Bab 16

1.1K 74 0
                                        

Aqua mengusap keringat di keningnya menggunakan punggung tangan usai berhasil menyeberangi jurang yang mengalirkan lahar panas dibawah sana. Tempatnya yang curam membuat Aqua sempat putus asa. Beruntung ia bisa menyeberang dengan selamat.

Memutuskan untuk beristirahat sejenak, Aqua duduk bersandar pada batang pohon. "Bagaimana keadaan orang itu?" Mengingat Arkeolus, Aqua menjadi cemas. Sudah lebih dari tiga hari sejak kejadian hari itu, Aqua tidak pernah melihat atau bertemu dengan pangeran Arkeolus itu. Entah apa yang terjadi pada pemuda itu mengingat Arkeolus sempat terluka parah bahkan terlibat pertarungan sengit dengan orang-orang jahat yang membawa senjata perak. Sejenak, Aqua menyesal meninggalkan orang itu dan memilih kabur melarikan diri.

Tapi, mengingat liontin miliknya yang berada di tangan Arkeolus, Aqua pun kesal. Aqua yakin Pangeran Arkeolus lah yang telah mengambil atau bahkan mencuri liontin miliknya secara sengaja, agar bisa terus bersamanya.

Aqua menunduk sambil menyentuh liontin ekor duyung di lehernya. Dalam diamnya Aqua berusaha meyakinkan dirinya sendiri, bahwa kini tujuannya sudah semakin dekat. Aqua pasti bisa bertemu dengan Rius.

"Tunggu aku Rius. Aku pasti akan menyelamatkanmu."

🌊🌊🌊

"Pangeran, Anda harus kembali untuk melanjutkan pengobatan."

"Diam, Zion. Ini juga salahmu. Seharusnya kau tidak membawaku kembali ke Istana waktu itu."

Zion yang mengikuti pangeran Arkeolus tampak sakit hati mendengar gerutuan sang pangeran.

"Bagaimana Anda bisa bicara begitu. Waktu itu Anda sekarat karena senjata perak. Beruntung saya membawa Anda kembali tepat waktu, bagaimana kalau Anda mati waktu itu dan Ratu...."

"Jangan kau sebut-sebut nama ibuku." Zion bungkam—tidak jadi melanjutkan bicaranya memilih kembali mengikuti Pangeran Arkeolus dari arah belakang.

Sambil memegangi perutnya yang terluka, Pangeran Arkeolus terus menelusuri sepanjang jalan itu. Dalam pikirannya kini hanya di penuhi oleh Aqua. Arkeolus sangat mengkhawatirkan gadis itu.

"Bagaimana kalau calon istriku terluka? Dia sendirian di tempat berbahaya itu."

"Cih... Seperti sudah di terima saja. Padahal, nona itu terus menolak keberadaan, Pangeran." Arkeolus berhenti melangkah kemudian berbalik menatap Zion garang. Sementara yang ditatap hanya bisa meringis meminta maaf seraya menyatukan tangan di depan dada.

Arkeolus kemudian kembali berjalan.

"Tapi Pangeran. Bukankah liontin nona itu sudah Anda berikan. Itu artinya, nona itu sadar Pangeran yang telah mengambil dan menyembunyikan liontin berharga miliknya. Pasti nona itu marah besar pada Pangeran dan semakin tidak mau melihat Pangeran lagi."

Arkeolus cemberut mendengar itu. "Kau benar, Zion."

"Tapi setidaknya, aku harus tetap mengawasinya meski pun harus dari kejauhan. Aku tidak mau kejadian seperti waktu itu kembali menimpanya."

Zion menghela napas. Tidak ingin berkomentar lagi. Selain dirasa percuma karena Pangeran Arkeolus tidak akan terbujuk dan mau kembali ke istana, Zion pun setuju dengan Pangeran Arkeolus.

Gadis itu memang patut dikasihani karena berkeliaran sendiri di tempat berbahaya begitu. Apalagi, gadis itu adalah seorang mermaid.

AQUARIUS [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang