Langit senja di atas istana Agathea berpendar jingga keemasan, menyelimuti taman dengan suasana hangat yang menenangkan. Air mancur di tengah taman berdesir lembut, menciptakan irama yang berpadu dengan suara angin yang menerpa dedaunan. Di salah satu sudut taman, di bawah pohon besar yang rimbun, Pangeran Arkeolus dan Aqua duduk berdampingan di atas bangku batu.
Seharusnya ini menjadi sore yang menyenangkan bagi mereka. Namun, bagi Arkeolus, ada sesuatu yang terus mengganjal di hatinya sejak percakapan Aqua dan Arthur beberapa hari lalu. Kata-kata Aqua masih bergema di kepalanya-jawaban yang dengan begitu mudah diberikan Aqua pada Arthur ketika pria itu meminta tubuhnya.
Arkeolus menatap Aqua di sampingnya. Gadis itu tampak tenang, wajahnya diterpa cahaya matahari yang semakin meredup, menciptakan bayangan lembut di garis wajahnya yang cantik. Aqua, gadis yang selama ini ia pikir ia pahami dengan baik, ternyata bisa memberikan sesuatu yang sangat berharga pada pria lain tanpa keraguan?
Arkeolus mengepalkan tangannya di atas lututnya, hatinya gelisah. Ia ingin tahu, ingin menguji sesuatu.
"Aqua."
Aqua menoleh, menatap Arkeolus dengan ekspresi bertanya.
Arkeolus menarik napas dalam, menahan emosinya agar tidak terlihat mencurigakan. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
Aqua mengangguk, menunggu kelanjutannya.
Arkeolus mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, mendekat ke arah Aqua hingga wajah mereka hampir bersisihan. "Jika aku meminta sesuatu yang sangat pribadi darimu, apakah kau akan memberikannya?"
Aqua mengerutkan kening, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. "Tergantung apa yang kau minta."
Arkeolus menatap dalam ke mata Aqua, sorot matanya penuh dengan sesuatu yang sulit diartikan. "Bagaimana jika aku meminta tubuhmu?"
Aqua membeku. Napasnya tercekat, jantungnya berdetak cepat. Wajahnya langsung memerah saat mendengar permintaan itu dari bibir Arkeolus.
"Pa-Pangeran...?" suara Aqua nyaris bergetar.
Arkeolus tetap menatapnya dengan intens, menunggu reaksinya. "tidak jadi. Maafkan aku. Aku hanya bercanda tadi."
🌊🌊🌊
Malam telah larut, tetapi Aqua masih duduk di tepi ranjangnya, menatap kosong ke lantai kamar yang diterangi cahaya bulan dari jendela besar di belakangnya. Tangannya saling meremas, menggenggam erat kain gaunnya, sementara pikirannya terus berputar tanpa henti.
Ia mengingat kembali percakapannya dengan Pangeran Arkeolus sore tadi. Bagaimana tatapan lelaki itu begitu menusuk, bagaimana nada suaranya terdengar begitu dingin saat menanyakan hal itu padanya.
"Jika aku meminta sesuatu yang sangat pribadi darimu, apakah kau akan memberikannya?"
"Bagaimana jika aku meminta tubuhmu?"
Aqua menggigit bibir bawahnya dengan gelisah, dadanya terasa sesak seakan ada batu besar yang menghimpitnya. Kenapa Arkeolus bisa menanyakan hal seperti itu? Apakah dia tahu sesuatu? Apakah dia mendengar lebih dari yang Aqua kira?
Aqua menarik napas dalam, tetapi udara yang ia hirup seakan tidak cukup untuk menenangkan kegelisahannya.
Kata-kata itu berulang kali terngiang di kepalanya, membuatnya semakin gelisah. Aqua menundukkan wajah, kedua tangannya kini mencengkeram rambutnya sendiri.
"Jangan-jangan... Pangeran Arkeolus tahu soal itu?"
Aqua merasa seluruh tubuhnya membeku. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Jika benar Arkeolus mengetahui segalanya, bagaimana reaksi pria itu? Apa dia akan memandangnya dengan jijik? Apa dia akan meninggalkannya?
KAMU SEDANG MEMBACA
AQUARIUS [END]
FantasiAquarius adalah mermaid kembar yang memiliki sifat saling bertolak belakang. Jika Aqua adalah ombak besar ditengah lautan, maka Rius adalah air tenang dalam kolam. Keduanya tidak pernah menyangka, bahwa ibu mereka sendiri telah terikat perjanjian de...
![AQUARIUS [END]](https://img.wattpad.com/cover/258407798-64-k512087.jpg)