Aquarius adalah mermaid kembar yang memiliki sifat saling bertolak belakang. Jika Aqua adalah ombak besar ditengah lautan, maka Rius adalah air tenang dalam kolam.
Keduanya tidak pernah menyangka, bahwa ibu mereka sendiri telah terikat perjanjian de...
Istana Agathea hari ini terasa lebih hidup dari biasanya. Keberadaan Ratu Melisa membawa suasana yang berbeda, terutama bagi Rius. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia bisa menghabiskan banyak waktu dengan ibunya tanpa harus melihatnya terburu-buru kembali ke istana bawah laut Oceana.
Sepanjang hari, Rius dan Ratu Melisa menikmati berbagai aktivitas bersama. Mereka berjalan-jalan di taman istana, berbincang di balkon yang menghadap ke langit luas, hingga menikmati teh sore di ruang pribadi Rius. Sang ratu bahkan dengan sabar menemani Rius memilih pakaian yang nyaman untuknya, sesuatu yang biasanya hanya dilakukan oleh para pelayan.
Rius tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia selalu tahu bahwa ibunya mencintainya, tetapi selama ini ia merasa berada di bayang-bayang Aqua. Aqua adalah putri mahkota, calon penerus takhta. Wajar saja jika ibunya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengajarkan Aqua bagaimana menjadi ratu yang bijaksana.
Namun hari ini, hanya ada dirinya dan ibunya. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa diperhatikan sebagai seorang putri, bukan hanya sebagai adik Aqua yang selalu dibanding-bandingkan.
"Rius senang sekali hari ini," ucapnya dengan suara ceria saat mereka duduk di ayunan taman, menikmati hembusan angin lembut.
Ratu Melisa tersenyum lembut, membelai rambut putri bungsunya dengan penuh kasih sayang. "Ibu juga senang, Sayang. Ibu tahu selama ini ibu terlalu sibuk... dan tidak pernah memberikan perhatian yang cukup untukmu."
Rius menggeleng cepat. "Rius mengerti, kok! Lagipula, Rius tidak sepintar Aqua, jadi wajar saja kalau ibu lebih banyak memperhatikannya. Tapi..." Rius tersenyum manis. "Hari ini benar-benar menyenangkan."
Ratu Melisa menatap putrinya dengan rasa bersalah yang mendalam, tetapi juga kebahagiaan karena bisa menebus waktu yang terlewat.
Sementara itu, King Albartaz yang biasanya selalu menempel pada Rius, justru tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengganggu kebersamaan ibu dan anak itu. Seakan memahami bahwa ini adalah waktu berharga bagi mereka.
Hari berlalu dengan penuh kebahagiaan, hingga malam pun tiba.
Saat hendak kembali ke kamarnya, Ratu Melisa melintasi salah satu koridor istana yang cukup sepi. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat sebuah pintu kamar yang perlahan terbuka.
Dari balik pintu itu, Aqua keluar... disusul oleh Pangeran Arkeolus.
Mereka tampak begitu dekat-terlalu dekat. Arkeolus tersenyum miring sambil membisikkan sesuatu di telinga Aqua, membuat putrinya itu tersipu. Aqua bahkan menepuk lengan pangeran vampir itu dengan gemas, seolah mengingatkannya untuk tidak terlalu berlebihan.
Ratu Melisa tidak mengatakan apapun.
Namun ekspresinya jelas menunjukkan ketidaksenangan.
Dengan tenang, ia melanjutkan langkahnya, meninggalkan pemandangan yang baru saja disaksikannya. Namun dalam hati, ada sesuatu yang mulai mengganggunya.
Putri mahkota Oceana... dan seorang pangeran vampir?
Ini bukan hal yang bisa diabaikan begitu saja.
🌊🌊🌊
"Bagaimana hubunganmu dengan Arthur? Apakah kau mulai melupakan, hubungan diantara kalian berdua hanya karena keberadaan pangeran vampir itu, Aqua?"
Aqua berdiri dengan tangan mengepal di sisi tubuhnya, menahan emosi yang semakin memuncak. Sementara itu, Ratu Melisa menatapnya tajam, tatapan penuh ketegasan yang tak bisa ditawar.
"Sejak awal, bukankah Ibunda tahu aku dan Arthur hanyalah berteman?" kata Aqua, berusaha terdengar setenang mungkin meskipun hatinya bergejolak.
"Teman?" Ratu Melisa mengulang kata itu dengan nada sinis. "Tidak sadarkah kau, Aqua? Teman macam apa yang memanfaatkan Arthur seperti itu? Apa kau mendadak lupa siapa yang selalu menenangkanmu saat kau sedang terpuruk? Siapa yang selalu ada untukmu? Arthur yang selalu di sisimu, Arthur yang bahkan rela mengkhianati ibu dan membantumu kabur dari Oceana!"
Aqua menggigit bibirnya. Ia tahu betapa besar pengorbanan Arthur untuknya, tapi perasaan itu tetap tidak bisa dipaksakan.
"Ibu... Kita baru saja berbaikan. Dan sekarang, ibu ingin hubungan kita memburuk lagi?"
Ratu Melisa mengepalkan tangannya di atas meja. "Salahmu, Aqua! Andai saja ibu tidak memergoki kalian berdua-kau bersama pangeran vampir itu keluar dari kamar yang sama, ibu pasti tidak akan semarah ini!"
"Kami tidak melakukan apapun yang ada dalam pikiran ibu," Aqua menjawab tegas.
"Sekarang mungkin tidak," Ratu Melisa mendekat, suaranya lebih pelan tapi tetap mengintimidasi, "tapi akan... iya kan?"
Aqua terdiam. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini akan berlanjut.
Ratu Melisa menatapnya dalam-dalam. "Aqua, biar ibu ingatkan sekali lagi siapa dirimu dan siapa pangeran itu. Kalian berdua itu berbeda. Kau adalah calon Ratu Mermaid. Dan pangeran vampir itu adalah calon Raja-dia memiliki kerajaannya sendiri. Kalian tidak mungkin bisa bersatu dengan posisi seperti itu."
Aqua mendengus, ekspresinya penuh perlawanan. "Aku tidak pernah menginginkan posisi ratu menggantikan ibu!"
"Aqua." Ratu Melisa menghela napas, suaranya melembut. "Kau satu-satunya putri ibu..."
Aqua menatap ibunya dengan sorot tajam. "Rius pasti akan sedih mendengar kata-kata barusan. Aku bukan satu-satunya putri ibu."
"Tapi Rius sudah menjadi ratu King Albartaz," Ratu Melisa bersikeras.
"Lantas, kenapa aku tidak bisa menjadi ratu Arkeolus di masa depan?"
Ratu Melisa membeku. Ia menatap Aqua seakan putrinya baru saja mengatakan sesuatu yang mustahil. "Aqua!"
Aqua menatap ibunya dengan tajam. "Rius mungkin bisa menerima perbedaan yang ibu berikan dalam mengasuh kami berdua sejak kecil. Tapi aku bukan Rius, Ibu. Aku tidak seperti Rius yang hanya akan diam saja. Aku adalah Aqua. Aku akan berontak selama aku bisa. Aku ingin memilih jalan hidupku sendiri!"
Aqua hendak berbalik pergi, namun suara Ratu Melisa kembali menghentikannya.
"Pangeran Arkeolus itu..."
Aqua menghentikan langkahnya, tapi tidak menoleh.
"Dia adalah putranya King Albartaz, kan?"
Aqua mengerutkan kening, masih belum mengerti ke mana arah pembicaraan ini.
"Bukankah itu artinya... Rius adalah ibu tiri bagi Pangeran Arkeolus saat ini?"
Aqua membeku di tempatnya.
Ratu Melisa menatap punggung putrinya. "Apakah kau tidak malu? Bersanding dengan anak tiri dari adikmu sendiri?"
Kata-kata itu menusuk jauh ke dalam hati Aqua, membuatnya menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia ingin membalas, ingin menyangkal, tapi tak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya.
Ratu Melisa telah memberikan kenyataan yang benar.
To be continued.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.