Langit di atas hutan mendung kelam, dan suara-suara aneh bergema di antara pepohonan yang rimbun. Rius berlari terhuyung-huyung, napasnya tersengal, dan tubuhnya mulai lemah. Rasa takut menguasai dirinya ketika suara derap langkah berat menghentak tanah di belakangnya.
Rius menoleh, matanya membelalak ngeri. Sesosok monster besar dengan tubuh penuh sisik hitam, mata merah menyala, dan taring tajam mengejarnya tanpa ampun. Nafas panas monster itu terasa seperti bara api, membuat udara di sekitar semakin menyesakkan.
“Tidak! Jangan mendekat!” jerit Rius histeris sambil terus berlari meski kakinya semakin lemah.
Air mata mengalir deras di pipinya. Ia tahu tubuhnya tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Dalam keputusasaan, pikiran Rius hanya tertuju pada satu nama—-King Albartaz.
‘Tolong Rius... King Albartaz... Rius memohon...’ batinnya memohon, meski ia sadar telah membuat kesalahan besar dengan melarikan diri dari pria iblis itu.
Monster itu menggeram, semakin dekat, cakar besarnya nyaris menyambar gaun Rius. Tepat ketika Rius terjatuh, sebuah suara dingin bergema di udara.
“Kau benar-benar bodoh, Rius.”
Rius menoleh dan melihat King Albartaz berdiri di atas dahan pohon besar. Sorot matanya tajam, penuh intimidasi, namun ada sedikit kelegaan yang tersirat di sana.
“King Albartaz...” lirih Rius, air mata membanjiri wajahnya.
Namun pria iblis itu tidak bergerak menolong. Sebaliknya, ia melipat kedua tangannya, menikmati ketakutan Rius. “Memohonlah padaku,” katanya dingin, suaranya menusuk seperti belati. “Bersumpahlah bahwa kau tidak akan pernah lagi kabur dariku.”
Rius menatap monster yang semakin mendekat dan kemudian ke arah King Albartaz. Pilihan hidup dan matinya terasa berada di tangan pria itu. Dengan penuh keputusasaan, Rius akhirnya menggigit bibir bawahnya yang sudah gemetar. Air matanya semakin deras, dan napasnya tersengal-sengal karena ketakutan yang kian menyesakkan dadanya.
“Rius mohon... King Albartaz... Rius tidak mau mati! Rius janji, Rius tidak akan kabur lagi! Rius mohon... selamatkan Rius!” seru Rius, suaranya pecah di antara isak tangis.
King Albartaz tetap berdiri di tempatnya, sorot matanya dingin, tanpa secuil pun rasa iba. “Lagi,” ucapnya pelan namun penuh wibawa, suaranya terdengar bagai belati tajam yang menusuk. “Sujudlah, dan memohonlah dengan lebih sungguh-sungguh.”
Rius menatap pria itu dengan mata lebar penuh ketakutan. Ia menyadari, pria tersebut tidak sedang bercanda. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, tubuhnya ambruk ke tanah. Ia bersujud dengan gemetar, membiarkan dinginnya tanah menyerap ke kulitnya.
“Rius mohon... Selamatkan Rius, Yang Mulia... Rius bersumpah tidak akan pernah lagi mencoba melarikan diri...” suaranya bergetar, tubuhnya lunglai, dan tangisnya memenuhi udara malam yang mencekam.
Senyuman tipis-—nyaris seperti ejekan-—terlukis di sudut bibir King Albartaz. “Bagus,” ujarnya singkat, suaranya tetap dingin dan penuh otoritas. Dengan gerakan tangan yang anggun namun berkuasa, ia mengangkat telapak tangannya ke arah monster yang masih mengancam.
“Cukup bermain-main,” gumamnya dingin. Dalam sekejap, tubuh besar monster itu meledak menjadi serpihan debu hitam. Potongan-partikelnya beterbangan di udara sebelum menghilang tanpa jejak, meninggalkan keheningan mencekam di sekeliling mereka.
Rius hanya mampu memandang dengan tubuh lemah, matanya yang basah karena tangis memandang ke arah pria itu. Energinya seolah terkuras habis. Sebelum tubuhnya terhempas sepenuhnya ke tanah, tangan dingin King Albartaz menangkapnya, menahan tubuhnya yang nyaris kehilangan kesadaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
AQUARIUS [END]
FantastikAquarius adalah mermaid kembar yang memiliki sifat saling bertolak belakang. Jika Aqua adalah ombak besar ditengah lautan, maka Rius adalah air tenang dalam kolam. Keduanya tidak pernah menyangka, bahwa ibu mereka sendiri telah terikat perjanjian de...
![AQUARIUS [END]](https://img.wattpad.com/cover/258407798-64-k512087.jpg)