"Kamu penuhi kebutuhan saya di ranjang, saya penuhi kebutuhan foya-foya kamu."
"Dasar cowok sintingggg!"
•••
Dilarang pulang malam malah pulang pagi?!
Akibat kebebalan diri sendiri, Steffie Gunawan dipaksa menerima kenyataan ketika kedua orang tuan...
Kemarin aku kehabisan ide. Jadi aku baca webtoon biar otakku lancar.
Ada yang kangen Sean kah? Bilang kangen! Nanti dia ngambek!
Part ini lebih panjang dari biasanya, semoga kalian suka❤️
Jangan lupa tingalin jejak vote dan komentar🤌🏻
Happy reading😘
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Waktu berjalan cepat, tanpa sadar sudah 2 minggu lebih Steffie tinggal di apartemen Sean.
Mereka terkadang masih saling beradaptasi dengan sifat, sikap, dan kebiasaan satu sama lain. Kadang Steffie berfikir jika mereka seperti melakukan simulasi menikah.
Beberapa kali gadis itu di kejutkan dengan beberapa sifat Sean yang selama ini tak pernah di tunjukan padanya.
Steffie baru tau jika Sean bisa berteriak histeris seperti orang kerasukan hanya karena melihat ulat buah, pria itu juga sangat takut dengan serangga. Bahkan pria itu bisa turn on hanya karena Steffie memijat kepalanya saja. Kalau yang itu memang sadarnya Sean pria mesum saja!
Sean juga baru tau mengenai beberapa kebiasaan Steffie, seperti gadis itu yang ternyata tak bisa memasak dan yang paling membuat pikirannya terganggu, Steffie tak bisa berganti pakaian di tempat yang lembab.
Jujur saja setiap Steffie berkeliaran di apartemennya dengan hanya balutan sehelai handuk, itu sangat menguji kesabar Sean.
Seperti saat ini, Sean sedang asik menonton siaran berita di minggu pagi yang tenang. Dengan tidak punya rasa bersalah Steffie melintas di hadapan Sean dengan terbalut sehelai handuk.
Sean mengikuti gerak gerik Steffie hingga tersangkanya menghilang di balik pintu kamar.
Di usap wajahnya frustasi haruskan pemandangan ini di pertontonkan pada dirinya?
Kalau Steffie lupa, Sean pria dewasa. He's fuckin 24 year old!
Akhirnya Sean bangkit dari duduk dan mengetuk pintu Steffie, tolong lupakan kelakuan memalukannya yang menempelkan telinga di pintu, karena Sean sudah tak menggunakan cara konyol itu lagi.
"Stef, udah selesai belum?" Ucap Sean agak kencang agar yang di dalam bisa mendengar.
"Bentar! Gue masih cari bra."
Lagi, dan lagi Sean harus menahan napasnya. Harus ya dia di beri tahu? Ayolah.. dia jadi harus bersusah payah untuk tidak mendobrak pintu di depannya.
Clek!
"Kenapa? Ada apa?" Ucap Steffie sambil menyembulkan kepala di balik pintu.
Sean masih bisa melihat bahu polos gadis di depannya dan sehelai tali bra di pundak gadis itu. Dengan tergesa Sean dorong kepala Steffie masuk kembali dan dia tutup pintu kamar itu sedikit kencang.