Ruangan itu dipenuhi keheningan yang mencekam. Rius menatap King Albartaz dengan mata melebar, ekspresi keterkejutan di wajahnya segera berubah menjadi kemarahan.
Tangannya mengepal di atas perutnya, menahan emosi yang meluap. Ia masih berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar. Namun, begitu kalimat terakhir King Albartaz bergema di pikirannya, amarahnya langsung meledak.
"King Albartaz serius menanyakan itu pada Rius?" Rius mengulang pertanyaan itu dengan suara bergetar, lalu menatap King Albartaz dengan tajam. "King Albartaz berpikir Rius tidur dengan pria lain?!"
King Albartaz tetap diam, ekspresinya tidak terbaca, namun aura gelap di sekitarnya semakin kuat.
Rius mendecak kesal. "Rius hanya pernah bersama satu pria dalam hidup Rius, dan pria itu adalah King Albartaz!" Rius menunjuk King Albartaz dengan kesal. "Rius tidak percaya King Albartaz meragukan sesuatu yang bahkan tidak perlu dipertanyakan! Dasar iblis bodoh!"
King Albartaz mengerutkan keningnya. Ia tidak terbiasa dimarahi seperti ini.
Rius mengalihkan wajahnya dengan ekspresi penuh amarah. "Kalau King Albartaz tidak percaya, jangan akui anak ini!" bentaknya, lalu menarik selimut dan membalikkan tubuhnya, membelakangi King Albartaz.
Sang Raja Iblis masih terdiam, tetapi seulas seringai kecil muncul di wajahnya.
"Menarik," gumamnya pelan. Ia menatap punggung Rius yang masih gemetar karena emosi. Wanita ini memang selalu penuh kejutan.
King Albartaz bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekati tempat tidur. Ia duduk di tepi ranjang dan mencondongkan tubuhnya hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Rius.
"Aku tidak pernah mengatakan aku meragukannya," bisiknya, suaranya dalam dan menggelitik.
Rius tidak menjawab, tetapi King Albartaz tahu dari telinganya yang memerah bahwa wanita itu masih marah—dan tersipu.
Sang Raja Iblis menyeringai lebih lebar. "Aku hanya ingin mendengar jawabanmu sendiri."
Rius mendengus kesal. "Iblis licik."
King Albartaz terkekeh pelan, lalu menyentuh perut Rius dengan tangannya yang besar dan dingin. "Ini anakku," katanya dengan nada kepemilikan yang mutlak. "Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu atau anak kita."
Rius diam sejenak, lalu bergumam, "Seharusnya King Albartaz langsung berkata begitu sejak awal..."
King Albartaz tersenyum. "Tapi kalau begitu, aku tidak akan melihat wajah cemberutmu yang menggemaskan ini."
"Diam." Rius menarik selimutnya lebih tinggi, menutupi wajahnya yang memanas.
King Albartaz tertawa kecil, merasa puas. Untuk pertama kalinya, hatinya yang dingin terasa hangat oleh kehadiran wanita ini—dan calon anak mereka.
🌊🌊🌊
Suasana di dalam sel terasa familiar bagi Aqua, Arkeolus, Zion— tapi tentu tidak bagi Arthur yang baru pertama kali masuk ke tempat ini.
Arkeolus mendecak kesal. "Serius, ini sudah dua kali kita masuk penjara ini."
Arthur bersedekap, matanya tajam menatap jeruji besi. "Seharusnya kita sudah bisa menebak bahwa rencana pelarian itu tidak akan berjalan mulus."
Aqua, yang duduk bersandar di dinding, menggigit bibirnya. Ia tidak begitu peduli dengan fakta bahwa mereka kembali dipenjara. Pikirannya saat ini hanya dipenuhi satu hal: Rius.
Aqua menghela napas panjang. "Aku khawatir dengan Rius..." gumamnya lirih. "Dia tiba-tiba pingsan dalam pelukan King Albartaz. Aku harus tahu keadaannya. Aku harus menemuinya!"
KAMU SEDANG MEMBACA
AQUARIUS [END]
FantasíaAquarius adalah mermaid kembar yang memiliki sifat saling bertolak belakang. Jika Aqua adalah ombak besar ditengah lautan, maka Rius adalah air tenang dalam kolam. Keduanya tidak pernah menyangka, bahwa ibu mereka sendiri telah terikat perjanjian de...
![AQUARIUS [END]](https://img.wattpad.com/cover/258407798-64-k512087.jpg)