10. kepergok daniel

112 4 0
                                        

Layla duduk di samping devan yang sedang mengobrol dengan kedua adiknya, jovi dan daniel. Layla melirik jovi yang terus tersenyum manis meliriknya. layla menyenderkan kepalanya di sandaran sofa rasanya ia tidak nyaman di posisi seperti ini.

"Kepala aku pusing kak" lirih layla.

Devan menoleh menatap istrinya khawatir. "Kamu sakit?" Tanya devan khawatir.

Layla mengangguk pelan. "I-iya" jawab layla lirih. "Kayanya aku cuma kecapekan" lanjutnya melirik daniel.

"Biar gue priksa aj----"

"Enggak! Gue enggak mau di periksa lo" tolak layla cepat dengan tatapan dinginnya.

Devan Menatap istrinya yang menatap jovi dengan tatapan kebencian. "Kalian kenapa jadi ribut gini, sayang kamu Di priksa dulu supaya kita bisa tau kamu sakit apa saya takut kamu sakit serius" bujuk devan.

Layla Menggeleng cepat. "aku en---"

"Sayang, turuti saya atau kamu tidak saya izinkan keluar?" Ancam devan.

Layla mengangguk pasrah, menatap jovi yang tersenyum tipis senyum yang layla benci. "Dulu senyum itu gue rindukan tapi sekarang senyum itu gue benci" batin layla.

Jovi menatap devan. "Kita ke kamar supaya lebih nyaman saat di priksa" ucap jovi. Devan mengangguk sedangkan layla terlihat pasrah ia tahu rencana di otak jovi. Sedangkan daniel ia hanya diam ditempat menatap mereka bertiga naik kelantai atas ia sedikit curiga dengan jovi dan layla mereka seperti ada hubungan.

Jovi memberhentikan langkahnya tepat di kamar layla. "Abang ambilkan air hangat buat kak layla" suruh jovi yang langsung devan angguki tanpa rasa curiga, sedangkan layla keringat dingin melihat senyum misterius jovi.

Layla merebahkan tubuhnya di kasur enggan menatap wajah jovi. "jangan macam-macam atau gue Teriak" ancam layla.

Jovi terkekeh kecil menahan tangan layla erat. "Cuman satu macam doang ko jangan khawatir gitu" bisik jovi.

"L-lepas, gue teriak nih" ancam layla berusaha mendorong wajah jovi yang semakin dekat dengan wajahnya. Sungguh ia takut melihat jovi yang seperti ini. Jovi terkekeh kecil melihat wajah panik layla, wajahnya semakin maju satu senti lagi bibirnya mendarat di bibir layla namun sayangnya pintu dibuka paksa dari luar.

Brak.

Daniel masuk kedalam menarik belakang baju Jovi. "Maksud lo apa? Kenapa priksa layla begitu dekat?" Marah daniel tidak terima.

Jovi menepis tangan daniel. "Lo salah paham gue lagi pri----"

"Lo Suka sama layla?" Potong daniel menahan emosi.

Jovi terkekeh kecil ia mengangguk pelan. "Kalau iya lo mau apa?, Gue suka layla puas?" Tanya jovi melirik layla yang ada di samping daniel menganggam tangan daniel.

Daniel hampir memukul jovi namun langsung ditahan layla. "Jangan, kita bicarakan nanti" ucap layla memeluk daniel dari belakang.

Daniel melepaskan pelukannya menatap layla tajam. "Sejak kapan lo punya hubungan sama abang gue? Jangan pernah menyembunyikan sesuatu dari gue" marah daniel.

***

Devan memeluk istrinya dari samping layla kalau tidur ia tidak akan peduli devan melakukan apapun, devan terkekeh kecil melihat wajah polos istrinya. Mengelus bibir layla lembut mata devan melotot kaget melihat layla mengemut-ngemut jempolnya.

Senyum devan mengembang melihat layla yang bergeser lebih dekat dengannya. "Bayi besar" gemes devan.

Layla terbangun dari tidurnya  mengerjapkan matanya menunduk melihat tangan suaminya yang ia kemut. "Eh, maaf" kaget layla melepaskan pelukannya dan menjauh dari devan.

Devan terkekeh geli menarik layla lebih dekat. "Baru tau kalau kamu suka-----"

"Ish jangan di terusin aku malu" teriak layla menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.

Davan terkekeh kecil. "Yasudah sekarang kamu mandi nanti kita sarapan bersama" suruh devan melepaskan pelukannya.

Layla mengangguk ia langsung berlari masuk.kamae mandi, sedangkan devan ia memilih mandi di kamar mandi lain layla tipe cewek yang sangat lama jika sedang mandi. Bisa hampir setengah jam lebih.

Layla langsung siap-siap ia memakai pakaian santai dan berjalan keluar kamar melirik jovi dan daniel yang masih saling bertatapan tajam, mereka menginap katanya ada perlu dengan devan.

"Mau lauk apa?" Tanya layla melirik devan, mengambil piring kosong menyendok kan nasi goreng.

"Ada telor ceplok doang sayang, masa masih nanya" jawab devan gemes.

Layla menggaruk kepalanya yang tidak gatal ia tidak fokus terus ditatap daniel dan jovi. "Hehe lupa" kekeh layla ia duduk di samping devan enggan menatap kedua pria yang terus menatapnya dengan tatapan yang sama.

Mereka sarapan dengan hening tidak ada yang bicara, layla sesekali melirik daniel dan jovi yang terlihat malas sarapan. Selesai sarapan mereka langsung duduk di ruang tengah. "Kalian mau bicara apa?" Tanya devan mengelus rambut layla lembut.

Daniel mendengus kasar. "Bisa enggak sih jangan pamer gitu gue males lihatnya enggak ngehargain banget jadi abang" kesal daniel.

Mendengar itu layla langsung berpindah duduk sedikit menjauh dari devan. "Lanjut aja kalian mau ngobrol apa? Atau perlu aku buatkan minum?" Tanya layla tidak enak.

"Enggak" jawab daniel cepat.

Devan mendengus ia menatap kedua adiknya. "Cepat katakan apa yang kalian mau bicarakan?" Tanya devan malas.

"Kami kesini mau minta uang" jawab jovi dan daniel serampak.

Devan dan layla melongo mendengar jawaban mereka yang diluar ekspektasi Mereka berdua. "Minta uang?" Tanya devan memastikan pendengarannya tidak bermasalah.

Mereka mengangguk. "Ya, gue lagi enggak punya uang makannya gue minta uang ke lo" daniel melirik jovi yang hanya mengangguk. "Kalau dia sih enggak tau mungkin dia mau minta nyawanya di cabut" lanjutnya.

Jovi melotot sempurna. "Enak aja, gue juga mau minta uang sama bang devan" sewot jovi.

Devan menatap mereka berdua tidak biasanya mereka minta uang, bahkan ini pertama kalinya mereka minta uang pada dirinya secara langsung. "Kalian tidak salah minta uang sama saya?" Tanya devan menatap mereka berdua.

Daniel menggeleng. "Tidak, gue lagi butuh uang buat bayar kuliah tabungan gue enggak cukup gue takut minta sama bokap" jelasnya.

"Gue jug----"

"Lo udah jadi dokter lo punya penghasilan" potong daniel.

Jovi mengeram kesal. "Belum gajia----"

"Lo juga punya perusahaan masa lo enggak punya uang" potong daniel tersenyum miring.

Jovi menatap tajam daniel. "Lo bisa enggak sih jangan potong ucapan gue? Bukan urusan lo asal lo tau" marah jovi.

"Terus? Gue harus diam aja gitu?" Tanya daniel memancing emosi jovi.

Devan yang melihat kedua adiknya marah ia meraup wajahnya kesal. "Saya akan transfer setelah itu kalian silahkan pulang dan jangan pernah bertengkar lagi, daniel kamu kuliah yang benar dan jovi kamu jangan bertengkar terus sama daniel dia adik kamu lho" ucap devan menatap mereka berdua.

"Adik perebut pacar orang" sinis jovi.

Layla menatap daniel yang hendak marah ia menggeleng pelan. "Kalian pulang jan----"

"Pelit banget jadi kakak ipar" sinis daniel dan langsung pergi.

****

background biru Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang