Bab 38

2K 46 6
                                        

Istana Kegelapan Agathea, yang selama ini dikenal suram dan dingin, kini berubah menjadi megah dan bersinar dalam cahaya lilin keemasan. Dekorasi pernikahan yang anggun memadukan kemewahan kerajaan iblis dengan sentuhan lautan kerajaan mermaid. Air mancur kristal yang memantulkan cahaya bulan menambah keindahan malam yang bersejarah ini.

Hari ini adalah hari pernikahan Pangeran Arkeolus dan Putri Aqua.

Ratusan tamu undangan dari berbagai kerajaan berkumpul, menyaksikan bersatunya dua dunia yang begitu berbeda. Ratu Melisa duduk di barisan depan, ekspresinya penuh kebanggaan bercampur kekhawatiran. Sementara itu, di atas singgasananya, King Albartaz duduk dengan Rius di sisinya. Rius tampak berseri-seri, matanya berbinar menatap suasana pernikahan yang indah.

"Rius masih tak menyangka Istana Agathea bisa berubah menjadi seperti ini," gumam Rius dengan kagum.

King Albartaz menoleh, memperhatikan istrinya yang tampak begitu menikmati momen ini. "Jika kau menyukainya, kelak kita bisa mengadakan perayaan yang lebih besar."

Rius memandangnya heran. "Perayaan apa?"

King Albartaz menatap perut Rius yang masih rata, lalu tersenyum misterius.

Di ruangan pengantin, Aqua berdiri di depan cermin besar. Gaun pengantinnya berwarna putih dengan aksen perak dan biru laut, dihiasi mutiara yang berkilauan seperti ombak di bawah sinar matahari. Namun, tatapannya dipenuhi kegelisahan.

Pintu terbuka. Ratu Melisa melangkah masuk dengan anggun.

"Aqua," panggilnya lembut.

Aqua menoleh, hatinya berdegup kencang. "Ibunda... apakah ibu masih tidak merestui pernikahan ini?" tanyanya pelan.

Ratu Melisa menatap putrinya dalam-dalam sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Ibu tidak bisa menghentikanmu lagi. Kau telah memilih jalanmu sendiri. Ibu hanya berharap, kau tidak akan menyesali keputusan ini."

Aqua menggigit bibirnya, lalu maju dan menggenggam tangan ibunya erat. "Terima kasih, Ibunda. Meskipun ibu berat hati, Aqua sangat menghargai restu ini."

Ratu Melisa mengelus kepala putrinya dengan penuh kasih. "Jadilah bahagia, Aqua."

Di luar, Pangeran Arkeolus berdiri tegap di depan altar, mengenakan pakaian pengantin berwarna hitam dengan bordiran emas. Mahkotanya bersinar di bawah cahaya lilin, dan sorot matanya penuh dengan kesabaran serta keyakinan.

Ketika akhirnya pintu besar terbuka dan Aqua melangkah masuk, semua orang terdiam.

Aqua berjalan perlahan, gaunnya menyapu lantai marmer hitam. Cahaya lilin membuatnya tampak seperti bidadari yang turun dari langit. Tatapannya bertemu dengan Arkeolus, dan dalam sekejap, kegelisahannya menghilang.

Sampai akhirnya, mereka berdiri berhadapan.

Sang imam kerajaan iblis mulai melantunkan doa-doa sakral.

"Aqua, bersediakah kau menjadi pendamping hidup Pangeran Arkeolus, mendampinginya dalam suka maupun duka, hingga akhir hayat?"

Aqua menatap Arkeolus dengan perasaan penuh kepastian. "Aku bersedia."

"Pangeran Arkeolus, bersediakah kau menerima Aqua sebagai pasangan hidupmu, mencintainya dan melindunginya selamanya?"

Arkeolus menatap Aqua dalam-dalam. "Aku bersedia."

Saat cincin disematkan di jari mereka, suara tepuk tangan dan sorak sorai menggema di seluruh ruangan.

Namun, sebelum semua orang bisa merayakan lebih jauh, Arkeolus tiba-tiba berlutut di hadapan Ratu Melisa dan King Albartaz.

AQUARIUS [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang