11

109 16 0
                                        

Hari ini Riki terpaksa tidak masuk sekolah. Tadi pas ia akan jalan ke sekolah, baru juga naik bus kakaknya menelfon Riki dan berkata jika ibundanya jatuh di kamar mandi hingga ia mengeluh dadanya terasa sesak dan sekarang sudah dibawa ke rumah sakit

"Kak Kania", Kania, kakak dari Riki menoleh. Melihat adiknya yang berlari dari ujung lorong rumah sakit, Kania lalu memeluk adik bongsornya itu

"Kak ibu gapapa?"

"Kata dokter gapapa"

"Terus kenapa peluk aku sambil nangis gini? Pikiran aku kan jadi kemana-mana"

"Gapapa pengen aja. Soalnya kakak kan jomblo jadi gaada yang meluk", Riki mendecak lalu melepaskan pelukan kakaknya

"Makanya cari pacar sana", Kania mendengus lalu mendorong kepala adiknya sebelum memasuki ruang inap ibundanya

"Loh Riki ga sekolah?" Tanya ibunya pelan

"Bolos dia bu", Kania melirik sinis ke arah Riki dengan mata tajamnya. Mata almarhum Ayahnya

"Apaan sih kak. Orang kakak yang nelpon aku ya nadanya kayak orang panik gitu bawa-bawa ibu, jelas lah aku ikutan panik", Riki tidak terima dibilang bolos oleh oknum yang membuatnya batal ke sekolah

Sang ibu akhir nya turun tangan untuk melerai mereka berdua dan menyuruh mereka untuk berjabat tangan sebagai bentuk perdamaian, selain Harumi, sang ibu adalah orang yang paling tidak bisa ia bantah kemauannya, ia bahkan rela melepas egonya untuk berjabat tangan kepada Kania yang sekarang sedang tersenyum senang dihadapan Riki

Mereka berdua bahkan bermain game bersama diruang inap sang ibu setelah perdamaian tadi seakan-akan perdebatan nya tadi tidak pernah terjadi. Ibunya kadang suka menegur Kania dan Riki yang berbicara keras karena terbawa emosi saat bermain game bersama

Riki bahkan menyempatkan diri untuk pulang kerumah dan mengambil baju ibundanya beserta peralatan ps nya untuk ia mainkan bersama Kania, kamar rawat VIP rumah sakit itu seolah berubah menjadi konter ps dadakan

"Bu, ibu mau buah ga? Nanti Riki yang beliin soalnya dia kalah main game sama aku 6 kali bu",

Ibunya menggeleng sambil tersenyum

"Gapapa bu, kalo ibu yang ngeborong mah, setidaknya ibu masih tau diri gamau nyusahin anaknya kan bu?", Riki ikut tersenyum kepada sang ibu

"Maksud lo gue gatau diri?", Riki mengangkat kedua bahunya pelan sambil memasang muka mengejek pada Kania. Sang ibu buru-buru mengentikan mereka berdua

"Kamu gak pulang Riki? Besok kan sekolah"

"Masih sore bu"

Riki berdiri dari duduknya, ia merapihkan peralatan ps nya dan ia masukkan ke tas khusus. "Bu Riki izin jajan dulu ya di luar. Laper"

"Ikut dong"

"Gak, kalo kak Kania ikut yang ada ngeborong. Aku beliin cilor aja", tanpa persetujuan kakaknya, ia keluar begitu saja dari ruang inap ibundanya melangkah pelan sambil memasukkan satu tangannya ke celana abu-abunya

Riki keluar dari gerbang rumah sakit untuk membeli jajanan gerobakan yang menurutnya lebih enak dan murah walaupun sebetulnya ia juga tau kalau jajanan nya masih dipertanyakan kehigienisan nya

Riki juga membelikan makanan untuk Kania dan beberapa biskuit kelapa kesukaan ibunya. Selesai membeli Riki masuk kembali ke rumah sakit yang cukup besar sambil memainkan plastik jajanannya, kakaknya mempunyai asuransi kesehatan di rumah sakit ini

Melihat Kania yang tumbuh besar dengan banyak tanggungan sebagai anak pertama membuat Riki dulu memutuskan untuk berhenti sekolah guna membantu kakaknya mencari duit, tetapi Kania sangat marah saat mengetahui hal itu. Ia malah menyuruh Riki untuk tetap sekolah, kalau bisa hingga kuliah. Padahal Riki suka sedih saat melihat Kania yang berangkat pagi pulang malam karena ia bekerja di pabrik elektronik, gajinya terbilang cukup besar makanya ia mampu menopang ibundanya dan Riki

Riki berhenti memainkan Bungkus plastik jajanannya, dirinya melihat perempuan yang seharusnya ia temui disekolah sedang berjalan bersama ibundanya memasuki ruang periksa khusus kandungan

Riki duduk dikursi panjang tak jauh dari sana, hingga hampir 25menit perempuan itu keluar dan hendak melewati Riki

"Kak Haru" panggil Riki halus, mata  Harumi terbuka lebar melihat kehadiran Riki, ia bahkan juga terkejut melihat Riki yang masih mengenakan seragam nya padahal yang ia ketahui jika tadi pagi Riki tidak masuk sekolah

"Kakak abis dari dokter kandungan? Siapa yang hamil kak?", Bunda Harumi tersenyum lalu pamit pada anaknya dan Riki untuk duluan ke mobil, memberikan ruang untuk kedua anak remaja itu

"Riki, kakak pengen kamu ngerahasia in ini ya, dari siapapun. Termasuk Johan", Harumi menduduki kursi disamping Riki, nada bicaranya terdengar halus lengkap dengan senyuman khasnya yang selalu menarik dimata Riki

"Kenapa kak? Jangan bilang?"

"Apa?"

"Kakak hamil?", Riki memegang kepalanya sedetik setelah berkata seperti itu, Harumi yang menjitak nya

"Ngomong sembarangan lagi aku pukul ya dada kamu sampe bunyi shopee cod shopee cod", ucapnya lengkap dengan nada yang sudah ia hafal diluar kepala. Riki tertawa pecah mendengar itu, lalu tawa nya itu terhenti dan bertanya dengan serius

"Gini, ada kista di ovarium aku"

"Terus kenapa harus ke dokter kandungan?"

"Ya kan emang ranah nya kesana Riki cantik"

"Iya iya, terus apa dampaknya?"

"Iya itu, dampaknya aku gabisa hamil, meskipun bisa kemungkinannya cuma dikit. Makanya aku tiap hari dirumah selalu sedia obat, buat ningkat in kesuburan ku", Riki mengingat-ingat kejadian di bromo, ia memang sesekali melihat Harumi meminum obat yang sama

"Aku pernah liat kakak minum obat di bromo, tapi aku kira obat anti mabok", Harumi tertawa mendengar penuturan Riki, bahkan ia hampir merebahkan dirinya di bangku panjang karena saking ngakak brutalnya

"Kak serius aku Gatau kalo ternyata tanpa minum obat itu dampaknya bisa fatal"

"Iya gapapa"

Hening beberapa saat setelah obrolan aneh itu, tiba-tiba Riki berucap yang membuat Harumi tidak bisa mengelak ucapan dari adik kelasnya itu

"Jadi itu alasan kakak ga pengen nikah?"










🐥

Fate And Hate - Nishimura RikiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang