Chapter 21

134 3 1
                                    

"Trust is like a paper. Once it crumbled, it can't be perfect"

Happy reading!

*****

Sinar matahari menyeruak masuk, menyilaukan penglihatan Kala begitu ia membuka matanya.

Pandangannya masih kabur, tapi dia bisa melihat dengan jelas dimana dia kini. Kepalanya juga terasa berat dan pening. Dunia seakan berputar saat dia mencoba mengangkat kepalanya.

Tangannya juga terasa kaku, dan perih. Begitu ditengok, tangannya sudah berbebat perban putih.

Kala tak bisa mengingat dengan pasti apa yang terjadi padanya semalam. Yang berputar-putar di ingatannya kini hanya tentang Zeva, Zeva dan Zeva. Hatinya terasa sesak begitu nama itu melintas di pikirannya.

Suara pintu yang tertutup, membuat Kala menolehkan wajahnya. Sosok pria berperawakan mirip dirinya segera datang menghampiri dan duduk di samping tempat tidurnya. "Gimana keadaan lo, kak?"

Kala menghembuskan nafasnya berat. Rasanya seperti ada batu besar memenuhi paru-paru Kala, tiap kali dia ingin menarik nafas dalam.

"Gue kenapa?"

Raby berdiri sembari menyilangkan tangannya di depan dada. "Lo masih perlu nanya, lo kenapa? Gue rasa lo udah bisa nebak sendiri"

"Gue pikir, gue udah mati"

Kontan, pernyataan Kala membuat wajah Raby memerah karena marah. Secara tidak sadar, Raby mengambil segelas air yang tersedia di meja dan menyiramkannya, membasahi seluruh wajah Kala. "Gue rasa lo masih belum bangun sepenuhnya."

Kala tak sama sekali terlihat marah. Dia hanya diam, membeku di posisinya, dengan tangan yang terlipat dan menutup kedua matanya. Seakan tak ada sedikit pun tenaga yang tersisa dalam raganya kini karena sudah habis terkuras karena memikirkan seseorang yang sangat penting untuknya, untuk hidupnya.

Saking kesalnya, Raby pun meninggalkan Kala sendiri sembari menutup pintunya dengan kencang. Namun, pintu kamarnya kembali terbuka dan muncullah seseorang yang langsung memanggil namanya. Suara itu terdengar halus, menyapa telinganya, sampai ia dengan begitu senangnya, langsung membuka mata. "Zeva?"

Seketika senyum kedua orang yang tengah bertatapan itu memudar. Kala merasa dirinya sudah begitu depresi sampai menyamakan semua suara perempuan dengan suara gadisnya. Sementara Chelsea yang berdiri di depannya hanya bisa tersenyum kikuk, menyadari bukan kehadirannya lah yang ditunggu-tunggu Kala.

"Kamu baik-baik aja kan?"

Dengan rasa perhatian yang penuh, Chelsea mengusap punggung tangan Kala yang dibalut oleh perban putih. Mulut Kala tetap dibiarkannya terkunci, tak berniat berbicara satu kata pun pada orang yang berada di sekitarnya kini.

"Kamu kelihatan menyedihkan, Kal. Kamu udah ngerusak diri kamu sendiri, tau gak?"

Tetap hening.

Tak ada satu balasan pun.

Chelsea yang mulai lelah dengan sikap Kala pun tak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak berbicara dengan nada tinggi. "Kamu bahkan rela ngorbanin nyawa kamu sendiri, hanya untuk seorang gadis? Kamu gila, Kal!"

Kini, Kala tak lagi diam. Matanya nampak menyala bagaikan penuh kobaran api. Tangannya yang tadi digenggam Chelsea pun seketika ditariknya. "Sepertinya lo ga berhak buat komentar kayak gitu. Ini hidup gue! Siapa pun yang gue pilih untuk berada di sekitar gue, itu urusan gue. Dan gadis yang tadi lo sebut itu, dia jauh lebih berarti dari apa pun yang gue miliki sekarang. Satu lagi, sebagai teman, lo gak perlu terlalu ikut campur, ngerti?"

Hidden TruthTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang