Udara malam terasa dingin dan menusuk tulang saat Aqua, Pangeran Arkeolus, dan Zion menyusuri lorong-lorong gelap Kastil Agathea. Tubuh Rius yang tak sadarkan diri masih berada dalam gendongan Arkeolus, sementara Zion berjalan di depan, memastikan jalur mereka tetap aman.
Aqua menatap wajah saudari kembarnya yang tertidur lemas di pelukan Pangeran Arkeolus. Ada rasa sakit yang menggerogoti hatinya—membayangkan Rius yang polos terkurung dengan iblis terkutuk seperti King Albartaz, namun tidak peduli seberapa keras sumpah itu mengikat, ia akan menemukan cara untuk membebaskan Rius dari belenggu iblis itu.
“Zion, seberapa jauh lagi?” bisik Aqua, matanya awas terhadap setiap sudut lorong.
“Tidak jauh,” jawab Zion, pandangannya tetap fokus ke depan. “Tapi kita harus segera keluar sebelum para penjaga menyadari ada yang tidak beres, Nona.”
Mereka terus bergerak dengan hati-hati, menghindari titik-titik patroli yang dijaga ketat oleh pasukan iblis. Pangeran Arkeolus tetap menjaga genggamannya pada tubuh Rius, memastikan gadis duyung itu tidak terjatuh dari pelukannya.
Namun, tepat ketika mereka hampir mencapai gerbang belakang kastil, suara langkah kaki terdengar mendekat dengan cepat.
“Sial, kita ketahuan,” gumam Zion.
Aqua menoleh ke belakang dan melihat bayangan beberapa penjaga iblis muncul di ujung lorong. Mata merah mereka bersinar ganas, menandakan bahwa mereka sudah menyadari pelarian ini.
“Lari!” seru Pangeran Arkeolus.
Tanpa membuang waktu, mereka bergegas menuju pintu keluar, tetapi para penjaga bergerak lebih cepat dari yang mereka perkirakan. Dalam hitungan detik, kelompok itu sudah terkepung.
Aqua mengeratkan genggamannya. “Tidak! Kita sudah sedekat ini!”
Zion menghunus pedangnya. “Aku akan membuka jalan. Nona Aqua dan Pangeran Arkeolus bawa Nona itu keluar dari sini.”
“Apa?!” Aqua menatap Zion dengan mata membelalak. “Kau tidak bisa sendirian melawan mereka semua!”
Zion menyeringai. “Aku bisa menahan mereka cukup lama. Percayalah.”
Pangeran Arkeolus menatap Zion dalam diam sebelum mengangguk. “Jangan sampai kau mati di sini.”
“Tidak ada rencana seperti itu,” jawab Zion ringan sebelum melesat ke depan, menebas para penjaga dengan serangan cepat.
Pangeran Arkeolus dan Aqua menggunakan kesempatan itu untuk menerobos celah yang Zion buat. Dengan sekuat tenaga, mereka berlari menuju gerbang belakang yang akhirnya terlihat di hadapan mereka.
Begitu melewati batas kastil, Arkeolus bergegas menuju hutan terdekat. Nafasnya memburu saat ia tetap menggenggam tubuh Rius erat-erat. Tanpa kendaraan, satu-satunya pilihan mereka adalah berlari secepat mungkin ke tempat persembunyian yang cukup aman untuk sementara waktu.
“Kita harus bersembunyi dulu,” ujar Aqua, suaranya sedikit bergetar. “King Albartaz pasti akan segera mengejar kita.”
Arkeolus mengangguk. Mereka terus berlari ke dalam kegelapan hutan, dikelilingi oleh suara malam yang mencekam.
Namun, di dalam hati Aqua, ia tahu bahwa ini belum berakhir.
King Albartaz tidak akan tinggal diam.
🌊🌊🌊
Ruangan singgasana terasa mencekam, lebih sunyi dari biasanya, seolah udara di dalamnya tertahan dalam ketegangan yang menyesakkan. Hanya suara langkah berat King Albartaz yang menggema, bergema dengan irama mengancam di setiap sudut ruangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
AQUARIUS [END]
FantasyAquarius adalah mermaid kembar yang memiliki sifat saling bertolak belakang. Jika Aqua adalah ombak besar ditengah lautan, maka Rius adalah air tenang dalam kolam. Keduanya tidak pernah menyangka, bahwa ibu mereka sendiri telah terikat perjanjian de...
![AQUARIUS [END]](https://img.wattpad.com/cover/258407798-64-k512087.jpg)