2. Tidak pernah benar-benar jadi rumah

67 6 1
                                        

Sampai sudah aku di rumah. Irgi langsung membantuku memasukan koper waktu aku sampai. Sambutan yang aneh, mengingat biasanya Irgi cukup malas untuk keluar kamar. Ketika adik laki-laki ku sama saja. Tiga-tiganya tidak berguna! Aku gak kerasa punya privilege sama sekali walaupun punya tiga saudara laki-laki yang jarak umurnya tidak terlalu jauh. Padahal katanya punya saudara laki-laki itu beruntung karna pasti ada yang menjaga dan menolong. Nyatanya? Liat saja sekarang Irgi asik goler-goleran di kasurku yang baru di ganti sperai. Sedangkan aku masih sibuk bongkar koper. Awas aja kalau sampai bau asemnya nempel waktu dia pergi.

Rumah ini selalu terasa terlalu besar dan asing bagiku. Mungkin karena aku tidak benar-benar tinggal disini sejak kecil. Aku dan Tian tumbuh besar di Lembang bersama aki dan nini sampai SMA. Waktu kecil memang kami sering pulang ke Jakarta, Ayah menjemput kami tiap weekend. Tapi semakin besar kami, semakin bertambah umur kami, semakin jarang pula aku dan Tian pulang ke rumah ini. Kadang tiga bulan sekali untuk laporan nilai rapot lebih parahnya aku dan Tian pernah pulang hanya saat libur semester. Itupun cuma seminggu karena kita tidak betah.

Harusnya sekarang sedikit berbeda, apa lagi aku pernah tinggal disini selama setahun sebelum lulus SMA. Aku pindah sekolah satu tahun sebelum lulus di SMA pertamaku, disuruh Bunda. Katanya agar aku bisa masuk di Universitas tempat dia mengajar, jurusan teknik. Sangat spesifik. Sayangnya aku berkhianat. Hahaha.

Mimpi Bunda dan Ayah untuk punya penerus baru terwujud saat Irgi punya ketertarikan ke bidang mereka. Saat itu juga mereka tenang dan berhenti menyalahkan aku dan Tian yang bertindak seperti penghianat hanya karena tidak mau terkungkung di bidang yang tidak kami suka.

"Jadi teteh udah pasti bakal for good di Jakarta?"

BahagiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang