Bab 33

817 40 0
                                        

Aqua berdiri di hadapan Pangeran Arkeolus dengan tatapan yang sulit ditebak. Udara di sekitar mereka terasa lebih dingin, atau mungkin hanya Arkeolus yang merasa begitu setelah perasaan sakit hatinya tadi malam.

"Kau benar-benar ingin pergi?" suara Aqua terdengar lembut, tetapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Arkeolus merasa ragu.

"Benar," jawabnya cepat, berusaha terdengar yakin.

Aqua terdiam, menatap wajah pria di hadapannya dengan lebih dalam. Seolah mencari sesuatu di balik sorot matanya. Lalu, dengan suara pelan tapi pasti, ia bertanya, "Seberapa dalam?"

Arkeolus menaikkan satu alisnya, menunggu lanjutan kalimat Aqua.

"Seberapa dalam kau mencintaiku, Pangeran?"

Kedua bola mata Arkeolus melebar. Ia tidak percaya Aqua menanyakan perasaannya secara langsung.

"Apa?" gumamnya, masih mencoba memproses pertanyaan itu.

Aqua tetap menatapnya, tidak berniat mengulang pertanyaannya.

"Setelah menyatakan cinta padaku, Pangeran malah langsung mau pergi? Tidak mau menunggu jawaban dari mulutku dulu?"

Arkeolus membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Ia benar-benar tidak menyangka Aqua akan menyinggung hal ini.

"Aku…"

Aqua tersenyum tipis, meskipun dalam hatinya ia merasa canggung. "Pertemuan kita terlalu singkat. Jadi wajar bukan, aku belum memiliki perasaan terhadapmu, dan aku tidak bisa langsung mempercayai ungkapan cinta darimu."

Arkeolus menggigit bibirnya. Rasanya ingin sekali menyangkal dan memaksa Aqua untuk langsung membalas perasaannya. Tapi ia tahu, Aqua tidak seperti wanita lain yang biasanya mudah luluh padanya.

"Tapi bukan berarti tidak akan tumbuh perasaan yang sama di dalam hatiku," lanjut Aqua, kali ini tatapannya semakin tajam. "Pangeran tidak ingin menunggu?"

Arkeolus terdiam. Hatnya seolah berdebar lebih cepat.

Aqua sendiri sebenarnya malu mengatakan hal ini. Selama ini ia selalu jual mahal di depan Arkeolus, jadi wajar saja jika sekarang ia merasa gengsi. Tapi di sisi lain, ia juga ingin tahu… seberapa besar kesungguhan Pangeran Arkeolus terhadapnya?

"Kalau Pangeran benar-benar ingin pulang dan tidak mau menunggu perasaanku, silakan. Aku tidak akan memaksa Pangeran tetap tinggal," ucapnya dengan suara pelan.

Setelah mengatakan itu, Aqua berbalik, bersiap untuk pergi meninggalkannya. Namun, sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, sesuatu yang hangat dan kuat melingkari pinggangnya.

Arkeolus memeluknya dari belakang.

Aqua terkejut, tetapi tidak bisa bergerak.

"Aku akan menunggu," kata Arkeolus sambil tersenyum lebar.

Aqua bisa merasakan kehangatan napasnya di dekat telinganya.

"Tidak," lanjut Arkeolus dengan suara lebih mantap. "Aku tidak hanya akan menunggumu, Aqua. Aku bahkan akan berusaha membuat perasaanmu tumbuh subur hanya untukku."

Aqua merasakan debaran di dadanya semakin cepat. Jujur, ia tidak tahu harus menjawab apa. Namun, satu hal yang pasti—Pangeran Arkeolus tidak main-main.

🌊🌊🌊


Suasana di istana Agathea mendadak lebih hidup saat para pelayan buru-buru bersiap menyambut tamu penting yang baru saja tiba. Langkah-langkah anggun terdengar bergema di sepanjang lorong, menandakan kedatangan sosok berwibawa yang kehadirannya selalu membawa ketenangan sekaligus ketegasan.

AQUARIUS [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang