Chapter 11

121 4 1
                                    

The eleventh!

Semoga suka;)

***********

Zeva's

Gue melangkah ringan menyusuri koridor dengan aroma rumah sakit yang begitu khas bercampur wangi bunga krisan yang berada dalam dekapan gue saat ini.

Senyum pun langsung terkembang begitu sampai di depan kamar A1105. Seneng rasanya setelah seharian terjebak di kantor walaupun hati lebih ingin berada disini, nemenin si Mr. Bossy.

Dua hari yang lalu dia udah sadar dari tidurnya-yang beberapa hari-itu. Tepat setelah gue mengecup keningnya, jarinya bergerak, dan perlahan anggota vitalnya yang lain juga menunjukan reaksi serupa. Gue sampe ngerasa kalo Kala ini keturunan dari sleeping beauty atau snow white mungkin dalam versi cowok. Musti dikecup cinta sejatinya baru bangun.

Lah cinta sejati? Kepedean lo Zev. Tapi aminin boleh keles.

Gue masuk ke dalam ruangannya dan mendapatinya tengah duduk di ranjangnya sambil membaca koran, "Hai", sapa gue.

Kala melirik sebentar, lalu menyingkirkan koran yang tengah dibacanya tadi. "Dateng sama siapa?"

"Sendiri. Naik ojek", kedua mata Kala membulat menatap gue. Oh no, dia pasti bakal meledak abis ini.

"Kenapa gak minta anter supir kantor? Atau bilang sama Raby buat jemput? Julian sama Abra kan juga ada. Kalo kenapa-napa karena ojeknya ngebut gimana? Kalo tukang ojeknya baik, kalo ngga? Kamu bandel banget sih. Nih liat ada berita kecelakaan motor ditabrak sama busway. Ini pasti karena motornya asal selap selip"

Gue menunduk sambil memainkan kuku. "Ya tapi buktinya sekarang aku gapapa kan?"

"Oh jadi mau kejadian dulu gitu baru berhenti?" Gue menoleh ke arah Kala yang masih memberikan tatapan mata yang sama.

"Astagfirullah kamu ngomongnya. Amit-amit dong" Kala pun diam dan lebih memilih kembali membaca korannya. Jadi gue dicuekin?

"Gimana kepalanya? Masih sakit ga?" Gue mencoba mengalihkan pembicaraan. Tapi dia tetep diam.

"Kakinya masih sakit?" Lagi, dia cuma diam.

"Kata dokter gimana? Kapan kamu pulang?" Pertanyaan gue hanya dijawab dengan suara kertas yang dibolak balik.

Sabar Zev, sabar.

Karena dicuekin, gue akhirnya mendekat ke meja di sampingnya dan mengambil vas untuk menata bunga yang gue bawa. Dan dia masih juga lebih milih korannya dibanding gue. Keras kepala-an mana coba gue sama dia? Setipe kan?

"Yaudah aku minta maaf" kata gue pada akhirnya. Namun sama aja boong, dia masih gak memperhatikan keberadaan gue. Lelah daku.

"Ah udah ah capek. Dateng malah dicuekin. Mening gue balik aja deh, bye"

Baru juga balik badan, tangan gue langsung dicekal. "Gak ikhlas jadi jenguknya? Tega lo ya"

"Yah abis dicuekin. Lebih menarik baca koran kan dibanding ngobrol sama gue?" Kala menutup korannya dan melemparkannya ke ujung ranjang.

"Duduk sini" Kala menepuk-nepuk sisi ranjangnya yang kosong untuk gue duduk di sampingnya. Dan gue pun mengikuti buat duduk. Awalnya gue cuma dudukin tepi ranjangnya doang tapi dia nepuk-nepuk lagi sampai akhirnya posisi duduknya jadi rapet banget. Modus pasti nih, sengaja.

"Jadi pacar tuh yang romantisan dikit kek, masa cuma nanya doang. Harusnya tuh gini...." Kala menarik tangan gue dan dibawanya ke kepalanya dia. "Kepalanya masih sakit gak sayang? Masih pusing?", kata Kala dengan suara dibuat lembut.

Hidden TruthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang