Srsly, ini gaje.
Again, sorry if u find any typo.
*peace out**************
Hampir tengah malam, Kala baru sampai di rumahnya. Namun, rasa capek dan letih yang mendera, sama sekali tak terasa, tergantikan rasa bahagia. Selayaknya anak remaja, dia merasakan indahnya dimabuk asmara. Senyum tak pernah lepas meninggalkan bibirnya, tertawa tiap ingat kejadian bersama sang pujaan hati, merasakan hati sesak tiap menahan rindu pada kekasih, ah betul-betul menyimpulkan seorang yang tengah kasmaran, bukan?
Kala melangkah naik tangga rumahnya menuju ke kamar. Sampai dia menemukan Raby yang tengah duduk di sofa dengan berbagai camilan di sampingnya dan film yang tengah terputar lewat DVD player. Langkahnya pun berpindah, bergerak menuju ke arah Raby.
"Belum tidur, By?"
Raby mematikan tvnya sebelum menoleh ke arah Kala. Dia lalu bergeser memberikan lowong untuk kakaknya duduk. "Belum, Kak. Insom gue kambuh nih".
Kala berdecak sambil memperhatikan penampakan wajah Raby yang memang masih segar tak menunjukkan rasa kantuk sama sekali. "Coba minum susu hangat, siapa tau ngefek."
Raby mendesah, "gak bisa kak, gue udah coba."
"Jangan sering-sering loh, By kayak gini. Kalo besok masih belum bisa tidur juga, coba ke dokter" Raby hanya iya-iya aja, menanggapi nasihat sang kakak.
"Oh iya gimana lamaran kakaknya Zeva tadi?"
"Lancar kok, sukses"
"Kakak sendiri, kapan mau ngelamar si doi?" Raby mengedipkan sebelah matanya pada Kala yang dibalas Kala dengan senyuman penuh teka-teki.
"Secepatnya, nanti gue bawa papa sama mama ke hadapan orang tuanya"
Raby tersenyum sumringah, memamerkan jejeran gigi-giginya, dan tangannya menepuk pundak Kala seakan memberi support sepenuhnya.
"Tapi... Lo.... Ga.. Gapapa...kan, By?" Raby menyipitkan matanya, melirik ke arah kakaknya, lalu dia tertawa. "Ya gapapa lah! Kak, cerita gue sama Zeva itu hanya sebagian dari masa putih abu-abu gue, lagi pula dia tuh cuma nganggep gue sahabat, gak lebih gak kurang. Gue malah dukung lo banget kalo mau ngejadiin dia kakak ipar gue."
Kala tersenyum sampai terlihat lekukan-lekukan pada rahang tegasnya.
"Tapi gue seneng, lo gak jadi chicken untuk kedua kalinya, kak." Kala mendelik tajam pada Raby mencoba mencari penjelasan dari maksud perkataannya.
Setelah mengunyah keripik kentang balado di mulutnya, Raby kembali buka suara. "Ya sekarang lo berani buat bergerak. Gak kayak dulu, cuma berani menganggumi dari jauh doang." Raby menaik turun kan alisnya menggoda Kala yang sekarang tengah terheran-heran.
"Jangan pikir, gue gak tau, kak, soal cerita cinta lo yang dulu"
Dengan sekali gerakan, toples berisi keripik kentang balado yang awalnya dikuasai Raby kini sudah berpindah tangan. "Songong ya, By!" Dan dimulailah lemparan-lemparan keripik kentang dari Kala ke arah Raby secara brutal sampai Raby lari masuk ke kamar sambil teriak, ampun.
Setelah Raby masuk ke kamarnya, Kala pun menyusul masuk ke kamarnya sendiri. Dia mengganti baju batiknya tadi, dengan kaus santai dan sweatpants setelah sebelumnya membersihkan tubuh.
Bukannya langsung naik ke kasurnya, dia justru berjalan ke arah perpustakaan pribadinya. Di laci meja pribadinya yang selalu terkunci, Kala mengambil sebuah foto album, tempatnya menyimpan foto-foto hasil jepretannya sejak masa kuliah dulu. Kala berhenti pada selembar halaman khusus menyimpan foto-foto seorang gadis manis yang dia ambil dengan diam-diam alias candid. Gadis itu, cinta pertamanya sejak SMA yang seperti Raby bilang, hanya bisa dia kagumi dari jauh.

KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Truth
RomanceKetika kau terlambat menyadari kenyataan, dan hanya sesal yang bisa kau rasakan. "I have loved you since the first time we met"