7. malam yang indah

152 3 0
                                        

Hari Sabtu ini layla ingin bermalas-malasan ia tidak ingin keluar kemanapun itu kecuali bersama sang kekasih tercintanya. Layla merebahkan tubuhnya di karpet bulu ruang televisi sendirian karena suaminya sedang ada urusan mendadak. Itu lebih bagus!.

Sambil melahap kentang goreng sesekali ia melihat ke layar televisi. "Bosen dramatis banget tuh cowok" dengus layla kesal pada sang pria yang menjadi pemeran utama.

"Layla ikut saya" ajak jovi tiba-tiba muncul.

Layla menoleh menggeleng pelan. "Enggak. Ngapain ikut kamu buang-buang waktu dan perasaan aja" tolak layla mentah-mentah.

Jovi menarik paksa layla agar mau bangun. "Ikut gue bentar ada yang mau gue tunjukin sama kamu" kata jovi memaksa layla. Mau tidak mau layla menurut ia mengikuti jovi ogah-ogahan.

"Awas macam-macam" ancam layla.

"Enggak" kata jovi tersenyum tipis.

"Sayang" panggil devan menghampiri layla . "Mau kemana?" Tanya devan melirik adiknya dan istrinya.

"E-enggak k-kita---"

"Kamu jangan macam-macam sama kakak ipar kamu" ancam devan menatap dingin adiknya.

Jovi mendengus kesal. "Siapa juga yang mau macam-macam" setelah mengatakan itu ia langsung pergi dengan perasaan kesal.

Devan menatap layla. "Ngobrol apa sama jovi?' tanya devan curiga.

Layla naik kelantai atas dengan malas. "Enggak ngobrol apa-apa kak. Tadi kita cuma berpapasan dan dia tanya kemana kakak, udah gitu doang" jawab layla bohong ia malas ditanya lebih lanjut.

"Yakin?" Tanya devan mengunci pintu kamar.

"Ya.......eh"  kaget layla saat dirinya didorong devan sampai jatuh ke kasur. "M-mau a-apa?" Tanya layla takut melihat senyum miring devan.

Devan melempar jasnya, dan melepaskan dua kancing atasnya. "Tidak. Saya cuma butuh energi, perusahaan saya lagi ada masalah" jawab devan lirih.

Layla menahan wajah devan yang hendak menciumnya. "L-lebih baik mandi dulu" ucap layla gugup.

Devan mencekal tangan layla menatap layla lekat, sedangkan yang ditatap semakin gugup layla tidak munafik kalau devan sangat tampan.
"Jangan mengalihkan perhatian, dan jangan menolak sentuhan saya, layla. Saya sudah setuju kalau saya tidak akan menyentuh kamu lebih tapi saya tidak setuju jika kamu menolak ini" kata devan mencium singkat bibir layla.

"Ta---"

Devan langsung mencium bibir layla bruntal, layla berusaha melepaskan ciuman yang malah semakin menjadi-jadi. Lama kelamaan layla mulai hanyut dalam buaian devan yang lembut. Reflek layla mengalungkan tangannya di leher devan membuat sang empu tersenyum miring, devan melepaskan ciumannya menatap sendu layla. "Bagaimana kalau kita melakukannya sekarang?" Tanya devan.

Layla melotot sempurna ia menatap devan. "J-jangan seka----"

"Kenapa? Saya sudah menuruti kemauan kamu" potong devan.

Layla diam beberapa detik sebelum ia mengangguk pelan. "Sebentar dulu" ucap layla mendorong paksa devan ia berjalan menuju laci kecil mengambil sesuatu dari sana meminumnya dengan air yang hanya setengah.

Devan mengerutkan keningnya ia tidak tahu apa yang istrinya lakukan. "Lagi apa?" Tanya devan memeluk layla dari belakang mengelus perut layla.

Layla membalikkan tubuhnya menghadap devan. "Aku mau melakukannya asalkan kakak harus menuruti kemauan aku" kata layla tersenyum tipis.

"Apa?" Tanya devan.

"Aku mau ganti laptop" cicit layla.

Devan diam beberapa detik sebelum ia mengangguk kecil. "Hanya itu?" Tanya devan. Yang langsung diangguki layla pelan. Mungkin nanti layla akan meminta sesuatu yang lebih dari laptop.

"Bukan itu saja, tapi aku juga---"

"Saya akan menuruti kemauan kamu karena saya berkerja sekarang ini untuk kamu" potong devan membopong tubuh layla ke kasur. Devan langsung mencium lembut bibir layla membuat sang empu menhan suara yang menjijikkan.

"Ini sudah sore lebih baik besok aj---"

Devan langsung membuka paksa pakaian layla membuat sang empu melotot sempurna, devan tersenyum miring ia melepaskan pakaiannya di depan layla membuat sang empu memejamkan matanya. "Siap?" Tanya devan tersenyum manis.

"E-en---ARGHHHHH" teriak layla mencengkeram rambut devan.

Devan tersenyum manis ia langsung melakukannya dengan perlahan sesekali menghapus air mata layla yang keluar. "Akhirnya kamu miliki saya sesuatunya layla" gumam devan.

Layla menangis sesenggukan ia memukul dada devan. "S-sakit k-kak. Jahat banget HWAAAA" tangis layla kencang.

Devan hanya terkekeh ia terus menghapus air mata layla. Ini pertama kalinya ia merasakan cinta yang begitu besar pada permepuan.

Devan menatap layla yang tidur pulas, karena kasihan ia menyudahinya. Ternyata baru jam sepuluh malam, menatap tubuh layla yang tidak mengenakkan sehelai benang pun. Mengambil ponselnya memotretnya beberapa. Entah kenapa ia merasakan ada keanehan di antara daniel dan istrinya.

Mengambil celana pendeknya dan kaosnya, ia turun ke lantai bawah menemui keluarganya. "Kalian udah makan malam?" Tanya devan duduk di sofa ruang tengah.

Mereka menoleh menatap devan yang penampilannya sangat berantakan. "Biasanya rapi ko sekarang berantakan gini rambut aja kucel gitu?" Tanya jelita menatap anak sulungnya.

Devan tersenyum tipis. "Malam ini malam yang sang----"

"Kak devan" teriak layla turun dari lantai dua berjalan cepat menghampiri suaminya, sungguh ia menahan sakit di selangkangannya, agar mereka tidak curiga. "Kenapa cepat banget sih ada di sinj?" Tanya layla menatap devan.

"Ko udah bangun tadi kamu masih tid---"

"Diam. Jangan bilang sama mereka kalau kakak perkosa aku" bisik layla tajam.

"Kapan aku perkosa ka?---"

"Diam! Atau tidur diluar" kesal layla mencubit perut devan kesal.

"AHK.." ringis devan. "Sakit sayang, KDRT terus" cicit devan.

Daniel menatap datar layla. "Disini masih ada orang" sindir daniel.

Layla menoleh ia tersenyum tipis. "Cailah adik ipar baperan banget" goda layla tersenyum manis menatap daniel yang menatapnya dingin.

"Enggak lucu" sinis daniel.

Kayla turun dari sofa duduk lesehan di karpet bulu melahap brownies kukus yang entah siapa yang buat. "Aku lagi enggak ngelawak" kata layla menahan tawa melihat wajah daniel yang semakin kesal.

"Gue ke dapur dulu" pamit daniel beranjak dari duduknya berjalan melewati layla.

"Kayanya dia lagi banyak tugas jadinya dia marah-marah terus" ucap jeno.

Layla menepis tangan devan yang mengelus lehernya. "Dasar enggak tau tempat" sinis layla. "Aku mau ambil minum dulu" pamit layla beranjak dari duduknya sebisa mungkin ia berjalan normal.

Layla menatap daniel yang sedang minum di dapur, menutup pintu dapur. "Sayang---"

"Apa? Jangan panggil gue sayang" potong devan sinis.

Layla memeluk daniel dari belakang. "Jangan marah dong, masa pacar aku marah sih. Aku cuma akting biar mereka enggak ada yang curiga kalau kita pacaran, aku cintanya sama kamu doang" kata layla.

Daniel menatap layla. "Gue sebenarnya cap---"

"Aku kamu, jangan gue-gue" potong layla kesal.

Daniel mengangguk. "Aku capek kaya gini terus aku pengen banget bilang sama semua orang kalau kamu pacar aku, permepuan yang sangat aku cintai" lirih daniel.

"Oh, jadi mereka pacaran" gumam seseorang dibalik tembok dapur.

***

background biru Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang