Makan malam kali ini sangat hening layla terus melirik daniel yang fokus dengan makanan dihadapannya, enggan menatap wajah dirinya jujur layla sangat tidak nyaman di keadaan seperti ini. Sangat canggung dan menegangkan.
Devan menatap istrinya yang enggan menyentuh makanan, devan mengambil alih sendok yang sedang kayla pegang menyendok nasi di piring layla, mengarahkan ke mulut layla. "Buka mulutnya" kata devan tersenyum tipis.
Layla melirik daniel yang juga sedang meliriknya, layla menerima suapan pertama dari suaminya perasaannya campur aduk, kenapa ia harus dipertemukan dengan kedua orang yang sangat ia benci, dan yang sangat ia cintai, sekarang.
Jovi melirik layla yang terus menatap daniel, sepenuhnya mereka saling mengenal satu sama lain, terlihat dari tatapan mereka berdua. Jovi menyudahi acara makannya menatap kedua orangtuanya yang belum selesai makan, lebih tepatnya melambatkan makannya supaya bisa melihat abang dan kakak iparnya yang sialnya mantan pacarnya.
Treng...
Daniel menaruh sendok makan cukup keras ia menatap mamah papahnya tanpa menatap layla. "Gue mau ke kamar dulu, banyak tugas yang belum selesai" bohong daniel ia langsung beranjak dari tempat duduk meninggalkan keluarganya yang menatapnya dengan tatapan heran.
"Daniel, kita ngobrol di ruang tengah dulu" teriak jeno.
"Duluan aja nanti daniel nyusul" teriak daniel dari lantai dua.
Jovi berdiri ia tersenyum tipis saat tatapnya bertemu dengan mata indah milik layla. "Jovi ke ruang tengah dulu" pamit jovi beranjak dari tempat duduknya.
Tidak lama kedua orangtuanya berpamitan ke ruang tengah, tersisa layla dan haidar yang masih duduk. "Udah selesai?, kalau udah kita kumpul di ruang tengah" ucap devan.
Layla mengangguk ia langsung beranjak dari duduknya menghampiri keluarga suaminya. ternyata di sana sudah ada daniel yang sibuk dengan ponsel di genggamnya, layla menggeser duduknya sedikit menjauh dari suaminya. devan yang menyadari istrinya menjauh ia menarik pinggang layla membuat layla tersentak kaget, astaga! Ini terlalu dekat bahkan tidak ada jarak diantara mereka berdua.
"Jovi, kamu urus rumah sakit papah aja, jangan kembali ke Australia terlalu jauh, papah sama mamah khawatir" kata jeno.
Jovi mengangguk kecil. "Baru aja Jovi mau bilang gitu, eh papah udah nawarin" kekeh jovi.
Jeno menatap daniel yang sibuk dengan ponsel digenggamnya, merebut paksa ponsel daniel. "Papah selalu bilang sama kalian bertiga, kalau lagi kumpul dilarang main ponsel" tegas jeno.
Daniel mengangguk pasrah ia melirik layla. "Fine. Dilarang mesra-mesraan di depan adik-adiknya yang belum menikah" sindir daniel melirik abangnya yang sedang mengelus rambut layla. Yang dulu hanya ia yang berani mengelus rambut indah layla tapi sekarang ada pria yang lebih berhak atas layla.
Refleks layla menepis tangan devan dari kepalanya. "Dengerin tuh, jangan sentuh aku" sinis layla menjauh dari layla.
Jovi terkekeh kecil. "Haha. Yang dulunya bang devan anti banget sama cewek, ke senggol aja ngamuk sekarang mesra-mesraan di depan kita semua, wow. Perubahan yang sangat luar biasa" kekeh jovi hambar.
"Kayanya ada yang spesial dari layla, apa tuh?" Tanya junita menggoda anak sulungnya.
Devan tersenyum tipis melirik istrinya. "Jelas dong. selain cantik, dia juga baik" jawab devan.
"Baik tidak akan selingkuh" ucap daniel melirik layla.
Layla menatap sedih daniel. "Tidak ada yang selingkuh, terkadang kita harus merelakan seseorang demi kebahagiaan orang lain" kata layla.
"Jika demi kebahagiaan orang lain, lantas orang yang kamu sakiti itu siapa?, Setan?, Zin?, Atau hewan?, Hahah" kekeh daniel hambar.
Layla tersenyum miris. "Bukankah wanita yang kamu maksud itu sudah meminta tolong tapi pria itu tidak percaya dengan ucapan perempuannya"
Devan, jovi, jeno, junita mereka tidak paham maksud layla dan daniel seperti sedang sindir menyindir. "Kamu bicara apa sih, sayang?" Tanya devan penasaran.
Layla menoleh ia tersenyum tipis. "Tidak. Mah, pah, kak, aku masuk kamar dulu" pamit layla tanpa melirik jovi dan daniel.
Layla menatap langit kamar suaminya yang sekarang ini menjadi kamarnya juga, layla tidak menyangka ia disatukan dengan dua pria yang sangat ia kenal. "Selamat datang layla yunita, selamat datang di kehidupan baru yang penuh lika-liku" lirih layla.
Tidak lama devan masuk kamar menghampiri istrinya yang meliriknya sinis. "Semoga kamu betah" kata devan merebahkan tubuhnya di samping layla.
Layla hanya diam, menarik guling ditengah-tengah. "Jangan lewatin batas ini" kata layla menepuk guling di tengah-tengah mereka.
Devan menatap datar istrinya melempar guling yang membatasi mereka, ia menggeser tubuhnya lebih dekat dengan layla, membuat sang empu ketar-ketir. "Kita sah suami istri, tidak perlu pakai batas-batas seperti ini" kata devan menarik istrinya lebih dekat dengannya.
"Kita menikah karena perjodohan, jan---"
"Saya tidak peduli, sekarang kau istri saya" kata devan menarik layla ke dekapannya membuat sang empu melotot syok dan memberontak minta dilepaskan. "Diam, layla" kata devan.
Layla diam ia menatap dada bidang tegas devan, harum parfum membuat ia betah di dekapan haidar. "Pakai parfum apa? harum banget?" Tanya layla mendongak menatap devan yang tersenyum tipis.
Devan menggeleng pelan. "Lagi enggak pakai parfum, kamu suka?" Tanya devan.
Layla menggeleng cepat. "E-enggak, aku cuma---"
Dug.
Devan membenturkan kepala layla ke dadanya. Membuat sang empu kaget. "Sah-sah aja, lebih juga boleh" ucap devan tersenyum miring.
Layla berusaha melepaskan pelukan suaminya yang semakin erat. "Lepas, aku tidak mau seperti ini, aku mau tidur pisah kamar aja" teriak layla.
Devan menggeleng. "Enggak. saya mau tidur sambil peluk kamu" tolak devan semakin mempererat pelukannya.
"Nyebelin" teriak layla kesal.
Devan mencium kening layla membuat sang empu melotot kaget, belum sempat komentar bibirnya sudah dilahap devan, menciumnya lembut membuat jantung layla berdenyut keras, layla mendorong wajah devan yang langsung devan tahan.
"L-lepas a-aku e-enggak bisa n-nafas" ucap layla terbata-bata.
Devan melepaskan ciumannya, ia langsung turun ke leher layla mencium leher layla brutal membuat sang empu meringis. "Saya tidak akan lebih, layla, tenang saja" bisik devan. Ia tahu istrinya takut ia kebablasan walaupun dirinya sendiri tidak yakin bisa menahan nafsunya.
"Uemmmm" lenguh layla.
Devan tersenyum tipis menatap hasil karya miliknya terlihat jelas di leher layla. "Cantik. kita tidur sudah malam" ajak devan memeluk layla erat.
Layla mengangguk ia memejamkan matanya menyusul semuanya yang sudah tidur pulas. devan membuka matanya menatap istrinya yang tidur di lehernya nafas layla menghembus mengenai leher jenjang devan membuat sang empu kegelian.
"Entah perbuatan baik apa yang saya lakukan, sampai dapat istri yang selama ini saya idamkan, perempuan yang selama ini saya cintai dalam diam kita ada dihadapan saya, kini jadi istri sah saya" lirih devan mengelus kepala layla.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
background biru
Fiksi RemajaLayla Yunita harus menikah dengan kakak pacarnya sendiri, atas paksaan kedua orangtuanya, pria yang tidak ia kenal. dan naasnya ia harus satu rumah dengan pacarnya, mantannya, dan suaminya sendiri. satu rumah tiga orang tiga rasa yang berbeda-beda. ...
