Try to update as fast as i can! Semoga hasilnya tidak mengecewakan:)
Enjoy!
*****
Di depan sebuah ruangan bertanda Emergency di pintunya, raungan tangis, terdengar saling bersautan. Beberapa orang dengan seragam coklat kepolisian pun tersebar banyak di depan ruangan tersebut. Di antara banyaknya kerumunan orang disana, dengan wajahnya menunduk, Kala berdiri di salah satu sudut dengan bersandar pada sebuah pilar. Seorang polisi baru saja menginterogasinya mengenai kejadian yang baru saja dilihatnya.
Berbeda dari yang lainnya, Kala sama sekali tak terlihat menitikan air mata, melainkan ia terlihat, marah. Dalam hatinya, dia merasa begitu kecewa dengan dirinya sendiri yang tak becus bertanggung jawab akan Zeva sampai ini semua terjadi.
Setiap kali ia mengingat kejadian dimana ia menemukan kekasihnya tergolek tak berdaya di samping raga mantan kekasihnya dengan darah tercecar diantara keduanya, rasa amarah, kecewa, takut, semuanya kembali saling tercampur jadi satu.
Pikirannya tak bisa memikirkan kemungkinan terburuk dan sama sekali tak ingin memikirkan hal itu.
Kehadiran keluarga Zeva di sekitarnya kini, juga makin menambah beban batin di hatinya. Sebagai seorang pria, Kala merasa dirinya bukanlah seseorang yang bertanggung jawab. Terbukti dengan kejadian ini. Dia gagal menjaga Zeva.
Suara decitan pintu yang terbuka dari dalam ruangan Gawat Darurat, membuat Kala sebenarnya penasaran untuk langsung berlari dan menyerang dokter yang keluar dengan bejibun pertanyaan. Namun, begitu mendengar raungan tangisan yang semakin menjadi, langkahnya menjadi enggan untuk mendekat dan lebih memilih memalingkan wajah.
Kala mengepal kuat kedua tangannya, dan ingin ia jatuhkan di atas pilar rumah sakit yang sedari tadi menjadi tempatnya bersandar. Tapi, ia urung melakukan karena rasanya luapan amarah pun tak cukup baginya untuk mengurangi rasa penyesalan.
Seharusnya tadi gue datang lima menit lebih cepat.
Seharusnya tadi gue gak terlambat turun dan langsung menemui Zeva aja
Berbagai penyesalan itu terus tertimbun dalam pemikiran Kala yang membuatnya makin terjebak dalam rasa bersalah.
Kedua matanya yang sedari tadi kuat menahan gempuran air mata yang sebenarnya akan turun, akhirnya menyerah dan membiarkan aliran air itu deras mengaliri kedua belah pipinya.
Kala yang biasanya terlihat dingin, bagai kan pahatan es batu antik nan mahal kini terlihat meleleh hingga terlihat begitu menyedihkannya.
Julian yang tengah berdiri tak jauh darinya pun, tersenyum kasihan melihat bagaimana keadaan temannya yang satu itu.
"Kal..."
Panggilan Julian yang menyebut namanya, tak digubris sama sekali oleh Kala yang masih saja terdiam di tempatnya, menikmati waktu sendirinya menangis dalam diam.
Tapi Julian tak bisa membiarkan Kala terus menyesali diri sampai terlihat begitu frustasi. "Jangan terus-terusan nyalahin diri sendiri, ini bukan salah lo."
Bibir Kala membentuk sebuah smirking, seakan menyindir Julian dan dirinya sendiri seraya bertanya dengan suara berbisik. "Ini bukan salah gue? Gue bikin Zeva meregang nyawa sekarang dan ini bukan salah gue?"
Dengan sekali gerakan dan keras, Julian menampar pipi kiri Kala sampai meninggalkan tanda merah di sana. "Sadar, Kal, sadar! Zeva butuh lo buat ada di sampingnya, nguatin dia. Bukan terus sembunyi dan nyesalin diri sendiri. Jangan jadi pecundang"
Gamparan keras yang terasa di fisiknya tak berarti dibanding gamparan di hatinya karena ucapan Julian barusan. Mungkin bagi orang lain terdengar biasa, tapi baginya kata-kata itu bagaikan air dingin yang tumpah di atas mukanya sampai ia terbangun dan sadar.

KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Truth
RomanceKetika kau terlambat menyadari kenyataan, dan hanya sesal yang bisa kau rasakan. "I have loved you since the first time we met"