Song for this chapter:
- Ever Enough by A Rocket To The Moon
- Half a Heart by One Direction
- Your Call by Secondhand Serenade
And here you go, the tenth!
***********
Zeva's
Pernah kah kalian merasakan penyesalan teramat dalam sampai kalian trus menyalahkan diri kalian tak ada hentinya hingga bahkan menyesali takdir?
Katakan gue lebay, tapi itu mungkin yang gue rasakan saat ini.
Bagai disambar petir di siang bolong, mungkin itu pepatah yang orang-orang katakan untuk menggambarkan perasaan gue semalam.
Ngga, ini bukan soal hubungan gue dan Kala. Kita masih berhubungan baik dan ngga putus-i hope. Tapi lebih parah dari itu. Gue bahkan gatau apa tangisan gue yang meraung-raung saat ini bisa merubah keadaan kemarin. Merubah segala sikap gue yang mungkin sedikit kekanakan sampai sesuatu yang fatal terjadi dan membuat gue menyesal setengah mati. Tapi sayang, gue bukan doraemon yang punya alat untuk membalikkan waktu. Dan sayangnya juga gue hidup di dunia nyata dan bukan animasi dimana tak ada yang namanya hal semacam itu. Hanya Tuhan yang bisa melakukan segalanya dan gue, cuma manusia biasa yang harus menerima apa yang telah Tuhan lakukan dalam hidup gue.
-Flashback-
"Ngapain kamu malem-malem kesini?-loh Raby?" Betapa terkejutnya gue mendapati bukan Kala yang berdiri di belakang gue melainkan adiknya.
Apa iya sekarang daya pendengaran gue mulai menurun sampai tak bisa membedakan mana Kala, mana Raby? Atau mungkin guenya aja yang terlalu berharap Kala yang datang, karena mengikuti kata kartu kecil dalam bucket bunga yang tengah dalam dekapan gue saat ini?
Please forgive me
-Kalandra.
Begitu kata kartu kecilnya.
"Ini bunga dari Kala?" Gue menoleh ke arah Raby dan mendapatinya matanya yang memerah. Dia nangis? Gue bahkan gak sadar betapa berantakannya dia saat ini. Wajahnya nampak setengah frustasi keliatannya. Raby, kenapa?
"Kak Kala....dia...kecelakaan Zev" Bucket bunga dalam dekapan gue, meluncur dan tersungkur di lantai sampai beberapa kelopaknya terlepas.
Gue gak mau nangis. Gue bahkan mau nampar Raby saat ini karena candaannya sama sekali gak lucu. Kecelakaan apa? Dia pasti becanda. Mereka pasti tengah menjebak gue.
"Jangan becanda, By. Ga lucu"
Raby terlihat menyapu air mata yang di pipinya. Jago sekali actingnya, Raby. Tapi sayang gue masih tak bisa percaya. "Zev, gue gak becanda. Gue serius. Kak Kala kecelakaan di jalan waktu dia mau kesini, nemuin lo. Mobilnya di tabrak truk. Dan bunga itu.....mungkin jadi saksi saat kecelakaan itu"
Mendadak kaki gue gemeter, seluruh tubuh gue bahkan bergetar. Setengah hati gue masih meyakinkan diri, Kala baik-baik aja dan mungkin sedang tertidur di kamarnya saat ini.
Jangan percaya Raby. Dia pasti bohong. Kala pasti baik-baik aja.
Tapi di satu sisi lagi gue percaya akan kata-katanya.
Gimana kalo Raby bener? Gimana kalo Kala bener-bener kecelakaan?
"Ngga mungkin" bahkan kini suara gue pun ikut bergetar.
"Zev...."
"Kalo lo emang gak bohong, bawa gue temuin Kala"
Raby mengangguk dan segera menarik gue masuk ke mobilnya. Gue harap Julian tahu gimana keadaan gue sekarang dan bisa mengatakannya pada Abra tanpa harus gue sendiri yang bilang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Truth
RomanceKetika kau terlambat menyadari kenyataan, dan hanya sesal yang bisa kau rasakan. "I have loved you since the first time we met"
