Bab 25

833 44 0
                                        

Melihat kedatangan adiknya, Aqua merasa seolah beban di pundaknya mulai terangkat. Rius—dalam keadaan sehat—melangkah menghampiri sel penjara dengan langkah tegap, dan Aqua hampir tak bisa menahan diri. Dia merasa ingin berlari memeluk saudara kembarnya itu. Zion dan Pangeran Arkeolus yang berada di sampingnya pun bisa merasakan hal yang sama.

Namun, Pangeran Arkeolus yang pertama kali melihat penampilan Rius dengan lebih seksama, akhirnya tersadar. Memang, mereka berdua—Aqua dan Rius—benar-benar kembar. Tak ada perbedaan yang jelas di antara keduanya, kecuali warna rambut panjang mereka yang berbeda dan mungkin juga ekor duyung yang dimiliki Aqua dan Rius.

Pangeran Arkeolus mengamati Rius yang datang dengan penuh keyakinan, bahkan Zion, yang mendekati Rius, tampak bangga. Mereka sempat berpikir bahwa Rius berhasil menjalankan rencananya, mengelabuhi King Albartaz, dan kini datang menyelamatkan mereka bertiga.

Namun, Rius bungkam. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya saat Aqua bertanya tentang keadaannya. Rius hanya melangkah masuk dan langsung memeluk Aqua yang berada di dalam bak berisi air. Mereka saling menangis, berbagi kerinduan yang teramat dalam. Aqua membalas pelukan Rius dengan erat, tak ingin melepaskannya lagi.

"Rius senang melihat Aqua baik-baik saja."

"Aku jauh lebih senang melihatmu, Rius," balas Aqua, suaranya serak karena emosinya yang meledak.

Kemudian, dengan penuh perhatian, Rius memakaikan kalung liontin milik Aqua ke leher Aqua. Saat itu, Pangeran Arkeolus langsung menggendong Aqua keluar dari dalam air, dan seketika ekor duyung Aqua berubah menjadi sepasang kaki manusia. Aqua dan Rius kembali berpelukan, berusaha meresapi kebersamaan mereka yang terpisah begitu lama.

"Tidak perlu berlama-lama lagi. Ayo kita harus segera pergi dari sini sebelum King Albartaz menyadari keberhasilan rencana kita."

Namun, saat Aqua menggandeng Rius dan hendak menarik saudara kembarnya itu agar ikut bersamanya, Aqua langsung mengernyitkan kening. Rius justru tidak beranjak, malah terus menundukkan kepala dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Rius tidak bisa pergi dari sini."

"Kenapa tidak?" Aqua bertanya, suaranya terdengar penuh kebingungannya.

"Rius sudah bersumpah tidak akan meninggalkan tempat ini atas nama King Albartaz."

Aqua menatap Rius dengan mata yang terbelalak, merasa tidak percaya mendengar kalimat itu keluar dari mulut adiknya.

"Rius!" Aqua berteriak marah, tidak percaya. "Kau pasti bercanda!"

"Tidak, Aqua. Rius tidak bercanda." Suara Rius terdengar rendah namun penuh penyesalan. "Karena itulah, Rius tidak bisa ikut pergi bersama Aqua. Maafkan Rius."

Aqua mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh, perasaan marah dan bingung bercampur. Begitu banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya, namun satu hal yang jelas—ia tidak bisa membiarkan adiknya tetap terperangkap di dalam sangkar itu, tidak seperti ini.

🌊🌊🌊

Rius berdiri dengan matanya yang kini terlihat kosong. Kehadiran Aqua, Pangeran Arkeolus, dan Zion menjadi sebuah harapan yang seharusnya bisa membawanya kabur dari Kastil Agathea. Namun, hatinya terasa terperangkap dalam sumpah yang telah ia buat pada King Albartaz.

Aqua, dengan langkah terburu-buru, menghampiri Rius dan memegang kedua bahunya dengan erat. "Rius, kita harus segera pergi! King Albartaz tidak akan tahu tentang ini!"

Pangeran Arkeolus mengamati situasi dengan tatapan tajam, memahami betapa pentingnya momen ini. Zion berdiri di belakang mereka, menunggu perintah selanjutnya.

AQUARIUS [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang