"Kamu penuhi kebutuhan saya di ranjang, saya penuhi kebutuhan foya-foya kamu."
"Dasar cowok sintingggg!"
•••
Dilarang pulang malam malah pulang pagi?!
Akibat kebebalan diri sendiri, Steffie Gunawan dipaksa menerima kenyataan ketika kedua orang tuan...
Jangan lupa tinggalin jejak vote dan komentar untuk baca bab selanjutnya!
Follow wattpad @gigiistories untuk bisa baca sampai tamat Follow instagram @gigi.ochiata untuk info spoiler bab selanjutnya.
Happy reading😘
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi cerah yang lumayan dingin, semalam kota Jakarta di guyur hujan deras hingga membuat pagi ini jalanan kota Jakarta tertutup kabut tipis.
meski dingin menusuk kulit dan jam baru menunjukkan pukul 6 pagi, tapi kondisi jalanan sudah memadat.
Di dalam mobil SUV putih yang melaju sedang, terdapat dua orang beda jenis kelamin yang menampilkan perbedaan ekspresi di wajah keduanya.
Pagi ini Sean tak henti menampilkan wajah cerah dengan semangat yang terpancar dari raut wajahnya. Memang wajah pria itu masih terlihat dingin, tapi jika di teliti tatapan mata Sean lebih terlihat bersemangat, jangan lupa sudut bibir pria itu yang naik 0,2 milimeter
Berbeda dengan gadis di sampingnya yang menunjukkan wajah kuyu mengantuk bercampur kesal.
Steffie sudah tau jika Sean itu bedebah mesum sialan, tapi dia tak pernah tau jika Sean lebih gila dari perkiraannya.
Semalam Steffie tidak bisa tidur dengan nyaman. Dia merasa menyerah atas Sean, dari kejadian hukuman siang kemarin bahkan Sean masih bisa mencari celah keuntungan (karyakarsa part 20).
Pria itu bahkan beberapa kali menenggelamkan kepalanya di area pusat Steffie, padahal gadis itu tengah terlelap di malam hari.
Siapa yang bisa tidur dalam keadaan menahan kegelian seperti itu?!
Alhasil Steffie tak bisa tidur lelap. Beberapa kali kesadarannya dipaksa bangun karena ulah kurang ajar Sean!
"Steffie, nanti pulangnya langsung kekantor saya aja."
"Enggakk! Udah ya, gue capek ngeladenin lo semaleman!"
Sean tak tersinggung dengan nada tinggi yang Steffie lontarkan.
Pria itu justru meraih satu tangan Steffie untuk dia genggam di atas pahanya, seulas senyum manis dia lontarkan di sela kesibukan mengemudinya.
Berbeda dengan Steffie yang langsung melirik jengah perlakuan Sean.