Happy reading!
Note: once again, sorry if u find any typo(s) atau kata-kata yang salah tulis atau salah makna, dsb. Maklum, ku manusia biasa juga yang tak luput dari salah :')
************
Zeva's
Gue melangkah memasuki restoran di dalam sebuah hotel berbintang lima. Tujuan gue kesini atas permintaan seseorang yang tak bisa gue tolak walaupun sebenernya ingin. Gue bahkan rela meninggalkan pekerjaan gue dan cuti setengah hari hanya buat menuruti permintaan seseorang ini.
Di dalam restoran, terlihat ramai beberapa wanita dengan dandanan anggun, bermake up dan bertatanan rambut sasak ala salon, bergaunkan kain sutra mahal ditambah tentengan tas merek ternama macam Louis. Vuitton, Chanel, atau Hermès-original bukan kw-serta bagian tubuh lainnya yang beraksesoriskan kalung dan gelang emas yang cukup banyak sampai bisa dibilang seperti toko emas berjalan.
Tapi hanya satu orang wanita yang masih saja tampil sederhana tapi tetap anggun, walaupun orang-orang di sekitarnya tampil over. Dan wanita itu kini tengah melambaikan tangan pada gue. Ya, wanita itu, seseorang penting yang meminta gue datang kesini, dia, tante Alanna, ibunya Kala, dan ibu negara di perusahaan gue.
"Sorry ya tante aku telat. Tadi macet banget di jalan" sapa gue sambil bercipika cipiki.
Tante Alanna mengulas senyum teduhnya, "gapapa, tante ngerti. Lagian kan tante yang maksa kamu dateng".
Gue mengambil tempat di sebelah tante Alanna, satu meja dengan beberapa ibu-ibu sosialita lainnya. Jadi gini toh rasanya kalo masuk ke perkumpulan ibu-ibu sosialita. Rada timpang sih ya sama kehidupan gue yang jauh dari kegiatan-kegiatan macam gini. Coba, gue nyeret mama kesini, pasti belum 5 menit udah ngejerit minta pulang. Acara arisan ibu-ibu di kompleks rumah aja, mama males banget datang. Banyak alasannya, ya ribet lah ibu-ibunya, kebanyakan gosip lah, bawel lah ibu-ibunya, trus pernah juga mama bilang, ibu-ibunya kebanyakan drama, apa lagi kalo udah saling pamer barang baru.
"Wah jeng Alanna bawa siapa nih? Cantik ya" gue menoleh ke arah seorang ibu yang duduk di sebelah kirinya tante Alanna sambil tersipu malu. Bisa aja nih si tante bilang gue cantik.
Tante Alanna melingkarkan tangannya di pinggang gue. "Oh iya kenalkan ini calon istrinya anakku yang sulung, si Kalandra, namanya Zeva" nafas gue sempat tercekat beberapa detik begitu tante Alanna bilang calon istri. Harusnya sih gue ga perlu kaget lagi, bahkan dari awal ketemu kan emang udah dipanggil begitu. Tapi tetep aja, kesannya gimana gitu.
Gue menampilkan senyum semanis mungkin sambil bersalaman dengan para ibu-ibu yang berada satu meja. Gue melirik ke arah tante Alanna yang terlihat senyum sumringah. Ah, emang udah di planning nih sama tante Alanna kehadiran gue disini. Pantas aja tante Alanna maksanya kebangetan tadi. Sampai menyuruh Kala juga ikut turun tangan buat ngebujuk.
"Nak Zeva, bekerja atau bisnis keluarga?" Seorang tante yang duduk di seberang gue bertanya dengan raut wajah sombongnya. Tapi dengan halus gue menjawab, "saya bekerja tante".
Lalu ibu-ibu di sebelah tante yang tadi ikut bertanya, "kalo orang tua kamu, punya bisnis juga kayak suaminya jeng Alanna?" Nada suaranya yang tajam sempat membuat gue gondok setengah ampun. Tapi gue tetap harus bisa terlihat manis, "keluarga saya kebetulan keluarga dokter, dari papa, mama sampai kakak semua dokter".
Semua ibu-ibu itu kompak menganggukan kepala. Ada beberapa yang tersenyum, salah satunya tante Alanna. Tapi beda dengan dua ibu-ibu di seberang gue yang justru memandang gue seakan meremehkan. Duh, bu.
"Kok kamu ga ikutan jadi dokter?", tanya ibu-ibu belagu itu dengan jutek. "Bukan passion saya disana. Jadi, gak mau maksain tante daripada akhirnya malah gagal".

KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Truth
RomansaKetika kau terlambat menyadari kenyataan, dan hanya sesal yang bisa kau rasakan. "I have loved you since the first time we met"