Daniel dan layla asyik berciuman di apartemen milik daniel bahkan mereka rela bolos bersama demi menghabiskan waktu mereka berdua seperti ini. Sedangkan teman-temannya sedari tadi asyik mengobrol di ruang tengah, gara-gara daniel dna layla mereka ikut bolos bersama.
Daniel melepaskan bajunya menyisakan kaos dalamnya menatap layla yang duduk manis sambil menggelung rambut. "Kalau kaya gini kamu makin cantik aja" puji daniel duduk di samping layla mengelus pipi layla lembut.
Layla tersenyum manis duduk di pangkuan daniel mengalungkan tangannya di leher daniel. "Jelas cantik siapa dulu pacarnya, daniel gitu lho" pede layla.
Daniel mengelus leher layla membuat sang empu merinding. "Aku pengen banget berdua gini sama kamu setiap hari, bahkan setiap detik" bisik daniel mengigit pelan daun telinga layla.
Layla mendorong pelan wajah daniel. "Seandainya kak devan itu kamu mungkin aku bahagia" ucap layla duduk di pangkuan daniel.
Daniel melepaskan dua kancing baju atas layla. "Tidak papa. Yang penting kita masih bisa bertemu dan berduaan seperti ini walaupun harus ngumpet-ngumpet" kata daniel.
Layla tersenyum tipis mencium leher daniel membuat sang empu mendesah pelan. "Kamu jangan seli----"
TOK.TOK.TOK.
Layla dan daniel menoleh kepintu yang diketuk dari luar cukup keras. "Pasti anak setan itu" kesal daniel pada teman-temannya. Daniel tidak merespon ia terus mencium layla begitupun sebaliknya. Anggap saja mereka gila!.
"Daniel buka pintunya" teriak seseorang yang sangat mereka kenali.
Deg
Mereka saling berpandangan satu sama lain. Layla menatap daniel. "I-itu s-suara k-kak devan" cicit layla was-was.
Daniel mengangguk ia menarik layla ke kamar mandi. "Jangan keluar sebelum aku suruh, oke?"
Layla mengangguk.
Daniel berjalan santai ia membuka pintu dengan tatapan biasa walaupun jantungnya berdegup kencang. "Apa? Tumben kesini?" tanya daniel menatap abangnya.
Devan menatap daniel dari atas sampai bawah. "Lo masukin cewek ke apartemen?" Tanya devan curiga.
Daniel menoleh menatap teman-temannya yang hanya diam berpura-pura tidak melihat. Daniel menggeleng. "E-enggak. Gue abis ti---"
"Leher lo merah, kaos lo ada bekas lipstik sofa itu berantakan" potong devan menatap isi kamar daniel yang berantakan.
Daniel mendengus kesal. "Gue udah dewasa gue tau man---"
"Kemana layla? Kenapa dia enggak masuk kuliah?" Tanya devan memotong ucapan daniel.
Deg
Daniel menutup pintu kamarnya berjalan menuju sofa dekat teman-temannya. "Duduk dulu jangan berdiri gitu" ajak daniel. Menoleh menatap teman-temannya. "Kalian kenapa enggak bilang kalau ada bang devan?" Bisik daniel kesal.
"Kita telpon lo daripada tapi lo enggak mau jawab" bisik Mereka.
"Kemana istri gue?" Tanya devan kesal.
"D-dia main sama temannya" jawab daniel.
"Kemana?" Tanya devan.
Daniel menggeleng. "Enggak tau, gue antar dia sampai kampus dan tadi----"
"Kalau terjadi sesuatu sama istri gue lo bakal nyesel" marah devan keluar apartemen daniel.
***
Devan menatap layla dari atas sampai bawah. "Abis darimana kenapa telponnya enggak aktif?" Tanya devan dingin.
Layla berjalan menghampiri devan sepertinya ia harus berbuat sesuatu supaya devan tidak marah, mengalungkan tangannya di leher devan. "Aku abis ke mall sama teman kampus aku dulu, ponsel aku mati gara-gara aku lupa charger. Kamu jangan marah-marah dong" ucal layla manja.
KAMU SEDANG MEMBACA
background biru
JugendliteraturLayla Yunita harus menikah dengan kakak pacarnya sendiri, atas paksaan kedua orangtuanya, pria yang tidak ia kenal. dan naasnya ia harus satu rumah dengan pacarnya, mantannya, dan suaminya sendiri. satu rumah tiga orang tiga rasa yang berbeda-beda. ...
