"Aku tidak malu," kata Aqua dengan mantap sebelum meninggalkan ibunya.
Ia berjalan cepat keluar dari ruangan, tetapi langkahnya terhenti saat melihat sosok Arthur berdiri tak jauh darinya. Mata mereka bertemu. Arthur diam, menatapnya tanpa ekspresi, namun ada sesuatu di matanya yang sulit Aqua artikan.
"Arthur, aku…," suara Aqua terdengar ragu.
"Bisa kita bicara berdua, Aqua?" tanya Arthur, suaranya tenang namun dalam.
Aqua terdiam sesaat, tetapi akhirnya mengangguk. Ia mengikuti langkah Arthur menuju balkon kosong, jauh dari gangguan siapa pun. Hanya ada mereka berdua di sana, dengan langit malam yang luas membentang di atas kepala.
Arthur menatap Aqua lekat-lekat sebelum akhirnya berbicara. "Selama ini, aku mencintaimu, Aqua. Aku tidak pernah mengharapkan balasan, tidak pernah menuntut apa pun darimu. Aku hanya ingin berada di sisimu, ingin memastikan kau bahagia."
Aqua menggigit bibirnya, merasakan perasaan bersalah yang menyesakkan.
"Aku tidak akan memaksamu, Aqua," lanjut Arthur dengan suara lembut. "Perasaanmu adalah milikmu, dan aku tidak ingin kau melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan. Aku hanya ingin kau tahu betapa tulusnya aku mencintaimu."
Aqua menarik napas dalam sebelum menundukkan kepalanya. "Aku… maafkan aku, Arthur."
Arthur menggeleng. "Tidak perlu meminta maaf. Aku memilih jalan ini sendiri."
Aqua menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Dan aku berterima kasih… Untuk semuanya. Untuk semua yang telah kau lakukan untukku."
Hening sejenak di antara mereka. Kemudian, Arthur tersenyum tipis, tapi senyumnya tidak sampai ke matanya.
"Tapi, Aqua…" Arthur menatapnya lebih dalam. "Kau pernah berjanji padaku."
Aqua mengerutkan kening.
"Janji?"
Arthur mengangguk. "Dulu, kau pernah mengatakan bahwa suatu hari nanti, kau akan membalas semua kebaikanku. Aku hanya ingin menagih janji itu sekarang."
Aqua merasa jantungnya berdebar tidak nyaman. "Arthur… Apa yang kau inginkan?"
Arthur melangkah lebih dekat, menurunkan suaranya hingga hampir berbisik.
"Tubuhmu."
Aqua membeku. Matanya membesar, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Di balik dinding, Pangeran Arkeolus yang kebetulan lewat, tanpa sengaja mendengar semua percakapan itu. Rahangnya mengeras, matanya berkilat marah. Tangannya mengepal, siap menghantam Arthur tanpa pikir panjang.
Namun, sebelum ia sempat melangkah, suara Aqua menghentikannya.
"Baiklah."
Dunia Arkeolus hancur dalam sekejap. Ia berdiri kaku, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Matanya membelalak, hatinya mencelos seakan baru saja ditusuk belati.
Aqua benar-benar mengatakan itu.
Pangeran Arkeolus tidak bisa bergerak, tidak bisa berpikir. Hanya satu hal yang memenuhi benaknya saat ini—rasa sakit yang menyesakkan, yang jauh lebih menyiksa daripada luka mana pun yang pernah ia derita.
🌊🌊🌊
Rius duduk di atas ranjang dengan wajah berseri-seri, matanya berbinar penuh semangat. King Albartaz duduk di sebelahnya, bersandar pada sandaran tempat tidur dengan tangan terlipat di dada. Tatapan matanya tetap dingin seperti biasa, tetapi tidak ada tanda-tanda ketidaksabaran di wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AQUARIUS [END]
FantasiaAquarius adalah mermaid kembar yang memiliki sifat saling bertolak belakang. Jika Aqua adalah ombak besar ditengah lautan, maka Rius adalah air tenang dalam kolam. Keduanya tidak pernah menyangka, bahwa ibu mereka sendiri telah terikat perjanjian de...
![AQUARIUS [END]](https://img.wattpad.com/cover/258407798-64-k512087.jpg)