Chapter 14

150 3 0
                                    

Semoga suka:)

***************

Zeva's

Pandangan matahari terbenam dengan sapuan angin sore hari seketika menghilangkan rasa was-was dalam diri gue sedari tadi. Berkali-kali gue mengucapkan terima kasih dalam hati buat Raby. Berkat keisengan Raby yang masuk ke kamarnya Kala plus nyuri-nyuri minjem flashdisknya Kala tanpa izin, akhirnya gak ada kejadian-tertangkap-basah itu karena Kala langsung main kejar-kejaran sama Raby.

Gue berhasil mengembalikan buku diary-nya itu pada posisi semula tanpa ada yang kurang sekalipun foto yang gue temukan di dalamnya. Walaupun gue nyelipin fotonya asal-asalan sih. Ya berharap aja semoga dia ga sadar.

"Bengong aja si eneng. Boleh abang temani?" Gue melirik ke arah Julian yang tiba-tiba datang sambil membawa gitarnya. Tanpa perlu diberi persetujuan juga pasti dia tetep aja duduk di samping gue.

"Diam berarti iya. Baiklah akan abang temani dengan senang hati" kesannya kok kayak gue yang ngarep sih? Dasar bang Jul.

Julian memetikkan gitarnya dan mulailah dia menyanyikan sebuah lagu. Di tengah otaknya yang rada minus, buat suara sama fisik ya boleh lah Julian diadu.

Loving can hurt
Loving can hurt sometimes
But it's the only thing that I know

When it gets hard
You know it can get hard sometimes
It is the only thing that makes us feel alive

We keep this love in a photograph
We made these memories for ourselves
Where our eyes are never closing
Hearts are never broken
Times forever frozen still

So you can keep me
Inside the pocket
Of your ripped jeans
Holdin' me closer
'Til our eyes meet
You won't ever be alone
Wait for me to come home

"Nyindir apa gimana tuh? Kenapa musti nyanyi lagu Photograph huh?" Julian tertawa sambil memukul-mukul gitarnya. Lalu Julian membawa tangannya ke atas kepala gue dan ngacak-ngacak rambut gue, kinda his habit lately. "Jangan baperan banget gitu dong. Cuma nyanyi dibilang nyindir padahal no offense kali".

Gue menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar. "Stress amat neng sampe narik nafas gitu?" Sindir Julian sambil memainkan senar gitarnya. "Jangan rese deh bang. I know you knew". Lagi, dia tertawa. Emang beneran rese, tertawa diatas ke-stress-an orang lain.

"Siapa sih Cassie? Kayaknya cantik." Gue memutar bola mata diam-diam. "Percuma cantik kalo hatinya busuk." Julian berteriak dengan mulut membentuk huruf o. "Oww..Sadis ya kata-katanya".

"Kalo Chelsea? Busuk juga gak?" Tanya Julian sambil menaik turunkan alisnya. Gue mengangkat kedua bahu gue sebagai jawaban. "Bang..." Pandangan Julian kembali terfokus pada gue. "Mungkin gak, Kala belum bisa move on?" Julian kemudian mencubit hidung gue cukup keras sambil ngedumel, "Jangan suka berspekulasi sendiri! Jangan suka negative thinking! Jangan nyusahin diri sendiri karena mikir aneh-aneh! Udah pernah dibilangin kok masih aja ngeyel sih. Walaupun keras kepala, jangan sebebel ini juga kek Zev.... Ih gemes gue sama lo!"

"Sakit ihhhh" dengan jari telunjuk kanan gue mengusap-usap ujung hidung gue yang merah hasil penyiksaan Julian. Gantian, kini giliran gue yang menyiksanya dengan cubitan di kedua belah pipinya, "bukannya mau spekulasi sendiri apa gimana, tapi lo ngertiin posisi gue juga napa bang. Gimana coba perasaan lo kalo pacar lo ternyata belom bisa move on dari mantannya? Emang gak sakit apa huh? Ayo coba jawab!!"

Pipi Julian memerah-dalam-arti-sebenarnya karena hasil capitan jari-jari gue. "Tau dari mana sih emang dia belum bisa move on tuh tau dari mana?", tanya Julian nyolot. "Buktinya dia masih nyimpen fotonya hayoo", balas gue gak kalah nyolot. "Lo masih nyimpen foto mantan lo, gak?" Jedar. Kok jadi gue yang ditembak begini?

Hidden TruthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang