9. pindah rumah

112 4 0
                                        

Layla enggan melirik jovi yang sedari tadi terus menatapnya tanpa sepengetahuan keluarganya termasuk abangnya sendiri, layla memejamkan matanya mengingat kejadian waktu itu membuat ia sedih dan merasa jijik pada dirinya sendiri.

"Kamu kenapa?" Tanya devan mengangetkan layla.

Layla menggeleng lemah. "Tidak. Aku cuma rindu sama mamah papah" jawab layla lirih.

Devan mengelus rambut layla lembut. "Nanti selesai saya meeting kita ke rumah mamah, papah, kamu jangan sedih gitu" kata devan ikut sedih.

Layla mengangguk. "Hm." Gumam layla lemah.

Jeno menatap devan. "Devan, layla, papah sama mamah bukan ngusir kalian dari sini, papah cuma mau kalian mandiri untuk tinggal berdua saja. Maksudnya biar kalian tidak terganggu sama kami, kalian juga biar berduaan terus" kata jeno.

Devan menatap papahnya. "Bukannya kalian yang tidak mengizinkan kami untuk tinggal berdua dirumah terpisah kenapa sekarang berubah?" Tanya devan heran.

Junita mengangguk. "Ya. Kami pikir-pikir lagi lebih baik kalian tinggal berdua, kami khawatir kalau kalian masih tinggal di sini sedangkan jovi sama daniel belum menikah" jelas Junita.

Layla melirik daniel yang menggeleng. "Ya, aku setuju sama papah dan mamah, lebih baik kita tinggal berdua supaya tidak menimbulkan fitnah" kata layla setuju dengan saran mertuanya. Lebih tepatnya ia ingin menghindari jovi.

"Lho. Apa masalahnya sama kami berdua kami tidak memiliki hubungan apa-apa" kata daniel tidak setuju.

Jovi mengangguk. "Benar yang dikatakan daniel, buat apa pindah rumah sedangkan rumah ini saja besar" imbah jovi.

Devan menatap kedua adiknya. "Kalian kenapa ikut campur? Terserah saya dong mau tinggal dimana" kata devan.

Layla melirik jovi yang meminta pembelaan, layla berpura-pura tidak melihat. "Aku mau urus kak devan sendiri, kalau disini apa-apa pelayan yang bantu kalau berdua doang, kan. Aku yang urus kak devan" kata layla.

Daniel menatap datar layla, ia langsung beranjak dari duduknya meninggalkan semua orang yang keheranan, begitupun jovi ia langsung masuk kamar.

***

Layla masuk kedalam rumah yang berlantai dua, tidak kalah mewah dengan rumah mertuanya. Puas melihat-lihat ia langsung masuk kamarnya yang ada dilantai dua, menyusun pakaiannya dan pakaian suaminya.

Cklek.

"Sayang, sepertinya kita harus ada yang bantu untuk beresin rumah supaya kamu tidak kecapekan" kata devan memeluk layla dari belakang.

Layla menatap tangan devan di perutnya, entah kenapa ia semakin merasa sangat bersalah atas kejadian waktu itu. Menggeleng pelan. "Tidak usah, aku mau urus rumah sendiri aja nanti kalau aku kecapekan aku bisa telpon pelayan yang ada di rumah mamah buat bantu-bantu" tolak layla.

Devan membalikkan tubuh layla. "Pokonya satu Minggu dua kali pelayan yang ada di rumah ke sini buat bantu kamu beres-beres, titik." Kekuh devan.

"Terserah kamu" pasrah layla.

Devan mencium singkat bibir layla. "Kalau gitu saya keluar dulu mamah sama papah pasti sudah sampai" pamit devan.

Layla hanya mengangguk pelan ia kembali membereskan pakaiannya menatap dirinya di pantulan cermin.

"Dia baik, sedangkan aku....aku perempuan yang menjijikkan" cicit layla sedih.

background biru Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang