Welcome to the end of this story. I hope you enjoy this last chapter:)
Happy reading!
And sorry for the typo(s).*****
One year later.
Sebuket bunga mawar putih serta dua batang coklat, digenggam Zeva erat. Senyumnya langsung mengembang begitu mengetahui mobil yang membawanya, sudah sampai di tempat tujuan.
"Bapak tunggu sini aja ya. Saya gak akan lama kok" ucap Zeva pada supir yang mengantarnya sebelum dirinya keluar dari mobil.
Sejak kejadian setahun yang lalu itu, Zeva memang makin dijaga mati-matian--sama siapa lagi kalo bukan Kala. Salah satu bentuk protektif yang dilakukan Kala yaitu memberinya supir dan mobil pribadi sendiri. Walau pun awalnya ditolak mentah-mentah sama Zeva dan menyebabkan mereka bertengkar hebat saat itu, tetap saja pada akhirnya Zeva yang mengalah. Alasannya, karena diantar supir jauh lebih baik dibanding harus dijaga empat body guard setiap hari.
Setelah keluar dari mobil, Zeva mulai melangkah menapaki jalanan yang membawanya ke sebuah tempat yang sudah sebulan ini tak dikunjunginya. Senyumnya makin merekah begitu langkahnya terasa makin mendekat.
Dengan hati-hati, Zeva menunduk dan meletakkan buket bunga serta hadiah kecil berupa coklat yang tadi dibawanya, dan mengusap lembut nama yang tertera di atas marmer hitamnya. Setelah itu dia duduk di sebelahnya dan mengangkat kedua tangannya untuk memanjatkan doa.
Selesai berdoa, Zeva kembali mengusap nama itu dan mengajaknya bicara. "Hai, Sean. Apa kabar? Aunty kangen banget loh sama kamu. Udah lama ya, kita ga main bareng" Zeva berceloteh sendiri seakan-akan bocah kecil itu memang sedang duduk di depannya.
Sembari menebarkan kelopak bunga mawar merah di atas gundukan tanah makamnya, Zeva terus mengajaknya bicara. "Kamu gimana disana? Pasti bahagia kan di surga?"
"Aunty juga bahagia buat Sean. Aunty seneng sekarang Sean udah gak perlu ngerasain sakit-sakit lagi, udah gak usah nangis terus-terusan, gak perlu sedih lagi."
Dengan lembut, Zeva membawa tangannya untuk kembali mengusap batu nisannya, seakan dirinya tengah mengusap lembut kepala Sean--seperti kebiasannya dulu sebelum Sean pergi.
"Om Kala, tante Cassie, papa Keenan, om Julian, om Abra, pokoknya semua orang disini juga bahagia buat Sean walau pun kita kangen setengah mati" senyum getir terselip di bibir Zeva saat mengucap kata semua orang, karena sebenarnya ada satu orang yang tak merasakan hal itu.
"Walau pun kita dekatnya gak lama, tapi Sean berarti banget buat Aunty. Sean bikin Aunty jatuh cinta sejak pertama kali ketemu. Om Kala aja kalah deh sama kamu!" Terdengar tawa kecil Zeva di akhir kalimatnya.
Zeva kembali mengingat bagaimana pertemuan pertamanya kala itu dengan Sean. Bukan dengan bantuan Kala. Bukan juga Cassie atau siapa pun yang mengenalkan mereka. Tapi pertemuan mereka terjadi begitu saja, di taman rumah sakit.
Saat itu, Zeva tengah berada di rumah sakit untuk menemui kakaknya dan secara tiba-tiba tak sengaja menemukan Sean yang tengah bersembunyi dan menangis karena...takut dengan ibunya sendiri.
Ya itu lah alasan Sean saat Zeva bertanya kenapa dirinya menangis. Zeva tahu, memang setelah kejadian itu, Chelsea mengalami banyak perubahan, terlebih dari sisi emosi. Dia jadi cenderung pemarah dan Sean selalu kena imbasnya. Termasuk pada hari itu, Sean menangis setelah Chelsea memarahinya karena anak itu main sepak bola tanpa ijin darinya.
Alasan sepele, tapi Zeva mengerti kenapa Chelsea semarah itu. Dia hanya terlalu sayang dan takut akan terjadi apa-apa pada putranya. Itu juga lah yang jadi alasan Zeva tak memperpanjang masalahnya dengan Chelsea dan membiarkannya termaafkan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Truth
RomanceKetika kau terlambat menyadari kenyataan, dan hanya sesal yang bisa kau rasakan. "I have loved you since the first time we met"