Di aula utama Istana Agathea, semua orang menatap Pangeran Arkeolus yang berdiri tegak di tengah ruangan. Wajahnya penuh dengan luka amarah yang belum reda. Di sisi lain, Arthur duduk dengan wajah babak belur, bibir pecah, dan beberapa memar menghiasi pipinya.
Aqua menatap keduanya dengan perasaan campur aduk. Dia sudah menduga Arthur dan Arkeolus memiliki ketegangan, tetapi tidak menyangka hal ini akan terjadi di hadapan banyak orang.
King Albartaz duduk di singgasananya, mengamati semua dengan tatapan tajamnya yang penuh wibawa. Sementara Ratu Melisa berdiri di sisi Rius dan Aqua, ekspresinya serius.
"Aku ingin mengakui sesuatu," suara Arkeolus menggema di seluruh aula. Semua orang terdiam. "Aku telah memukuli Arthur!"
"Aku melakukannya karena aku cemburu," lanjutnya tanpa ragu. Ia menatap lurus ke arah Aqua. "Aku cemburu dengan kedekatan Aqua dengan Arthur. Aku tidak bisa menahan perasaan ini lebih lama lagi."
Aqua terpaku di tempatnya.
Semua orang berbisik-bisik, kaget dengan pengakuan Arkeolus. Bahkan Arthur, meski babak belur, masih bisa tersenyum seolah menikmati drama yang terjadi.
Namun, yang paling mengejutkan adalah tindakan Arkeolus setelahnya.
Di hadapan semua orang, termasuk King Albartaz dan Ratu Melisa, Pangeran Arkeolus berlutut di hadapan Aqua.
"Aqua," suaranya mantap dan tulus. "Aku mencintaimu. Aku ingin kau menjadi istriku."
Aqua membelalakkan mata, tangannya gemetar. Ia sama sekali tidak menyangka Arkeolus akan melamarnya seperti ini, di depan semua orang.
Semua hadirin semakin berbisik, kehebohan terjadi di sekeliling mereka.
"Aku ingin menikahimu, Aqua," Arkeolus melanjutkan, tatapannya tidak goyah. "Dan aku ingin kau mengenal ibuku. Aku ingin membawamu menemuinya, sebagai calon istriku."
Ratu Melisa yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara.
"Tidak!" suaranya tegas dan penuh ketidaksetujuan. "Aku tidak merestui pernikahan ini."
Aqua menoleh ke arah ibunya, hatinya mencelos.
Pangeran Arkeolus tetap berlutut, tetapi ia tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah. "Aku mencintai Aqua. Aku ingin menghabiskan hidupku dengannya."
"Itu bukan alasan yang cukup kuat," Ratu Melisa menatapnya tajam. "Kau adalah pangeran vampir. Aqua adalah putri mahkota mermaid. Hubungan kalian tidak masuk akal. Bagaimana kau bisa meminta restuku untuk sesuatu yang bertentangan dengan takdir?"
Aqua mengepalkan tangannya. "Ibunda..."
Namun sebelum Aqua bisa berbicara, suara dalam dan penuh wibawa menggema di ruangan itu.
"Ratu Melisa," King Albartaz akhirnya bersuara. Semua orang langsung terdiam, menantikan kata-katanya.
Ratu Melisa menoleh ke arah Raja Iblis itu, ekspresinya tegang.
"Jika kau menolak pernikahan ini karena status mereka yang berbeda, maka aku akan bertanya padamu," King Albartaz menatapnya tajam. "Bukankah Rius juga berbeda denganku? Namun kau tetap menyerahkan putrimu padaku."
Ratu Melisa terdiam.
"Bukankah saat itu kau juga melawan takdir dengan menikahkan putrimu dengan Raja Iblis?" lanjutnya. "Jadi mengapa kini kau menolak ketika putrimu yang lain ingin memilih jalannya sendiri?"
Ratu Melisa menggigit bibirnya, tangannya terkepal. Ia tidak bisa membantah ucapan King Albartaz.
Semua hadirin menahan napas, menunggu keputusan sang ratu.
KAMU SEDANG MEMBACA
AQUARIUS [END]
FantasíaAquarius adalah mermaid kembar yang memiliki sifat saling bertolak belakang. Jika Aqua adalah ombak besar ditengah lautan, maka Rius adalah air tenang dalam kolam. Keduanya tidak pernah menyangka, bahwa ibu mereka sendiri telah terikat perjanjian de...
![AQUARIUS [END]](https://img.wattpad.com/cover/258407798-64-k512087.jpg)