Here you go part ke-15. Semoga suka ya walaupun tetep gaje hahahaha
Sorry if there any typo(s), salah penulisan, salah kata, salah makna, dsb. Mungkin gue kurang asupan aqua jadi suka gagal fokus -_-
*************
Suasana dalam mobil terasa hening. Baik Kala maupun Zeva tak ada yang saling bersuara. Kala lebih memilih diam dan fokus mengendarai, sementara Zeva, fisik dan pikirannya saling tercerai berai. Hari ini, atau lebih tepatnya malam ini, terasa sangat berat dan melelahkan untuk Zeva. Bukan tubuhnya yang lelah, melainkan hati dan pikirannya. Terlalu banyak hal-hal mengejutkan dalam rentan waktu dua jam terakhir. Dia sampai tak habis pikir.
Zeva mempererat jas abu-abu milik Kala yang menyelimuti kulit polosnya. Zeva menghirup dalam-dalam harum parfum Kala yang menempel pada jasnya. Bayangan Kala dan Chelsea yang sedang berpelukan kembali terlintas di pikirannya. Zeva memijat pelipisnya pelan sambil mengatur nafasnya yang tiba-tiba kembali terasa menyesakkan.
Lamunan Zeva terpecah begitu dia sadar mobil mewah milik Kala kini sudah berhenti tepat di rumahnya. Tanpa banyak bicara, Zeva melepas jas milik Kala dan mengembalikannya, lalu turun dari mobil Kala tanpa menunggu respon darinya.
"Zev tunggu" Zeva berhenti di depan pagar rumahnya lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah Kala. "Apa?"
Kala memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. "Soal kamu sama Valeryan-" Zeva mengangkat satu jari telunjuknya ke udara menghentikan Kala yang sedang bicara. "Bisa gak diomonginnya besok aja? Gue capek banget malam ini. Lo juga kan? Jadi lebih baik lo juga pulang, hati-hati" Zeva membuka pagar rumahnya dan masuk, meninggalkan Kala yang masih terdiam di depan mobilnya mengamati Zeva yang sudah menghilang masuk ke dalam rumahnya.
Zeva langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengurung diri di dalam. Dengan menenggelamkan wajah di bantal, Zeva terisak tanpa suara. Hanya satu tanda yang jelas membuktikan dia sedang menangis saat ini adalah bahunya yang bergetar. Dia bukan cengeng, dia hanya meluapkan rasa sesak yang sedari tadi coba ditahannya. Pertemuan pertamanya dengan Chelsea jelas bukan hal yang baik. Zeva menangis sampai membawa dirinya terlelap.
Menangis semalaman jelas berdampak negatif pada keadaan wajah Zeva dipagi harinya. Mata bengkak, hidung merah, terlihat bagai zombie, gak ada cantik-cantiknya. Harapan terakhirnya bertumpu pada foundation dan concealer untuk menutup sisa-sisa kelakuannya semalam.
"Tumben udah bangun kamu Zev" mamanya Zeva menyapa putrinya itu begitu Zeva menampakkan diri di meja makan.
"Tumben gimana? Ini kan udah jam 6, Ma. Biasanya juga jam segini kan" Zeva meneguk kopi susu di hadapannya sampai tersisa setengah. "Lebih cepet setengah jam, tumben kan." Zeva kemudian hanya diam sambil menikmati roti berselai nutella di tangannya. "Zevvv!!! Kok kopi gue diminum??" Zeva menoleh ke arah Abra yang datang tiba-tiba dan langsung memasang wajah nyolot.
"Lagi pengen kopi, kak. Pelit banget sih cuma bagi dikit doang" Zeva membalasnya dengan jutek. "Biasanya juga minum susu, lo" Abra menarik kursi di samping Zeva dan mendudukinya dengan kasar. "Nyantai dong, cuma kopi doang juga" Zeva bangkit berdiri dan meninggalkan meja makan. Pandangan bingung mengintai Zeva dari papa, mama dan Abra. "Lagi pms kali ya tuh anak".
Di pekarangan depan, Zeva menemukan Julian tengah sibuk berkutat dengan motor miliknya. Motor baru beli, wajar masih disayang-sayang kayak anak sendiri.
"Udah mau pergi Zev?" Tanya Julian yang lagi memasang plat nomor motornya. "Keliatannya gimana?" Balasan Zeva yang jutek-bukan-main malah membuat Julian tertawa. "Betenya sama satu orang, yang dijutekin ratusan orang. Ada-ada aja si neng." Zeva memutar bola matanya sambil menggumam, "terserah"

KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Truth
RomanceKetika kau terlambat menyadari kenyataan, dan hanya sesal yang bisa kau rasakan. "I have loved you since the first time we met"