Bab 1

4.3K 162 3
                                        

START : November 2023

END : 10 Februari 2025

Matahari memancar terik, sinarnya merasuk hingga ke dasar laut, menghidupkan kilau permata alami di terumbu karang. Aqua dan Rius berenang bersama, ekor mereka berkilauan keemasan, membelah arus sambil bercanda riang. Namun di balik tawa Rius, ada rasa was-was yang tak kunjung reda. Perasaan itu semakin kuat saat mereka menjauh dari istana.

"Aqua, Rius merasa tidak enak tentang ini," ucap Rius, memperlambat laju renangnya.

"Apa lagi sekarang, Rius?" Aqua mendengus kesal, berhenti sejenak untuk memutar tubuh menghadap saudari kembarnya. "Ini ulang tahun kita. Apa kau mau menghabiskannya hanya dengan duduk di istana dan mendengarkan ceramah Ibunda?"

"Tapi... larangan Ibunda pasti punya alasan. Aqua tahu, Ibunda selalu mengatakan bahwa hari ulang tahun ke-17 sangat penting. Rius hanya takut sesuatu yang buruk akan terjadi."

Aqua menggeleng pelan, lalu meraih tangan Rius. "Percayalah padaku, adikku. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Kau bersamaku. Aku tidak akan membiarkan apa pun menyakitimu." Aqua tersenyum lembut, lalu menarik tangan Rius, memaksanya berenang lebih jauh.

Namun rasa gelisah Rius semakin mencekam. Seolah-olah ada mata yang mengintai mereka dari kejauhan, bayangan tak kasat mata yang membuat bulu kuduknya meremang.

KWAK!

Rius tiba-tiba menghentikan gerakannya. "Aqua dengar itu tidak?" bisiknya pelan.

"Dengar apa?" Aqua menoleh, namun sebelum Rius sempat menjawab, suara itu terdengar lagi, lebih dekat. KWAK! KWAK!

"Di atas sana," gumam Rius, mendongak ke arah permukaan air. Ia merasa suara itu tidak wajar, asing, dan mendebarkan. "Aqua, Rius akan lihat. Tunggu di sini." Tanpa menunggu jawaban, Rius berenang naik ke permukaan.

Sesampainya di atas, Rius memicingkan mata menatap langit. Sebuah bayangan besar berputar-putar di atas air. Sayap hitamnya terbentang lebar, menciptakan siluet menakutkan di bawah sinar matahari. Makhluk itu tampak terbang rendah, menukik, seolah-olah mencari sesuatu di dalam laut.

Rius menelan ludah, berusaha menenangkan detak jantungnya yang liar. Namun ketika pandangan mereka bertemu, rasa takutnya meledak seperti ombak. Mata makhluk itu-merah menyala seperti bara api-menyipit penuh ancaman.

Makhluk itu melayang lebih dekat, kemudian berbicara dengan suara berat yang menggema hingga ke dasar hati Rius. "Akhirnya... aku menemukanmu."

Rius terlonjak mundur, kepanikannya memuncak. Ia menyelam kembali ke dalam air dengan gerakan terburu-buru, ekor keemasannya menciptakan pusaran kecil saat ia berenang menjauh. Tapi bayangan besar itu tidak berhenti. Makhluk itu melesat turun dari langit, menembus air dengan kecepatan luar biasa. Sayapnya yang hitam berubah menjadi ekor duyung gelap, sempurna menyatu dengan lingkungan laut.

"Tidak... tidak mungkin!" desis Rius, napasnya tertahan. Matanya membelalak melihat kecepatan dan keluwesan makhluk itu di dalam air. "Dia bisa berubah menjadi merman?!"

Suara berat itu kembali menggema, meski Rius sudah berenang sejauh mungkin. "Kau bisa lari, tapi kau tidak bisa bersembunyi dariku."

Panik, Rius mencari tempat persembunyian. Ia menyelinap di antara terumbu karang, melintasi anemon yang menjulang, hingga akhirnya menemukan goa kecil yang tersembunyi di balik ganggang laut. Tanpa berpikir panjang, ia masuk, tubuhnya gemetar. Napasnya tersengal-sengal, dan tangannya meremas dadanya yang berdebar kencang.

"Aqua... Aqua, kumohon, selamatkan Rius," bisiknya, air mata mulai membasahi wajahnya. Ia menunduk, mencoba mengatur napas, tapi setiap detik terasa seperti hukuman.

AQUARIUS [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang