Layla keluar dari mobil sang suami ia langsung masuk kampus berjalan menuju parkiran motor menghampiri daniel yang sedang ngobrol bersama teman-temannya, layla tersenyum manis menatap daniel yang tidak sengaja meliriknya.
"Pagi sayan----"
"Gue masuk kelas dulu" pamit daniel pada teman-temannya yang mengangguk pelan.
Layla menarik tangan daniel. "Berhenti, aku bisa jelaskan semuanya kalau ini tidak seperti yang kamu kira" ucap layla.
"Apa? Kamu mau bilang kalau ini salah paham? jelas-jelas kamu selingkuh sama abang aku sendiri" kesal daniel menepis tangan layla.
Layla Menggeleng cepat. "Dia memang mantan ak----"
"Enggak usah diperjelas gue males denger lo" potong daniel menahan emosi ia langsung masuk kelas menutup pintu kelas keras. "Sial! Pengkhianat" umpat daniel.
Layla membalikkan tubuhnya ia berjalan menuju kelasnya perasaannya tidak karuan ia bingung harus menjelaskan Seperti apalagi, duduk di kursi belakang menatap lurus depan. Kenapa nasibnya tidak beruntung seperti orang lain di luar sana yang menikah karena saling cinta. Sedangkan dirinya menikah dengan kakak pacarnya dan sialnya ia memiliki mantan yang juga kakak pacarnya.
Tidak lama jam pelajaran mulai layla berusaha fokus walaupun pikirannya terus mengarah pada kejadian lalu.
***
Setelah pulang layla langsung mandi tubuhnya terasa lengket sekali, sedangkan devan langsung kembali membuka laptop mengerjakan pekerjaan yang belum selesai hari ini kerjaannya cukup banyak sampai membuat ia pusing.
Layla keluar menatap suaminya. "Kak, main ke rumah mamah yuk" ajak layla menghampiri suaminya.
Devan mendongak tersenyum tipis. "Nanti aja, ya, saya lagi banyak kerjaan" ucap devan lembut.
Layla cemberut ia duduk menghadap devan. "Kalau gitu biar aku aja sendiri aku kangen sama mamah yuni" ucap layla penuh harap.
Devan mengangguk pelan. "Yasudah nanti kalau saya sudah selesai saya kesana, dibawah ada daniel lagi naruh bunga yang dibelikan mamah untuk kamu mending kamu minta antar sama dia" ucap devan.
Mata layla melotot sempurna. "D-daniel? Aku pamit dulu" ucap layla langsung berlari keluar kamar menghampiri daniel yang sudah duduk manis di motor dan sedang memakai helm. "Daniel tunggu" teriak layla.
Daniel menoleh melirik sinis layla. "Apa? Gue buru-buru enggak udah ganggu gue" sinis daniel.
Layla mengambil kunci motor daniel. "Jutek amat, aku disuruh minta anter sama abang mu suruh anter aku ke rumah mamah yuni aku kangen mamah aku" ucap layla melipat kedua tangannya.
Daniel melepaskan helmnya kembali menatap layla yang tersenyum manis menatapnya. "Gue mau jemput cewek gue, sini kunci motor gue nanti cewek gue marah kalau gue telat jemput" ucap daniel bohong.
Deg
Layla membulatkan matanya menatap daniel dengan tatapan sulit diartikan. "J-jangan bohong aku enggak suka dibo----"
"Gue enggak pernah bohong dan selingkuh enggak kara lo" potong daniel merebut paksa kunci motor dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi Meninggalkan layla yang meneteskan air matanya.
"I-ini pasti bohong" lirih layla berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau daniel tidak akan seperti itu. layla masuk kedalam rumah masih dengan air mata yang mengalir ia duduk di ruang tengah. "K-kalau benar bagaimana? Aku tidak akan sanggup" cicit layla.
"Lho belum berangkat?" Tanya devan Kaget melihat istrinya masih di rumah.
Layla mengusap air matanya cepat menatap devan. "Daniel udah pergi, aku pergi sendiri aja udah pesan taksi juga" ucap layla tersenyum tipis.
Layla tidak diizinkan naik mobil karena layla sangat ceroboh makanya itu keluarganya tidak mengizinkan, termasuk devan. Tapi bukan layla namannya kalau menurut begitu saja, jika kedua orangtuanya tidak ada di rumah ia akan jalan-jalan bersama teman-temannya mengendarai mobilnya sendiri.
"Kamu abis nangis?" Tanya devan menatap mata layla.
Layla menggeleng cepat. "Tadi ada debu ke mata" elak layla.
Tidak lama taksi datang layla langsung pamit, didalam taksi ia terus bengong ia tahu betul kalau daniel tidak pernah bohong. Apakah daniel benar-benar sudah melupakan dirinya?.
Layla langsung keluar setelah membayar ongkos ia langsung masuk kedalam rumah merebahkan tubuhnya di kasur, melewati keluarganya yang kaget melihat layla ada di sini.
"Itu anak datang-datang cemberut" ucap yudi geleng-geleng kepala.
"Ko enggak sama suaminya?" Tanya yuni.
"Mungkin lagi sibuk" sahut yesi.
Sedangkan layla ia kembali menangis melihat postingan daniel yang sedang pegangan tangan dengan perempuan lain, dadanya sesak melihat itu melempar keras ponsel mahalnya sampai pecah. Mengacak-acak kasurnya. "Hiks, kenapa kamu selingkuh dari aku hiks." Isak layla terus menangis tersedu-sedu.
***
Layla keluar setelah mendengar suara mamahnya yang terus memanggilnya menyuruhnya untuk turun, menghampiri devan yang sudah menunggunya. "Aku mau nginep di sini dulu kak" ucal layla menatap devan.
Devan menatap wajah layla yang sembab. "Kamu abis nangis? Ko mata kamu sembab?" Tanya devan khawatir.
Layla menggeleng pelan. "Aku alergi obat" layla menatap kedua orangtuanya yang menatapnya curiga. "Boleh aku nginep si sini?" Izin layla menatap mamah dan papahnya.
"Boleh dong ini rumah kamu, sayang" ucap yuni memeluk anaknya.
Layla tersenyum tipis. "Kalau kakak mau pulang duluan aja, aku mau nginep untuk beberapa hari di sini" ucap layla.
"Tap----"
"Aku masuk kamar dulu jangan ada yang ganggu aku" setelah mengatakan itu ia langsung naik kelantai dua masuk kedalam kamar.
Yudi menatap devan. "Kalian lagi bertengkar?" Tanya yudi khawatir.
Devan menggeleng cepat. "Enggak, kita baik-baik aja sebelum kesini juga kita baik-baik aja" jawab devan cepat.
"Terus kenapa adik gue gitu?" Tanya yadi.
Devan menghendikan bahunya. "Gue juga enggak tau, kayanya ada masalah di kampus" jawab devan.
Layla duduk di balkon kamar menatap lurus depan malam ini sangat dingin, layla tersenyum hambar. "Sekecewa itukah kamu sampai kamu bisa secepat itu melupakan aku?. Kamu berjanji tidak akan selingkuh tapi kamu sendiri yang ingin, aku akui kalau aku mengkhianati kamu tapi itu semua bukan keinginan aku sendiri" lirih layla menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya terisak mengigat dan membayangkan daniel bersama Perempuan lain.
Layla masuk kamar rebahkan tubuhnya di kasur yang berantakan, tubuhnya lemas seharian ia menangis dan tidak memakan apapun. Kedua orangtuanya yang terus menyuruhnya makan namun layla terus beralasan kalau dirinya sudah makan roti yang memang ada banyak cemilan di kamarnya.
Sampai tidak terasa ia tidur pulas namun air matanya mengalir, layla mencengkeram guling nya entah kenapa ia sangat takut kehilangan daniel cintanya begitu besar untuk daniel.
Kalau saja masa lalunya tidak datang mungkin tidak akan seperti ini, setidaknya mengurangi rasa takut layla akan kehilangan daniel.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
background biru
Teen FictionLayla Yunita harus menikah dengan kakak pacarnya sendiri, atas paksaan kedua orangtuanya, pria yang tidak ia kenal. dan naasnya ia harus satu rumah dengan pacarnya, mantannya, dan suaminya sendiri. satu rumah tiga orang tiga rasa yang berbeda-beda. ...
