22. Lani Reymond

192 6 4
                                        

Layla, putri, lita mereka bertiga ada di restoran tempat mereka sering menghabiskan waktu masih kuliah. Layla memejamkan matanya menahan perasaan bersalahnya pada anak dan suaminya.

"Lo itu egois lay, lo ninggalin anak lo di hari iru juga bahkan bayi lo masih merah. Dan sekarang lo----"

"Jangan bahas itu gue tau gue egois, keegoisan gue tidak sebanding dengan rasa sakit yang devan lakuin ke Daniel yang tentunya nyakitin perasaan gue. Mereka memisahkan gue sama daniel selama dua tahun lamanya" potong layla.

"Daniel sudah meninggal lay" lirih putri.

"Sadar lo sama daniel beda dunia" imbah lita.

Layla menatap kedua temannya. "Daniel masih hidup gue yakin itu" bantah layla kekuh dengan keyakinannya.

"Terserah lo" kesal mereka berdua.

"Mamahhhh" Teriak bocah dua tahun berlari menghampiri layla memeluk lutut layla. "Mamahh" beo anak itu.

"Eh" kaget layla menatap anak kecil yang tidak lain tidak bukan ialah anaknya sendiri. "K-kamu" kagetnya.

"Anak lo" Ucap lita dan putri.

"Mamamhh" beo anak itu.

"La sayang jangan lari-lari" Teriak devan ngos-ngosan mengejar anaknya yang berlari cepat padahal layla maish kecil tapi larinya sangat kencang.

Layla mendongak menatap devan kaget yang juga sama terkejutnya melihatnya, layla langsung mendorong pelan anak kecil itu sampai terlepas pelukannya, mundur dua langkah menghindari devan yang terus maju.

"L-layla saya tau kamu layla kan?" Tanya devan lirih.

Layla menggeleng pelan. "B-bukan saya bukan layla" jawab layla bohong.

Devan tersenyum tipis melirik kedua teman layla. "lalu kenapa kamu berkumpul dengan mereka? Kalau kamu bukan layla?. Mereka kedua sahabat kamu berarti kamu layla istri saya"

"Mamah" panggil anak kecil itu berjalan mernagkang. "Mamah" beo La.

Layla menatap anaknya. "S-saya bukan mamah kamu" ucap layla.

Devan semakin lekat menatap layla. "Dia tidak memiliki nama kasih nama anak kita" suruh devan.

Layla mendongak menatap devan. "M-maksudnya?" Tanya layla.

"Saya belum kasih nama anak kita, saya berjanji kalau saya sudah menemukan kamu, baru anak kita memiliki nama yang kamu kasih" jawab devan.

Mata layla membulat sempurna, menatap prihatin anaknya. Membopong tubuh mungil itu. "Kamu tidak memiliki nama?" Tanya layla.

Anak kecil itu mengangguk polos.

Layla meneteskan air matanya devan yang melihat itu yakin kalau wanita dihadapannya ini istrinya. "Kau mau aku kasih nama?" Tanya layla lagi.

Anak kecil itu mengangguk kembalikan.

"L-lani. Nama kamu lani mau?" Tanya layla.

"Mauuuu" jawabnya.

Devan tersenyum tipis. "Lani Reymond" imbah devan.

Layla menghapus air matanya, kembali menaruh lani. "A-aku harus pergi" ucap layla langsung berlari cepat meninggalkan mereka.

"Mamah" teriak lani.

Devan menahan lani untuk tidak mengejar layla. "Nanti kita samperin mamah oke" bujuk devan.

***

Malam harinya layla lebih memilih tidur daripada kumpul barang teman-temannya yang tidak paham perasaannya, layla memejamkan matanya baru jam menutup matanya suara ketukan pintu membuat ia kembali membuka matanya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 05, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

background biru Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang