Bab 28

796 40 0
                                        

Keheningan menyelimuti tempat persembunyian mereka setelah kebenaran yang menyakitkan itu terungkap. Rius masih terisak pelan, seakan mencoba memahami kenyataan bahwa ibunya sendiri telah menumbalkannya kepada King Albartaz. Arthur hanya bisa mengepalkan tangannya, sementara Aqua berusaha menenangkan Rius dengan menepuk punggungnya pelan.

Di sisi lain, Pangeran Arkeolus tampak sibuk berpikir. Mata birunya yang tajam menatap ke langit malam yang kelam. "Kita tidak bisa tinggal di sini terlalu lama," ujarnya akhirnya. "Pasukan iblis pasti sudah menyebar untuk mencari kita."

Arthur menoleh. "Aku tahu tempat lain yang lebih aman, tapi kita harus bergerak sekarang sebelum mereka menemukan jejak kita."

Aqua mengangguk setuju, lalu menatap Rius dengan lembut. "Bisakah kau berjalan, Rius?"

Rius masih terlihat lemah, tapi ia mengangguk perlahan. "Rius akan berusaha..."

Pangeran Arkeolus segera berdiri, lalu meraih pedangnya. "Kalau begitu, ayo. Kita harus keluar dari tempat ini sebelum fajar."

Saat mereka mulai bergerak, Zion tiba-tiba menghentikan langkahnya. Mata kucingnya yang berwarna emas berkilat tajam saat ia mengendus udara di sekitar mereka. "Tunggu," katanya waspada.

Arthur mengerutkan kening. "Apa ada yang tidak beres?"

Zion menegang. "Kita sudah terlambat. Mereka ada di sini."

Dan seketika, dari kegelapan hutan, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Puluhan prajurit iblis muncul dari balik pepohonan, mengepung mereka dari segala arah.

Aqua menahan napasnya, sementara Pangeran Arkeolus langsung menarik pedangnya. "Persiapkan diri kalian," katanya dengan suara dingin. "Sepertinya kita harus bertarung."

Arthur segera berdiri di depan Aqua dan Rius, melindungi mereka. "Aqua, bawa Rius pergi. Aku dan Pangeran Arkeolus akan menahan mereka."

"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan kalian!" seru Aqua keras kepala.

Namun sebelum ada yang bisa merespons, seorang sosok tinggi menjulang dengan mata merah menyala melangkah maju dari balik bayangan. Suara beratnya menggema di udara.

"Sudah kuduga kau akan melakukan hal bodoh seperti ini, Putraku."

Pangeran Arkeolus membeku. Genggamannya di pedang menguat saat ia menatap wajah ayahnya sendiri—King Albartaz.

🌊🌊🌊

Udara mendadak terasa berat, seakan tertindih oleh kehadiran King Albartaz yang kini berdiri angkuh di hadapan mereka. Mata merahnya berkilat tajam, senyuman tipis terukir di bibirnya—senyuman yang lebih mengerikan daripada ekspresi marah sekalipun.

"Aku sudah tahu kau akan melakukan ini, Arkeolus," suara beratnya menggema. "Dan kau..." Tatapannya beralih ke Rius yang masih berdiri dengan tubuh gemetar. "Aku yakin kau pun sudah sadar bahwa melarikan diri dariku hanyalah mimpi belaka."

Rius langsung mundur, mendekat ke arah Aqua yang refleks memeluknya. Arthur juga berdiri lebih waspada, bersiap melindungi mereka kapan saja.

Pangeran Arkeolus mengepalkan tangannya di gagang pedang. "Aku tidak akan membiarkanmu mengambil Rius kembali," katanya tajam. "Dan kali ini, aku tidak akan tunduk padamu lagi, Ayah."

King Albartaz mendengus, tidak terlihat terpengaruh sedikit pun. "Tunduk? Kau pikir aku menginginkan itu?" Dia melangkah perlahan, aura mengancamnya semakin terasa kuat. "Tidak, Arkeolus. Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang menjadi milikku."

AQUARIUS [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang