Setelah dibebaskan dari penjara oleh King Albartaz, Aqua, Arkeolus, Arthur dan juga Zion diberikan kamar masing-masing di istana kegelapan Agathea.
Namun tidak melihat Aqua barang sebentar saja, rasanya Arkeolus sudah tidak sanggup. Oleh karena itu, pangeran Arkeolus melangkah menuju kamar Aqua dengan niat yang jelas-ia ingin memastikan keadaan Aqua setelah semua yang terjadi. Namun, saat mendekati pintu yang sedikit terbuka, langkahnya terhenti.
Suara tawa lembut terdengar dari dalam ruangan.
"Aqua," suara Arthur terdengar rendah dan hangat. "Aku senang melihatmu baik-baik saja. Asal kau tahu, tidurku tidak pernah tenang semenjak aku mengantarmu pergi melarikan diri dari negeri bawah laut."
Arkeolus mengerutkan dahi. Jantungnya mulai berdebar tak nyaman.
"Aku merasa bersalah dan juga mencemaskanmu setiap waktu...."
"Setiap detik yang kulewati tanpamu, benar-benar menyiksaku," lanjut Arthur.
"Aku tahu," jawab Aqua dengan suara lembut. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku, Arthur. Tanpamu, aku tidak bisa melangkah sampai sejauh ini. Kau... bahkan telah mempertaruhkan nyawamu demi membantuku. Kau rela melawan ibuku...."
"Berjanjilah Aqua. Berjanjilah padaku, kau tidak akan melakukan hal yang berbahaya seperti ini lagi."
"Kau mungkin selamat sekarang. Namun tidak ada yang tahu masa depan...."
"Arthur...." Aqua meraih tangan Arthur dan tersenyum. "Aku mengerti. Dan aku akan mendengarkan mu."
Arkeolus mengepalkan tangannya.
Sejak kapan Aqua berbicara dengan nada selembut itu pada seorang pria?
Lalu, matanya membelalak ketika melihat Arthur mengulurkan tangan, menyentuh pipi Aqua dengan gerakan lembut dan Aqua bahkan tidak menepisnya.
Tangannya mengepal, dan tanpa pikir panjang, ia mendorong pintu kamar Aqua hingga terbuka lebar, membuat dua orang di dalam ruangan itu menoleh terkejut.
Brak!
"Apa yang sedang kalian lakukan?" suara Arkeolus terdengar rendah, sarat dengan amarah yang ditahannya dengan susah payah. Tatapannya tajam menusuk ke arah Arthur. "Bukankah King Albartaz memberikan kamar yang terpisah. Lantas kenapa seorang pria asing berada di satu kamar yang sama yang di tempati Aqua?"
Arthur hanya mengangkat alis, seolah tidak terpengaruh oleh kedatangan Arkeolus yang tiba-tiba itu. "Aku sengaja datang untuk memastikan Aqua baik-baik saja," jawabnya santai.
Arkeolus tertawa pendek, penuh ejekan. "Benarkah? Kau menyentuh wajahnya, apakah itu yang kau maksud dengan memastikan Aqua baik-baik saja?"
"Arkeolus, kau salah paham. Aku dan Arthur-kami tidak melakukan apapun yang melanggar aturan Istana," Aqua mencoba menjelaskan, tetapi Arkeolus sudah melangkah maju.
"Aku tidak peduli!" Arkeolus menatap Aqua dengan intens. "Aqua, dengarkan aku. Kau hanya boleh disentuh olehku. Karena aku mencintaimu. Dan hanya aku- satu-satunya pria yang mencintaimu dengan tulus. Tidak ada pria yang lain. Bahkan pria bernama Arthur itu."
Aqua tertegun. Matanya membesar, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Arkeolus.
Arthur yang masih berada di dalam ruangan langsung mengeraskan rahangnya. Ekspresinya tetap tenang, tetapi tatapannya semakin tajam. "Pangeran Arkeolus," panggilnya dingin. "Aku harap kau tidak lupa bahwa Aqua adalah putri kerajaan bawah laut. Ratu Melisa sudah lama ingin menjodohkan kami."
Arkeolus menatap Arthur dengan tatapan penuh perlawanan. "Aku tidak peduli dengan rencana perjodohan kalian. Yang aku tahu, aku mencintai Aqua. Dan aku akan memperjuangkannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
AQUARIUS [END]
FantasyAquarius adalah mermaid kembar yang memiliki sifat saling bertolak belakang. Jika Aqua adalah ombak besar ditengah lautan, maka Rius adalah air tenang dalam kolam. Keduanya tidak pernah menyangka, bahwa ibu mereka sendiri telah terikat perjanjian de...
![AQUARIUS [END]](https://img.wattpad.com/cover/258407798-64-k512087.jpg)