"Jo lu yakin?", tanyanya melihat mereka berdua kini berada di ruang BK.
"Ngga tau den", cicit Joshua lirih.
"Pak kok manggil kita kesini,saya ga ada salah apa-apa pak", protesnya ketika memasuki ruang BK.
Joshua dan Jaiden pun menoleh ke arah tersebut. Joshua menghela nafas panjang sedangkan Jaiden memutar bola matanya malas.
Dua orang lainnya pun ikut duduk di samping Joshua dan Jaiden. Jaiden menatap sinis pada keduanya mengingat kejadian sebelumnya.
"Loh loh bapak manggil kalian bukan buat sinis-sinisan! Kamu juga...", ia menunjuk ke arah Joshua yang sedari tadi hanya diam pun terkejut.
"Bisa ngga, ngga bikin masalah lagi. Ngga lupa kan masalah sebelumnya yang kamu perbuat", ucapan guru BK itu lantas membuat Jaiden menoleh ke arah Joshua yang kini menunduk takut.
"Loh pak, jelas-jelas kakak kelas blangsak ini yang mulai duluan. Kok malah jadi nyalahin teman saya!", bela Jaiden.
"Diam kamu! Anak baru juga ikut-ikutan bikin masalah. Farhan, Lukas kalian ini sudah mau lulus bikin ulah mulu heran deh bapak sama kalian berdua. Mau jadi apa kalian nanti?"
"Jadi manusia lah pak", sahut Farhan.
"Ngejawab lagi kamu, bapak tegaskan untuk tidak ada yang namanya pembullyan di sekolah ini lagi!", ucapnya tegas.
"Permisi", ucap seseorang yang baru saja datang di ambang pintu ruang BK.
"Iyah silahkan masuk"
Orang itu pun masuk dan berdiri tepat di samping Joshua. Joshua pun tegang kala ada sebuah tangan yang diam-diam mencubit lengannya bagian belakang, siapa lagi kalau bukan orang yang baru saja datang itu.
"Maaf pak,saya wali muridnya atas nama Joshua", ucapnya ramah.
"Ah baiklah silahkan duduk"
Orang itu duduk di samping Joshua dengan wajah datar dan dingin. Atmosfer ruangan berubah seketika menjadi dingin.
"Baik,saya hanya menyampaikan bahwa adik anda melakukan pelanggaran mengenai jam pelajaran,dirinya tidak ada di kelas saat pelajaran sains tadi", jelas guru itu.
"Lah pak,kan dia ngga ngikutin pelajaran juga dia di UKS pak,bapak lihatlah ada luka di sudut bibirnya karena siapa pak? Nih karena dua orang ini pak", protes Jaiden lalu menunjuk Farhan dan juga Lukas.
"Kamu-", ucapan guru itu di potong oleh kakak dari Joshua.
"Maafkan adik saya pak,saya akan mengajari dia lebih baik lagi"
"Bagus,didik lah dengan baik agar dia lebih baik lagi yah"
"Baik pak,kalau begitu saya dan Joshua pamit undur diri", ucapnya.
"Baik silahkan"
Joshua meremas seragam Jaiden mengisyaratkan untuk ikut keluar. Jaiden pun mengikuti Joshua serta kakaknya dari belakang.
Plak
Satu tamparan mengenai pipi mulus Joshua ketika mereka sudah sampai parkiran sekolah. Jaiden mematung melihatnya.
"Bagus yah kamu,bikin masalah lagi lagi dan lagi"
"Belum puas kamu sudah membuat bunda dan ayah tiada, lalu sekarang buat masalah yang tiada habisnya Jo?"
"Malu Jo malu! Mau jadi apa kamu kalo sekolah aja kamu ga becus!"
"Abang udah peringatkan kamu untuk pindah sekolah tapi tetep ga mau karena alasan klasik, sebentar lagi lulus. Cih!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Tinta Terakhir Ku
Novela Juvenil"Abang kalo kita pisah nantinya, jangan lupa dengan adik kecil mu ini yah", kata si bungsu Joshua Adi Dirgantara anak terakhir yang paling banyak diam dan cerita yang ia sembunyikan dari ke enam kakak laki-lakinya. "Abang nyium bau gosong ga?" "Aban...
