Abis nge-goa karena UAS and finally bisa main-main lagi sekarang! Nyahaha. #maafbacot #gatausihadayangbacaapangga #bye.
***********Author's pov
Terminal 2 gate E bandara Soekarno Hatta, Zeva menunggu sambil memainkan gadget dan sesekali matanya melirik ke arah pintu kedatangan, menanti kehadiran sang kakak, Abra.
"Hai neng, sendirian aja. Boleh kali abang temenin?" Seorang cowo berparas blasteran dengan tinggi badan menjulang mendekati Zeva.
Zeva melirik cowo itu dari atas ke bawah lalu ke atas lagi dan ke bawah lagi. Dengan gaya casual dan rambut yang diikat membentuk cepol kecil, menambah nilai karisma ini cowo.
"Sorry, siapa ya?" Kening Zeva nampak berkerut keliatan kalo dia bingung sama kehadiran cowo tampan di sampingnya sekarang.
"Gila ih sombong banget gue di lupain. It hurts!" Cowo itu menempelkan telapak tangannya di dada seakan menampilkan gaya sakitnya tuh disini.
Zeva masih memandanginya dalam kebingungan. "Ganteng-ganteng kok freak", pikir Zeva dalam hati.
"Gue tau lo mikir gue freak kan!"
Zeva membuka mulutnya lebar, kaget karena cowo ini bisa membaca pikirannya.
"Nih orang dukun?" Zeva kembali berkata dalam hati.
"Yailah yakali gue ganteng gini, dukun!"
Zeva lagi-lagi membuka mulutnya lebar-lebar. "Anjirrr kok lo bisa baca pikiran gue sih? Nyeremin parah. Siapa sih lo?"
Cowo di hadapan Zeva berkacak pinggang lalu tertawa terpingkal-pingkal.
"Gila lo!" Zeva berlalu pergi meninggalkan cowo yang masih trus tertawa sampai matanya nampak berair.
"Yaelah Zev selow kek elah. Gak bisa diajak becanda banget" cowo itu mencegat Zeva sampai dia menghentikan langkahnya.
"Jawab deh, lo siapa?" Tanya Zeva lagi dengan tampangnya yang berubah nyolot.
Baru akan menjawab, perhatian mereka akhirnya tersita karena teriakan seseorang di balik tubuh cowo itu. "EH PAIJUL KUPRET! Gue bilang kan tungguin gue lo malah ngeloyor duluan. Ngapain ade gue lo?", itu suara Abra, kakaknya Zeva.
"Lo kenal sama dia kak?"
"Kenal lah, dia jongos gue Zev, selama di Perth" goda Abra pada cowo di sampingnya itu.
"Kok lo minta ditonjok si Bra"
Abra membawa tangan kirinya untuk menampar pipi teman cowonya. "Eh kupret jangan manggil gue bra-bra. Kaga enak didengernya. Berasa daleman cewe gue".
"Lah salah ndiri nama lo kan emang Abra. Berarti kalo gue panggil, bra, ya ga masalah dong?"
"Wah nyari ribut lo ye"
Zeva nampak gerah dengan dua cowo di hadapannya ini. Sekarang mereka berantem, saling piting leher.
"Aduh berisik deh kak. Trus lo, siapa sih?" Zeva menunjuk cowo itu dengan jari telunjuknya yang mengarah tepat di bola mata cowo itu.
"Aku tuh Julian. Temen SMAnya Abra yang dulu suka main ke rumah. Masa kamu lupa sih Zev? Padahal kan dulu aku suka beliin kamu kue cubit kalo main ke rumah"
Zeva terlihat berpikir dan semenit berikutnya, "ohhh kak Julian yang ditolak cintanya sama mba Parni itu ya?"
Tawa keras Abra langsung terdengar sementara Julian nampak cemberut. Ditolak cintanya sama seorang penjual panci kreditan yang keliling kompleks, adalah sejarah kelam bagi seorang playboy kayak Julian. "Zev yailah ingetnya bagian itunya doang masa."

KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Truth
RomanceKetika kau terlambat menyadari kenyataan, dan hanya sesal yang bisa kau rasakan. "I have loved you since the first time we met"