hidupku. Membelokan ku menjadi apa-apa yang dia inginkan dan hidup sepertinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bahagia
RomanceKabur. Hanya itu yang Namara Lembah Paramitha pikirkan ketika menjauh dari Jogjakarta. Sayangnya sebelumnya Namara tidak pernah berpikir bahwa kabur tidak menyelesaikan masalah, malah akhirnya menambah masalah yang sudah ada. Ini cuma cerita anak su...
