Aqua sudah siap dengan tas kecilnya, menunggu Arthur di balik pintu ruangan sang Ratu. Di dalam sana, Arthur tengah berbicara dengan Ratu Melisa—memohon izin untuk membawa Aqua tinggal di kediamannya sementara waktu. Semuanya, tentu saja, kebohongan belaka. Aqua merasa bersalah karena telah menumbalkan Arthur, lelaki yang selama ini selalu ada untuknya. Namun ia tidak punya pilihan lain. Ia hanya ingin menyelamatkan Rius, dan Arthur adalah satu-satunya yang bisa membantunya keluar dari istana tanpa menjadi buronan ibunya.
Tenggelam dalam pikirannya, Aqua terlonjak saat Arthur tiba-tiba berdiri di sampingnya. Tanpa bicara, Arthur menyampirkan selembar kain di bahu Aqua dan mengikatnya di depan. Perhatian kecil itu membuatnya tertegun.
“Bawalah ini. Setidaknya akan menghangatkan tubuhmu nanti.”
Aqua menyentuh kain itu, yang ternyata adalah pakaian Arthur. Ia tersenyum kecil dan mengangguk.
“Terima kasih,” bisiknya.
Mereka berjalan beriringan menjauhi gerbang istana. Aqua merasa bahagia. Untuk pertama kalinya, ia berhasil keluar dari istana tanpa harus menyelinap.
“Kau berhasil meyakinkan ibuku?” tanyanya penasaran.
“Hm,” gumam Arthur singkat.
“Luar biasa. Semudah itu.”
Arthur tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia menarik bahu Aqua lebih dekat ke tubuhnya. “Ratu Melisa sedang memperhatikan kita.”
Aqua mengangguk paham. Namun, perasaan lega dan bahagia terus memenuhi dirinya. Ia memeluk pinggang Arthur dengan erat dari samping.
“Terima kasih, Arthur. Kau tahu, aku sangat menghargai ini.”
Arthur hanya diam, tapi hatinya bertarung hebat. Logikanya tahu bahwa ini berbahaya. Tapi hatinya selalu lemah ketika itu menyangkut Aqua.
Ketika mereka sampai di titik terakhir, Aqua berhenti. Ia menoleh pada Arthur, lalu tersenyum.
“Aku pergi.”
Arthur memanggilnya. “Aqua!”
Aqua memutar tubuhnya, menunggu.
“Berjanjilah untuk kembali. Bersama adikmu.”
Aqua mengangguk yakin. “Aku pasti kembali.”
Sebelum benar-benar pergi, Aqua mendekat dan memeluk Arthur dengan erat. Arthur balas memeluknya, mengusap punggungnya perlahan.
“Terima kasih, Arthur. Aku pasti akan membalasmu suatu hari nanti.”
Lalu, dengan keberanian yang mendadak muncul, Aqua mengecup pipi Arthur dan melarikan diri. Arthur berdiri mematung. Ketika ia sadar, senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Hati-hati, Aqua,” gumamnya lirih.
*
Pantai di Dunia Atas
Malam itu terasa dingin ketika Aqua tiba di pantai terpencil. Ia mendongak menatap bulan purnama yang bersinar terang. Cahaya bulan menembus laut, menerangi jalannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AQUARIUS [END]
FantasyAquarius adalah mermaid kembar yang memiliki sifat saling bertolak belakang. Jika Aqua adalah ombak besar ditengah lautan, maka Rius adalah air tenang dalam kolam. Keduanya tidak pernah menyangka, bahwa ibu mereka sendiri telah terikat perjanjian de...
![AQUARIUS [END]](https://img.wattpad.com/cover/258407798-64-k512087.jpg)