Cerita ini terinspirasi dari kurangnya keadilan atas korban-korban pelecehan.
.
.
.
Semua orang berhak menerima keadilan, tetapi tidak semua orang mendapatkan keadilan. Hidup tenang dan damai tak akan didapatkan jika ego yang ditonjolkan. Apa sebene...
Ternyata memang benar, bahwa attitude dan moral seseorang tidak dapat dinilai dari seberapa tinggi pendidikan seseorang dan seberapa banyak gelar yang disandang.
S
uasana 12 Akuntansi cukup ramai, sebelum Pak Robi datang memasuki ruangan tersebut. Menggunakan seragam batik khas sekolah, juga menenteng tas yang berisi laptop. Pak Robi meletakkan tas di atas meja, lantas duduk menghadap seluruh siswa -siswi. "Hari ini Bu Ria tidak bisa mengajar. Jadi-" Pak Robi menjeda ucapannya, menatap seluruh siswanya. "Saya yang menggantikan.”
"Kalian ingin belajar apa?" tanya Pak Robi.
"Hah?" Elena melirik Kea di sampingnya.
"Ya akuntansi, lah, masak desain." Kea mengucapkan kalimat dengan sangat lirih, bahkan hanya Elena yang bisa mendengarnya.
"Kita sekolah itu yang penting fokus sama pelajarannya saja, ya, kan?" Arah pandang pak Robi mengelilingi seluruh rmuridnya. "Kalian sekolah juga dapat ilmu yang tidak abal-abal, kan? yang penting masa depan terjamin, bagus. Ya to? tidak usah meribetkan diri begitu lo, dengan ngikut urusan-urusan yang tidak penting buat kalian." Pak Robi menumpu dagu menggunakan kedua tangannya
"Iya apa tidak?" Terlihat senyum Pak Robi yang begitu memuakkan dimata Elena.
"Menurut bapak, apa kita harus diam saja kalau misal pertahunnya sebuah sekolah terus-menerus memakan korban pelecehan." Elena menyuarakan isi pikirannya dengan lantang.
"Len!!" Kea menarik kerah baju Elena, menatap tajam, seolah memberi kode untuk berhenti berbicara semacam itu. Elena memiringkan kepalanya kearah Kea, lantas disambut gelengan kepala oleh Kea.
Elena menghela napas pelan, dia sangat muak dengan sekolah ini. Tetapi dia tidak bisa pindah ataupun keluar dari sekolah ini kalau tidak mau mendapatkan amplop hitam atau ter-blacklist dari seluruh sekolah di Indonesia.
"Ah, sudah-sudah... Itu yang di belakang siswi baru, ya?" Pak Robi menunjuk kearah salah satu siswi dimeja paling belakang. "Badan kamu semok gituuu... nanti digigit maling bingung... bapak tidak pernah lihat kamu, di kelas terus?" Terdengar suara tawa Pak Robi juga seluruh siswa-siswi 12 Akuntansi, khususnya murid laki-laki.
"Anda!!" Elena berdiri, dia sangat geram dengan Pak Robi. "Apa pantas seorang guru menjadikan tubuh siswinya sebagai bahan candaan?" Seiring suara lantang Elena menggema di dalam kelas, suara tawa siswa pun satu per satu berhenti. Lantas senyap.
Pak Robi mengangkat satu alisnya heran. "Duduk kamu! tidak sopan, ya!!"
"Anda yang lebih tidak sopan Pak Robi!" Elena yang duduk dimeja paling depan pun menyerongkan badan kearah teman sekelasnya.
"Ayolah!! Mau sampai kapan kaya begini di diamkan... Guru macam apa ini, menjadikan tubuh siswinya sebagai alibi candaan, dan lebih parahnya agar siswa laki-laki tertawa?" Elena melirik ke arah Kea yang sedari tadi menarik-narik roknya. "Itu bukan lelucon, dan apa pun yang ada di tubuh kita bukan sebuah hal yang bisa digunakan untuk candaan. Jangan diam saja kalau dilecehkan, sekecil apa pun itu, termasuk mereka yang jadiin kita bahan lelucon!!" ucap Elena menggebu-gebu.
Kea beranjak berdiri. "Lena!!!" Lantas menariknya untuk duduk.
Napas Elena naik turun tidak karuan, dia sangat geram dengan hal-hal semacam ini. Mana mungkin hal seperti itu pada zaman sekarang ini dinormalisasikan, bahkan Elena pernah melihat di media sosial. Banyak oknum guru maupun siswa laki-laki yang menjadikan tubuh perempuan bahan candaan.
Tak ada jawaban dari Pak Robi, guru itu terlihat menghela napas berat. Lantas membuka laptopnya untuk memulai pembelajaran. "Transaksi bisnis atau biasa disebut business transaction. Apa, Elena?"
"Kejadian ekonomis dari suatu perusahaan yang secara langsung memengaruhi kondisi keuangan atau hasil operasi dan harus dicatat oleh perusahaan yang bersangkutan, itulah yang disebut business transaction." Elena menghadap ke arah pak Robi, lalu menyampirkan sebelah hijabnya kepundak sebelum dia fokus memperhatikan buku paket akuntansinya.
"Transaksi bisnis dikelompokkan menjadi dua, yaitu transaksi eksternal dan transaksi internal. Kea!?"
"Transaksi eksternal merupakan kejadian dengan pihak luar perusahaan, sedangkan internal kejadian ekonomis yang terjadi dalam perusahaan itu sendiri." Belum sempat Kea menutup mulut dari menjawab pertanyaan Pak Robi, Elena sudah menyerobot terlebih dahulu.
"Semua transaksi bisnis perusahaan akan senantiasa berpengaruh pada perubahan ketiga unsur persamaan dasar akuntansi, yaitu aset, kawajiban, ekuitas. Transaksi bisnis perusahaan, paling tidak akan memengaruhi dua atau tiga dari komponen atau unsur persamaan dasar akuntansi!" Terlihat dari nada Elena yang sepertinya masih kesal atas kejadian beberapa menit tadi.
Setelah mata pelajaran selesai dan pak Robi pergi dari ruang kelas, dada Elena kembali sesak. Suara hati Elena menggebu-gebu, bahwa dia sangat membenci pelecehan. Perlahan-lahan Elena pegang dadanya yang bergemuruh naik turun, serta kelopak matanya yang panas menahan kecewa atas oknum-oknum seperti itu.
"Len? dipanggil ke ruang kesiswaan sama Bu Ria." Ketua OSIS yang terlihat membawa buku tebal itu berdiri di ambang pintu kelas Elena.
"Amplop hitam?"
***
Suasana ruang kesiswaan begitu mencekam bagi Elena, bayang-bayang dirinya yang akan mendapatkan amplop hitam begitu menghantui pikirannya.
"Lena! Jelaskan apa yang kamu lakukan di kelas tadi kepada, Pak Robi!!" ucap Bu Ria kepada Elena.
Elena melihat sekeliling, terdapat Bu Ria, Pak Robi, Pak Rendi selaku kepala sekolah dan Pak Bima. "Sa-saya tidak melakukan apa-apa, Bu."
"Pak Robi sudah cerita semua ke kami! Elena! Sekali lagi kamu bertindak seperti itu-" Bu Ria menatap Pak Rendi. "Kepala sekolah akan mengirimkan amplop hitam kerumahmu."
Belum bibir Bu Ria terkatup rapat setelah berbicara, pintu ruang kesiswaan terbuka, menampakkan empat remaja yang tengah berdiri tegang di ambang pintu.
"Permisi, apa kami boleh masuk?"
"Ada urusan apa kamu, Adit? Sama teman-teman mu ke sini?"
Adit melangkahkan kakinya ke dalam ruangan, menatap seluruh manusia yang berada di dalamnya. "Bu Ria? Bu Ria di sini sebagai perempuan. Kira-kira apa Bu Ria rela dengan apa yang diucapkan Pak Robi tadi?"
Bu Ria diam membeku, tatapannya menyoroti ke arah kelima remaja tersebut. "Kamu tidak tahu apa-apa, Adit-"
"Kita tahu, Kea sudah menceritakan semuanya secara detail!!" Isva yang lebih tersulut emosinya sedari mendengar penuturan Kea tadi.
Adit menoleh ke arah Vero, memberinya kode untuk lebih dekat kearah Isva. Lantas, Adit melangkahkan kaki untuk duduk di sisi Elena. "Lu nggak salah, nggak perlu takut!" ucapnya lirih.
. . .
"Keadilan katamu? seorang korban yang melawan dengan dasar mencari keadilan saja disalahkan. Lebih parahnya mendapatkan hukuman atas tindakan pencemaran nama baik. Itukah keadilan?"
-Elena Zamira Chayra
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Terimakasih yang sudah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak ya ♥️