Langit masih gelap ketika Aqua, Arkeolus, dan Zion digiring ke dalam penjara Istana Agathea. Lorong-lorong batu yang suram dan hawa dingin yang menyelimuti tempat itu semakin memperkuat suasana mencekam.
Aqua menggertakkan giginya saat rantai di tangannya berbunyi pelan, membatasi setiap gerakannya. Ia menoleh ke samping, menatap Arkeolus yang berjalan dengan santai, seolah tidak peduli dengan situasi mereka. Zion yang berjalan di belakang mereka juga tampak sama bingungnya.
Sesampainya di dalam sel, para penjaga mendorong mereka masuk dan mengunci pintu besi tebal. Aqua menghela napas kesal sebelum berbalik menghadapi Arkeolus dengan tatapan tajam penuh amarah.
Namun sebelum ia sempat meluapkan emosinya, suara malas dari Arkeolus lebih dulu terdengar.
"Kenapa aku juga ikut ditahan?" tanyanya dengan nada datar, menatap para penjaga yang kini sudah pergi meninggalkan mereka.
Namun, tidak ada jawaban. Bahkan dari ayahnya sendiri—-King Albartaz.
Arkeolus mendengus, lalu duduk di salah satu sudut ruangan dengan santai, seolah tempat itu bukan penjara melainkan ruang tamunya sendiri. Ia menyilangkan tangan di dada dan menatap Aqua yang kini masih berdiri dengan wajah penuh kemarahan.
Aqua akhirnya meledak.
"Jelaskan padaku, Pangeran Arkeolus!" serunya tajam, melangkah mendekati pria itu dengan tatapan menusuk. "Bagaimana bisa kau adalah anak King Albartaz?! Kenapa kau tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya?!"
Arkeolus menatap Aqua dengan ekspresi malas, seolah enggan menjawab. Namun, ketika melihat mata gadis itu menyala penuh kemarahan, ia akhirnya menghela napas dan mengangkat bahu.
"Aku tidak pernah merasa perlu untuk memberitahumu," jawabnya santai. "Lagipula, kau tidak pernah bertanya, bukan?"
Aqua mengepalkan tangannya. "Brengsek! Kau tahu betapa lama aku mencari King Albartaz dan adikku!"
Zion, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat suara. "Yang Mulia Pangeran... Jadi, Anda benar-benar putra King Albartaz?" tanyanya dengan ekspresi serius. "Bahkan aku tidak tahu soal ini."
Arkeolus hanya menatap Zion sekilas, sebelum kembali berfokus pada Aqua.
"Baiklah, dengarkan," katanya akhirnya, menghela napas panjang sebelum bersandar pada dinding batu. "Ya, aku memang putra King Albartaz. Tapi jangan salah sangka, aku tidak besar di bawah asuhannya. Aku tumbuh di luar istana, jauh dari pengaruhnya. Itu sebabnya aku tidak pernah menganggapnya sebagai ayahku."
"Kenapa?"
"Yah... Seperti yang kau tahu. Dia adalah seorang iblis terkutuk. Bukan hanya ibuku—- aku bahkan yakin, bukan hanya aku tapi ada banyak di luaran sana saudara senasib seperti diriku. Bukankah iblis hidup abadi selama ini. Coba kalian bayangkan, petualangan seperti apa yang makhluk abadi itu lakukan di sepanjang hidupnya, dengan menyebar benihnya pada wanita-wanita di muka bumi ini."
Aqua mengepalkan kedua tangannya mendengar cerita itu. Semakin memuncak rasa bencinya mengingat Rius kini terjebak dengan pria iblis itu. Pria iblis yang bahkan gemar menanam benihnya pada setiap wanita.
Tekadnya, untuk segera membawa Rius kabur dari istana kegelapan ini semakin bulat. Aqua sudah sejauh ini—- dia tidak boleh gagal dalam misinya.
Aqua menghela napas dengan berat, ia kemudian ikut duduk bergabung dengan pangeran Arkeolus dan juga Zion, matanya menatap kosong ke lantai batu yang dingin. Pikiran-pikirannya berputar, mencari cara untuk meloloskan diri dan membawa Rius kembali ke bawah laut... tidak-— di bawah laut juga tidak aman.
Semenjak mengetahui bahwa ibunya sendirilah yang telah menumbalkan Rius pada King Albartas, Aqua sudah mencap ibunya sebagai penjahat. Sama seperti king Albartas. Oleh sebab itulah, Aqua harus mencari tempat yang tidak bisa dijangkau oleh King Albartas maupun ibunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AQUARIUS [END]
FantasyAquarius adalah mermaid kembar yang memiliki sifat saling bertolak belakang. Jika Aqua adalah ombak besar ditengah lautan, maka Rius adalah air tenang dalam kolam. Keduanya tidak pernah menyangka, bahwa ibu mereka sendiri telah terikat perjanjian de...
![AQUARIUS [END]](https://img.wattpad.com/cover/258407798-64-k512087.jpg)